Aku, Khanza

Aku, Khanza
Lemah Di Luar Bukan Berarti Lemah Dalam Hidupnya...


...♡♡♡...


Tok Tok


"Masuk saja pintunya tidak di kunci," sahut Panji dari dalam ruangan rawat inapnya.


Ternyata yang mengetuk pintu ruangan tersebut ialah Yeni dan Yani mereka merupakan pengurus rumah keluarga Austin kini mereka di tugaskan untuk merawat Panji di rumah sakit karena waktu David juga Chelsea tidaklah banyak apalagi David sekarang lebih banyak kesibukan mengurus pembukaan cabang perusahaan kerjasama dengan negara Perancis begitupula dengan Chelsea yang tidak bisa stay merawat mertuanya di karenakan kesibukannya mengembangkan pruduk kosmetiknya di berbagai pelosok sedangkan Nathan juga harus mengikuti les tambahan itupun pulangnya sore.


Sementara itu Genji menjenguk Panji sebelumnya dia sempat pamit ingin balik ke jepang dalam beberapa bulan saja karena ada urusan mendadak yang harus dia kerjakan akan tetapi dia pastikan kembali untuk melanjutkan produk batik terbaru seusai Panji sembuh total itulah pesannya pada Panji sebelum pergi.


Yeap kini Panji merasa seorang diri dalam menjalankan aktifitasnya yang sebelumya selalu aktif dalam berbagai hal kini dia harus terbujur lemah dan kaku tanpa bisa berbuat apapun.


"Tuan ini sudah waktunya makan siang, mari tuan saya bantu untuk duduk," turut Yeni melontarkan senyum ramahnya pada Panji.


Sementara tampak Yani sedang membongkar baju dari tas bawaan mereka sebelumnya dari rumah.


"Tunggu dulu Yen karena tuan harus mengganti bajunya sebelum makan," imbuh Yani pula berjalan ke arah Yeni sambil membawa sebuah baju kemeja polos berkancing depan supaya mudah untuk memasangnya.


"Apakah kalian ingin mengganti baju ku?" tanya Panji seketika membuat keduanya saling bertatap mata.


"Iya tuan karena kami di tugaskan untuk merawat tuan di sini," jawab Yeni terdengar lembut berkata demikian.


"Biar aku sendiri saja yang memakainya, kalian keluarlah."


Sejenak tangan Panji bergerak ingin meraih baju yang ada di tangan Yani apalagi senyuman di balik bibirnya tampak jelas kalau Panji seolah berusaha terlihat baik-baik saja padahal di hatinya sudah berkecamuk melihat kondisi dirinya sendiri.


Dengan terpaksa Yani melepaskan baju yang ada di tangannya itu lalu Panji berusaha bergerak untuk melepaskan baju yang dia kenakan sekarang padahal di tangan kanan Panji masih terpasang alat infus dan sudah pasti lebih susah lagi jika tak ada yang membantunya.


Kemudian Yeni teringat seseorang sebelum mereka masuk ternyata ada Hardi yang menunggu di depan ruangan sedang berjaga.


"Tuan tunggulah sebentar jangan terlalu banyak bergerak," pinta Yeni menghentikan tangan kanan Panji walau harus memberanikan diri.


Sesaat Panji terdiam karena mendengar perkataan dari Yeni lalu setelah itu Yeni menarik langsung tangan Yani dengan membawanya ke arah luar pintu ruangan.


"Hei, kenapa kau membawaku keluar?" tanya Yani dengan bergumam perlahan merasa bingung dengan Yeni yang menariknya begitu saja.


Namun Yeni tak berbicara apapun ketika Yani bertanya dia masih terus menarik Yani hingga menuju pintu keluar.


Setelah perbincangan mereka bertiga di luar akhirnya Hardi masuk ke dalam ruangan dengan melihat Panji yang sedang berusaha membuka pakaiannya.


Hardi berlari kecil menuju ke arah Panji sambil meraih lengan Panji perlahan. "Maaf tuan karena saya sudah lancang masuk dan memegang tangan tuan tetapi saya ingin membantu tuan saja supaya tuan tidak banyak bergerak," sambut Hardi yang sigap memegang botol infus di tangannya.


"Aku merasa tubuhku sangat kaku jika tak di gerakkan jadi biarkan aku berusaha sendiri memakai bajuku," menolak dengan berusaha tersenyum padahal ia benar tak dapat melihat apapun.


Hardi melihat ke arah Panji dengan tatapan sedihnya karena dia baru pertama melihat Panji tersenyum padanya yang selama ini berbicara lebih dekat pun Hardi merasa segan.


"Baiklah saya hanya membantu tuan untuk memegang botol ini saja," turut Hardi sambil berkata demikian ia pun mengikuti gerakan tangan Panji sedikit demi sedikit baju yang di kenakan sebelumnya terlepas dan Panji tampak berusaha memasang baju yang ada di tangannya itu sehingga Hardi sesekali ingin membantu tetapi selalu di tampik oleh Panji namun Hardi hanya tersenyum kecil saja melihat kesungguhan Panji meski matanya tak bisa melihat sedikitpun.


Hmm tuan besar sangat mirip dengan tuan muda mereka seperti terlihat dari satu orang saja sama-sama ingin berusaha sendiri sebisa mungkin. Batin Hardi pula yang terus menatap Panji di depannya seolah dia melihat Nathan ketika melihat Panji begitulah sebaliknya sampai Hardi membuang nafas berulangkali dengan lontaran senyum tipisnya.


Begitulah jika melihat Panji pasti melihat Nathan karena memiliki kepribadian yang sama persis, sama-sama keras kepala dan tak mau mengandalkan orang lain bahkan berbudi luhur terhadap sesama akan tetapi David tidaklah sama dia hanya keras kepala saja untuk masalah kepribadian David sangat jauh berbeda dari keduanya sementara anak lelaki itu di turunkan sifatnya dari sang ayah namun ini tidak malah Nathan lah menurunkan sifat budi luhur dari sang kakek.


"Aku sudah selesai," cakap Panji menyentak lamunan Hardi sejenak


"Baiklah tuan kalau begitu saya pamit keluar," sahut Hardi sambil meletakkan kembali botol infus di tempat sebelumnya.


"Terima kasih Har," lontaran itu membuat Hardi berhenti seketika dalam langkahnya kemudian ia berbalik badan melihat Panji yang memandang dari arah lain.


"Sama-sama tuan karena itu sudah menjadi tugas saya untuk melaksanakan apapun yang tuan butuhkan dan semoga cepat sembuh tuan besar," cakap Hardi yang sangat bahagia terlihat dari raut wajahnya karena bisa berbicara langsung pada Panji apalagi dia merasa bahwa Panji merupakan sosok lelaki yang sangat mirip dengan mendiang ayahnya.


Tampak pula Panji anggukkan kepala mendengar ucapan dari Hardi kemudian tugas Hardi pun selesai ia kembali melangkah ke arah pintu luar dalam beberapa saat Yeni dan Yani masuk kembali ke ruangan sudah melihat Panji rapi dengan duduk berselonjor tertutup selimut tebal sampai ujung kakinya.


Dengan sigap Yeni meraih mangkuk yang sudah tersedia di atas meja berisi bubur lengkap dengan tambahan sayuran serta ikan sedangkan Yani tampak mengupas buah apel, jeruk, juga buah kiwi yang dia potong menjadi beberapa bagian.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Orang yang terlihat lemah di luar belum tentu lemah juga mentalnya karena seorang yang terbiasa keras dalam hidupnya sudah pasti dia bisa melakukan apapun untuk dirinya sendiri ❤️