
...♡♡♡...
Semua mata tertuju pada sosok lelaki yang berkata demikian sebab dari ucapannya mereka semua menjadi bingung sehingga terdiam seketika dan menoleh ke arah Nathan yang masih mengamati perawakan dari pakaian lelaki tersebut.
Tentu saja lelaki itu berasal dari suruhan Shopia untuk mencari info tentang kondisi Panji apalagi ia sangat berharap kalau Panji tidak akan terselamatkan oleh air keras itu sehingga ia menyuruh orang untuk mengorek lebih dalam informasi tersebut walaupun harus membayar mahal akan tetapi penyamaran lelaki itu sudah menjadi kecurigaan bagi Nathan.
Nathan masih saja terdiam sementara semua yang melihatnya merasa bingung dengan tatapan yang di lontarkan oleh Nathan berbeda dari sebelumnya bahkan tatapannya lebih tajam lagi sehingga membuat bulu kuduk jadi naik.
Nathan melangkah setapak mendekati arah gerbang.
"Tuan jangan keluar dari gerbang," teriak dari Ded serentak bersama dengan satpam penjaga rumah akan tetapi Nathan menjawab dengan isyarat tangannya lalu menoleh pada keduanya dengan lontaran senyum tipisnya sehingga keduanya terdiam seketika.
Kemudian Nathan kembali melangkah lagi sambil menatap ke arah lelaki yang sudah dia curigai sedari awal.
Gerbang pun terbuka lebar dan Nathan melenggang mendekat ke arah lelaki itu sambil tersenyum kecil padanya.
Seketika tangan Nathan menepuk pelan pundak lelaki itu secara berulang kali bahkan tampak ia mendekatkan mulutnya ke arah telinga lelaki tersebut. "Apakah kau mau penyamaran mu aku bongkar? dan apakah kau fikir aku bodoh?" sergah Nathan membisikkan tepat ke arah telinga lelaki tersebut namun lelaki itu masih saja berusaha terlihat tenang padahal di hatinya sudah amat gugup sekali ketika suara Nathan terdengar jelas oleh telinganya lalu ia mendorong Nathan kuat menjauh darinya.
"Aku tak mengerti maksud mu! jelas saja kau takut kalau kami akan menemukan bukti bahwa kakekmu sekarang sedang sekarat! iya, kan?" teriaknya pula dengan keras sambil menunjuk ke arah Nathan seolah menantang.
Tentu saja Nathan tertawa kecil melihat sikap lelaki itu karena sangat terlihat jelas oleh mata Nathan kalau dirinya sedang berusaha meyakini orang di sekitarnya bahwa ucapannya lah yang benar.
Sedangkan Nathan tampak mengatupkan kedua tangannya di dada sambil melihat jam yang mengikat di pergelangan tangannya. "Baiklah, aku masih ada waktu 15 menit untuk melayani mu! sekarang aku akan bertanya padamu, di mana kartu tanda pengenal mu? kenapa kau tak memakainya? aku melihat semua karyawan di sini memakainya dan hanya kau saja yang tidak ada," celoteh Nathan yang sengaja berkata demikian bahkan para wartawan itu saling berpandang satu sama lain sambil memegang kartu tanda pengenal dari perusahaan mereka.
"Iya, di mana tanda pengenal mu?" tanya salah satu lelaki yang memang sedang bertugas sebagai wartawan.
"Tentu saja tertinggal, aku lupa memakainya! apa kalian tak mengenali ku?" desaknya pula seolah dirinya merasa di sudutkan.
Semua wartawan itu tentu saja bergeleng kepala karena mereka memang tidak pernah bertemu lelaki itu sebelumnya.
"Dasar kalian payah, tentu saja aku tidak punya karena aku baru saja masuk hari ini," cocotnya pula seakan terlihat marah pada orang di sekelilingnya itu.
"Aku juga baru masuk tetapi langsung di berikan tanda pengenal," cakap seorang perempuan muda yang membuka suara karena dia juga merasa jengah mendengar teriakan dari lelaki tersebut.
"Pffftt, apakah kau sudah selesai bersandiwara?" ledek dari Nathan sengaja membuat lelaki tersebut jengkel padanya.
Kepalan tangan yang kuat tampak terlihat dari lelaki itu bahkan ia melontarkan tatapan tajam ke arah para wartawan.
Sial! kalau begini bisa habis aku dan tidak mungkin aku menang melawan mereka semua, gagal sudah aku menjalankan tugas ini. Batin lelaki tersebut berkata demikian tanpa dia sadari mata Nathan sudah tertuju pada dirinya karena ia tak tahu kalau Nathan bisa mendengar perkataan seseorang lewat hatinya saja.
Baru saja ingin melangkah berlari tiba-tiba Nathan menarik kerah belakang baju lelaki itu.
Krakk
Koyaklah kerah bajunya karena Nathan menariknya dengan kuat sehingga lelaki itu tak sempat kabur jauh.
"Sudah nyerah kah? makanya mau lari?" cibir Nathan pula dengan senyuman menyeringai di pinggir bibirnya.
"Lepaskan baju ku! dasar kurang ajar kau!" bentaknya pula namun bukannya Nathan takut pada dirinya bahkan semakin kuat Nathan menggenggam kerah bajunya.
Lelaki tersebut menggeliat akan tetapi Nathan masih tidak melepaskan genggaman tangannya di kerah baju sang lelaki walau bagaimana pun dia berusaha tetap tidak akan di lepaskan begitu saja oleh Nathan.
"Semakin kau memberontak maka aku tidak akan segan untuk merobek seluruh baju mu ini," kata Nathan pula bernada sedikit keras lalu ia memetik jemari tangannya berulangkali sambil menyebut nama Ded tanpa menoleh.
Setelah Ded mendengar panggilan dari Nathan ia pun bergegas lari dengan cepat ke arah Nathan lalu sesampainya Ded di tempat, Nathan menoleh langsung ke arah Ded.
"Bawa dia masuk ke dalam!" titah Nathan dengan sorotan matanya yang sangat mengerikan.
"Baik tuan serahkan pada saya."
Ded pun meraih kerah baju lelaki tersebut kemudian Nathan melepaskan tangannya dan menyibakkan kedua tangannya lalu menoleh pada para wartawan yang masih saja terdiam tak berkutik seolah mereka tak berani melihat tatapan dingin Nathan itu.
"Kalian semua sudah boleh kembali, masih ada tugas yang menanti kalian," cakap Nathan terdengar ramah namun masih membuat semua yang melihatnya tak berani menatap.
Beberapa saat Nathan tersenyum tipis lalu ia berbalik badan dan berjalan ke arah gerbang serta di susul oleh Ded sambil membawa lelaki tersebut bersamanya.
Tak lupa juga Ded menutup kembali gerbangnya dengan rapat dan mengejar Nathan yang sudah berjalan di depannya dalam beberapa menit para wartawan bubar karena mereka sudah tak berani untuk menentang Nathan lagi.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Air yang tenang jangan kau usik sebab akan membuat dirimu terhanyut di dalamnya ❤️