Aku, Khanza

Aku, Khanza
Teman Pertama Dan Terakhir


...โ™กโ™กโ™ก...


๐Ÿ Sekarang perubahan nama Alsha akan di mulai dari sini, jadi Alsha yang dahulu sudah tidak ada lagi semenjak dirinya tinggal bersama nek Raya, kini ia merubah namanya menjadi Khanza ๐Ÿ


Cip Cip


Kicuan burung yang hinggap di atas tangan Alsha ketika dia duduk sendiri di depan pintu gubuk rumah nek Raya karena adiknya dan nek Raya sedang mengantar hasil belinjo ke pabrik untuk menyambung hidup..


"Hei, apa kau sedang lapar?" tanya Khanza pula tersenyum melihat burung kecil itu hinggap padanya. "Tunggulah di sini aku akan mengambilkan sesuatu untukmu!" gumam Khanza langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam rumah.


Sesampainya Khanza di dapur ia mulai bingung sekali karena tata letak yang begitu berantakan membuat dirinya merasa sedih dengan kondisi nek Raya yang menjalani hidup seorang diri tanpa adanya satupun menemani, bahkan ia sempat berfikir apabila sudah sukses nantinya akan membahagiakan nek Raya yang sudah mau menampung dirinya juga Zizi.


Krasak Krusuk


Khanza dengan sibuknya mencari sesuatu yang bisa dia berikan untuk burung kecil tadi, sampai dia menemukan sebungkus roti terselip di dalam lemari lusuh nek Raya, betapa senangnya dia setelah mendapatkan makanan untuk si burung.


Akhirnya Khanza berjalan ke depan sambil membawa sebungkus roti yang dia dapati.


Pluuk


Burung yang sedang menunggunya terkulai lemas tidak seperti sebelumnya.


Ternyata burung itu sedari awal sudah sakit makanya dia bisa tenang di tangan Khanza awalnya, biasa burung tidak pernah tenang kalau tersentuh oleh tangan manusia.


"Hei, kau kenapa? apa kau sedang sakit?" bergumam sambil terlihat panik melihat kondisi burung tersebut.


Seketika mata burung itu tertutup rapat walaupun di gerakkan oleh Khanza tidak ada reaksi sama sekali, akhirnya dia mengetahui kalau burung itu sudah mati dan tepat di atas tangannya.


Tampak raut wajah Khanza yang sedih sesaat dia bangkit dari tumpuan kakinya sambil menggenggam erat burung kecil tadi dan mencari tempat untuk menguburkan burung tersebut.


Khanza memakai sendal jepit kemudian menutup rapat pintu gubuk setelah itu barulah dia berjalan sambil celingukan, seharusnya dia bisa menguburkan di sekitar gubuk tetapi tidak memungkinkan karena lebih banyak bebatuan daripada tanah.


Setelah ia berjalan sejauh beberapa meter dari arah gubuk barulah dia menemukan sebidang tanah yang di kelilingi oleh rerumputan tampak luas sekali karena pemiliknya ingin menjual tanah tersebut tapi belum terjual makanya terlihat begitu semak tak terawat.


"Baiklah, aku akan menguburkan mu di sini burung kecil," ucap Khanza berbicara sambil tersenyum puas sudah mendapatkan tempat yang nyaman untuk burung tersebut sebagai tanda pertemanan pertama kali saat burung itu hinggap di kala dia kesepian walau datang hanya sesaat saja.


Khanza mengorek tanah memakai tangannya sendiri sampai burung itu muat dengan tubuhnya hingga masuk ke dalam.


"Selamat tinggal burung kecil," lirih Khanza tersenyum setelah ia selesai menimbun tanah menutupi seluruh tubuh si burung.


Sungguh berjiwa besar sekali Khanza terhadap hal apapun ia mampu melakukan dengan tangannya sendiri tanpa ada paksaan siapa pun meskipun masih banyak sebagian orang yang tidak menyukai dirinya termasuk Shopia juga ibu yang dia anggap sebagai malaikat penolongnya tega membuangnya begitu saja tanpa belas kasihan terhadapnya juga sang adik itulah fikir Khanza yang sedari tadi membuang nafas kasar mengingat cerita dari Zizi sebelumnya.


Khanza mulai berbalik arah untuk pulang kembali ke gubuk, sebelum dia melangkah pergi dirinya sempat melihat dari kejauhan sepasang anak dan ibu sedang masuk ke dalam sebuah toko penjual bolu tart sambil bergandeng tangan terlihat keduanya sangat menikmati sekali kebersamaan itu walau hanya sekedar pegangan tangan saja, sejenak Khanza tertunduk lesu mengingat Hayati kembali di saat dirinya kecil Hayati begitu menyayangi dirinya.


"Apa yang sedang aku fikirkan? tidak mungkin lagi aku mendapatkan kebahagiaan itu kembali, jangan menghayal Khanza kau sekarang sedang berjuang untuk diri mu dan adikmu saat ini," gumam Khanza menepuk pelan dahinya supaya dia sadar dengan lamunannya itu.


Sekilas Khanza melihat seorang bocah laki-laki sedang terduduk di pinggir jalan dengan memegang sebuah koran begitu penuh sekali.


Kemudian Khanza mulai berjalan mendekati bocah lelaki tersebut karena memang dirinya saat ini sedang berada di ruas jalan sedikit jauh dari gubuk bahkan dia memberi tanda pada jalan yang dia lewati takutnya nyasar tidak bisa kembali pulang.


Sesampainya Khanza di dekat anak tadi, ia pun ikut duduk bersebelahan.


"Halo adik, kamu sedang apa?" tegur Khanza terdengar ramah sekali sambil melontarkan senyum kecilnya.


Namun anak kecil itu tidak menjawab pertanyaan Khanza malah hanya membalas dengan senyuman kecil yang sangat manis.


"Apa kau lelah? makanya kau terduduk di sini?" berusaha bertanya lagi supaya anak tersebut mau berbicara padanya.


Lagi-lagi si bocah hanya memberi isyarat dan anggukan kepala tanpa terdengar suaranya.


Kini Khanza mulai penasaran kenapa anak itu tidak mau membalas pertanyaan darinya.


Si anak tadi meletakkan koran yang dia pegang ke arah samping tempat duduknya.


Mulai bermainlah jemari tangannya di karenakan dia bisu sejak lahir dari situlah Khanza tahu kalau anak tersebut tidak bisa berbicara.


Khanza tidak mengerti bahasa tubuh seperti itu, makanya dia hanya anggukkan kepala saja membalas dengan senyum cerianya menandakan dia senang bisa berkenalan dengan bocah tersebut.


Perbincangan yang hangat mulai di rasakan kembali oleh Khanza apalagi dia sampai kagum melihat anak sekecil itu sudah mau bekerja keras tanpa meminta belas kasihan dari orang lain.


Tidak seperti kebanyakan anak lainnya yang hanya mengandalkan uang orang tua mereka, lamunan itu terjadi saat anak tersebut berbicara menggunakan bahasa tubuhnya.


^^^To be continued^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^


...Kutipan :...


Mereka yang bisa menjujung tinggi harga diri ialah mereka yang akan sukses ke depannya tanpa campur tangan orang lain, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan yang berada di bawahโค๏ธ