Aku, Khanza

Aku, Khanza
Balasan Yang Setimpal...


...❁❁❁...


Cerita flashback dari Panji dan Shopia sudah selesai karena dari chapter sebelumnya Nathan sudah berhasil menyelamatkan Alsha dari para preman itu serta ia juga membawa pulang kakeknya bersamaan dengan Alsha apalagi orangtua Nathan juga akan pulang di mana hari Panji di temukan oleh Nathan bahkan mereka terdengar bahagia jika Panji dalam keadaan baik-baik saja walaupun mereka sempat berbicara pada Panji lewat ponsel milik Nathan.


Yeap keluarga Austin kini sudah lengkap saat Panji di bawa pulang ke rumah oleh Nathan bahkan semua orang yang ada di rumah saat itu teramat senang ketika melihat Panji ada di sebelah Nathan dalam keadaan yang sehat.


...❁❁❁...


🌸KITA KEMBALI LAGI KE CHAPTER 75 SAAT NATHAN DAN KAKEKNYA SEDANG BERADA DI DALAM MOBIL🌸


Sejenak Nathan terdiam setelah ia melihat foto Shopia yang ada di laptopnya saat ini sehingga ia sempat melupakan sesuatu akibat dirinya sibuk mencari keberadaan Khanza.


"Kek, apa kakek masih ingat tentang kejadian di restoran? saat kakek di siram air keras oleh seorang pelayan yang mengaku membenci kakek dan sekarang dia masih ada di dalam tahanan, kan?" tanya Nathan pula menoleh pada kakeknya yang masih menatap ke arah laptop Nathan.


"Ya kakek masih ingat wanita itu, memangnya kenapa Nat? bukankah dia mengatakan membenci kakek? karena papa mu sudah menceritakan pada kakek saat berada di rumah sakit," kata kakeknya pula yang merasa aneh melihat keseriusan dari wajah Nathan.


"Aku sempat berbicara dengan wanita ini kek," ungkapnya pula dengan menunjuk ke arah foto Shopia yang ada di dalam laptopnya itu. "Aku memergokinya sedang berbicara dengan seorang pelayan karena dari jarak yang jauh aku tak mendengar pembicaraan mereka lalu aku juga melihat dia memberikan amplop yang aku tidak tahu isinya apa dan setelah aku bertanya padanya dia hanya mengelak tetapi aku masih ingat dengan wajah pelayan itu walau sekilas," timpalnya berbicara panjang lebar sehingga kakeknya dengan serius mendengarnya.


"Apa kau memang benar ingat wajah pelayan itu?" tanya kakeknya pula memastikan kembali.


Nathan pun anggukkan kepala sesekali. "Saat kakek sedang di operasi aku dan papa ke kantor polisi ingin menginterogasinya tetapi sayang sekali wajahnya terlihat babak belur sehingga aku tak dapat mengenalinya," ungkapnya lagi. "Aku ingin menemuinya sekali lagi kek, semoga saja wajahnya tak seperti yang kemarin dan aku ingin memastikan sesuatu lewat wanita itu," lanjutnya dengan menoleh ke arah kakeknya secara tegas.


"Apa kau ingin ke kantor polisi?" tanya sang kakek terlihat ragu.


Terlihat Nathan anggukkan kepala dengan cepat sehingga kakeknya tak dapat menolak permintaan cucunya itu.


"Baiklah, apa kau tahu arahnya dari jalan ini?" bertanya lagi lalu sang kakek merunduk sedikit melihat ke luar kaca mobil.


"Ya, nanti kita belok kiri saja karena aku masih ingat jalannya," jawabnya pula yang mengikuti kakeknya dengan memperhatikan sisi jalan dari kaca yang ada di sebelah tempat duduknya.


"Wan nanti kita ambil kiri setelah jalan ini ya," titah Panji serta menunjuk ke arah yang dia maksud.


"Baik tuan," patuh si sopir pula.


Mobil pun terus melaju ke arah tujuan yang di perintahkan oleh Panji lalu setelah belok kiri terdapat persimpangan tiga dengan jalur kanan, kiri dan lurus.


"Ambil jalan lurus saja," jawab Nathan seketika yang tampak masih fokus melihat layar laptopnya itu.


Karena perintah dari Nathan maka sopir itu mengambil jalan lurus dengan fokus menyetir tanpa bertanya lagi.


Dalam beberapa menit tampaklah sebuah kantor polisi.


"Apa itu tempatnya tuan?" tanya si sopir lagi.


"Benar itu Nat?" kakeknya juga ikut bertanya.


"Ya benar ini tempatnya," jawab Nathan anggukan kepala lalu ia menutup laptopnya dan memasukkan kembali ke dalam tas.


"Parkirkan saja mobilnya ke arah sana Wan," tunjuk Panji tepat ke arah sisi samping kantor.


"Siap tuan," patuhnya pula serta ia lajukan mobil ke arah parkiran.


Setelah mobil berhenti keduanya pun turun secara bersamaan namun si sopir hanya menunggu di dalam mobil karena Panji menyuruhnya untuk tetap berjaga di dalam mobil saja.


Nathan dan kakeknya berjalan ke arah dalam kantor tersebut kemudian mereka menemui salah satu petugas yang sedang sibuk dengan komputernya namun Nathan tampak menegur petugas tadi dengan meminta untuk di berikan waktu bertemu pada tahanan yang memiliki kasus penyiraman air keras beberapa bulan silam akan tetapi dari pengakuan petugas tersebut si pelaku sudah kehilangan kewarasannya/gila karena sejak ia mendengar kabar ayahnya meninggal tidak berapa lama ia sering mengamuk sendiri dan jika di dekati oleh salah satu tahanan selnya ia selalu menjerit hingga ia berani mencekik leher orang yang ada di dekatnya.


Pihak atasan mereka memerintahkan untuk di bawa ke rumah sakit jiwa supaya tidak ada keributan di dalam tahanan sebab hampir setiap harinya dia menjerit hingga menangis seketika membuat keadaan semakin ricuh makanya tidak mungkin dia di biarkan begitu saja di dalam tahanan jika keadaannya seperti itu, yeap begitulah pengakuan dari petugas tadi membuat Nathan merasa tidak percaya namun tak mungkin petugas itu membohonginya itulah fikir Nathan.


Setelah beberapa saat perbincangan selesai akhirnya Panji dan Nathan keluar dari kantor sehingga tampak wajah Nathan tak bersemangat sebab sudah sangat mustahil baginya untuk bertanya pada wanita itu karena dia berniat untuk menunjukkan foto Shopia yang ia simpan dalam laptopnya tadi.


^^^To be continued ^^^


^^^ 🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Buah kesabaran akan mendapatkan hasil yang baik jadi teruslah berprasangka baik pada tuhan mu ❤️


^^^ ^^^