Aku, Khanza

Aku, Khanza
Lingkup Kehidupan


🍁🍁🍁


Sudah 2 Minggu berlalu pak adam menghilang tidak tahu perginya entah kemana bahkan tak satupun orang yang mendengar kabarnya, begitu pula pada Hayati semenjak dia kabur dari rumah hendak melaporkan mertua dan suaminya na'as Hayati tertangkap oleh Kino sang suami saat dia ingin melarikan diri.


Kini Hayati di kurung dalam sebuah gudang bahkan di pasung kakinya sungguh betapa kejinya perbuatan mertua dan suaminya sendiri yang tega membiarkan istrinya di perlakukan seperti itu oleh ibunya.


"Ma hari ini Hayati juga tidak mau makan," kata Kino yang membawa kembali nasi bercampur lauk serta susu putih untuk Hayati.


"Biarkan saja! sampai kapan dia mau bertahan lama kalau tidak makan," santainya sang ibu berkata demikian sambil menyeruput teh hijaunya.


Kini mereka memakai seorang pembantu semenjak Hayati di kurung.


"Ma, apa kita tidak terlalu kejam pada Hayati?" tanya Kino yang membuat sang ibu langsung menatapnya tajam.


"Apa kau mau membebaskan dia? atau kau mau masuk ke dalam sel tahanan?" gertak ibunya pula hingga Kino belalakkan mata terlihat takut.


"Tidak akan! bisa hancur masa depanku," ujar Kino pula. "Ma aku sudah di pecat dari tugasku karena aku ketahuan menggelapkan uang kantor jadi pangkatku di cabut," ucap Kino sambil meletakkan piring di atas meja tampak wajah muram.


"Apa?"


Shopia teriak dan terkejut bukan kepalang.


"Duh mam, budek ini telinga ku tidak perlu teriak terlalu keras begitu." Kino menggerutu dan menghembus kedua telinganya secara bersamaan.


"Kau itu ceroboh sekali? kan sudah mama bilang jangan sampai ketauan kalau sudah begini kau dapat penghasilan darimana?" tanya sang ibu pula kini dia berdiri dari kursinya mengurut dahi sembari memejam mata sejenak.


"Mam kita jual saja rumah mama itu! kan mama juga tinggal di sini apalagi rumah kontrakan mama juga banyak," usul Kino pula yang terdengar asal.


Shopia menaikkan sebelah alis matanya.


Pletak


Kino di jitak oleh mamanya sendiri karena memberi usul yang membuatnya tidak bisa di terima.


"Enak saja kau bilang! rumah itu peninggalan dari papa mu, apa kau tidak ingat? atau kau pura-pura lupa Kino?" tanya ibunya yang menggeram terlihat menggertakkan giginya.


"Terus kita harus bagaimana? tidak mungkin hanya mengharapkan dari uang kontrakan rumah mama!" keluh Kino berbalik badan terdengar putus asa.


"Apa kau mau tahu, bagaimana kita hidup kedepannya? sini mama bisikkan ke telingamu," mulai bermain jari telunjuk ibunya hingga tersenyum karena memiliki ide cemerlang.


Kino pun mendekatkan telinganya ke arah sang ibu.


Setelah ia membisikkan sesuatu pada Kino sejenak sang anak mengeluarkan tatapan berbinar di matanya merasa kalau ide sang mama membuatnya semangat kembali.


"Ma, ide mama brilian! kalau begini aku bisa membangun perusahaan sendiri," antusias Kino saat berkata demikian sehingga ia yakin kalau ide sang mama akan membuatnya mewujudkan keinginan dirinya tanpa menjual rumah peninggalan ayahnya.


"Sekarang kau jangan mengeluh lagi, cepat kau berberes sana! mama tunggu di sini." Perintah ibunya terdengar sedikit keras.


"Oke mam, aku bersiap dulu." Kino langsung sigap dan berlalu pergi ia tampak bersiul sangking gembiranya.


.


.


.


"Mmmmmhhhh."


"Ssstt diam anak baik, om tidak akan berbuat jahat padamu."


Seseorang telah mendekap mulut anak kecil berusia 6 tahun.


Brakk


Pintu di sebuah rumah besar terlihat di tinggalkan oleh pemiliknya kini menjadi sarang untuk para bandit mengurung anak kecil mulai dari usia 5 tahun hingga 10 tahun.


"Bos, hari ini aku dapat anak orang tajir." kata seorang lelaki pada atasannya.


"Dam apa kau masih kaku bekerja denganku?"


"Tidak bos! aku suka pekerjaan ini karena sudah lama aku hidup susah tanpa istri dan anak, sekarang aku bisa bebas lakukan yang aku mau!" katanya pula dengan meyakinkan bosnya itu.


"Apa kau seyakin itu? tidakkah kau punya 2 anak?" bertanya demikian namun tetap tidak mengubah pendirian lelaki tersebut.


"Anakku sudah melupakan ku, bahkan semua surat yang aku kirim tidak ada balasan sama sekali dan ketika aku jatuh sakit saat membutuhkan biaya tidak ada yang menolongku! kalau tidak karena bantuan bos mungkin aku sudah mati saat ini," katanya lagi terlihat begitu kesal dan penuh amarah tampak jelas di balik wajahnya.


"Bagus! sekarang kau berhutang budi padaku, apapun yang terjadi kau jangan membuka suara jika kau tertangkap dengan pekerjaan ini," ia menepuk kedua pundak lelaki itu dan tersenyum kecil sedikit memberi peringatan.


"Bos jangan khawatir, semua resiko dan konsekuensinya akan aku terima sendiri dan aku akan setia pada bos sampai akhir." Perkataan itu terlontar dengan tegas dan lantang membuat bos nya tersenyum lebar dan puas atas jawaban lelaki tersebut.


Lelaki yang menjadi kawanan bandit untuk menculik anak kecil itu ialah pak adam ia mengubah semua penampilannya menjadi selaras dengan para bandit itu, bahkan dia juga mengganti namanya sendiri supaya tidak di kenal oleh orang lain apalagi kerjaannya sekarang hanya membuat onar, menculik, mabukan, hingga berjudi untuk memuaskan dirinya sesaat.


Dia sungguh berubah total semenjak ia di tolong oleh bos yang dia anggap sebagai dewa penolong untuknya dan semua yang ada di dalam diri pak Adam sudah benar-benar tidak terlihat lagi sekarang dirinya sudah lebih bringas tampak sangat ganas, sungguh tidak memiliki kemurahan hati pada siapapun yang menghalangi jalannya.


Anak-anak yang mereka culik berasal dari kalangan atas adapula orangtua yang tidak perduli pada anaknya karena mereka minta uang tebusan dan adapula harus memberi uang tebusan sesuai yang mereka inginkan apalagi tebusan yang mereka minta bukan jumlah kecil, bahkan mencapai ratusan juta rupiah, bagi yang tidak ingin menebusnya anak-anak tersebut mereka jual dengan harga bernilai tinggi.


...........


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Kalau hati sudah tertutup apapun yang di lakukan menjadi benar dan yang benar tidak akan terlihat lagi ❤️


TETAP IKUTI TERUS CERITA AKU,KHANZA