
...♡♡♡...
Pesan dari Khanza supaya tetap kuat dan tegar dalam kehidupan :
Di dalam ruang yang telah usang
Dengan kebahagiaan yang mulai hilang
Betapa hidupku kini menjadi malang
Mereka butuh makan
Mereka butuh cadangan
Sebentar, itulah yang selalu aku katakan
Adakalanya aku sering merasa lelah untuk mencari
Namun bagaimana dengan adik-adik ku?
Aku harus kuat...
Berjuang sebagai seorang kakak
Adalah tugas ku untuk mereka
Meskipun kaki ku sering kesakitan dalam mencapainya
Namun inilah kehidupan, semoga mereka selalu bahagia
Aku harus kuat...
Sebagai kakak, aku akan berjanji untuk membuat mereka bangga
Aku akan berjuang demi hidup yang lebih tertata
Hingga aku menutup usia nantinya
...****...
Tepat di pinggiran jalan lalu lintas tempat pemberhentian kendaraan tampak ketiganya sedang duduk di bawah pohon rindang untuk menutupi diri dari cuaca yang panas sebab mereka ingin menikmati sarapan sekaligus makan siang karena uang mereka tidak akan cukup jika harus membeli makanan berulang kali.
Yeap, baik Khanza dan Zizi maupun Taro sedang menikmati nasi bungkus untuk bertiga karena Taro sudah memungut uang yang di lempar oleh Dani malam itu, namun di saat Taro sedang di obati oleh Khanza lalu ia pun langsung tertidur pulas maka dari itu ia memberikan uang tersebut saat mereka hendak berangkat pergi untuk menjual koran pagi harinya apalagi mereka tidak ada mengisi perut ketika malam itu sebab Khanza tak memegang uang sedikitpun lagipula ia tak tahu kalau Taro sudah mengambil uangnya makanya Khanza bertahan menahan kelaparan begitu juga dengan Zizi yang tak mungkin merengek walau harus menahan sampai besok pagi.
Hap Hap
Nyam
Nyamm
Terdengar jelas pula suara kunyahan dari mulut Zizi dan Taro sebab mereka tampak sudah kelaparan sehingga Khanza berusaha mengalah memperlambat kunyahan di mulutnya itu karena ia sangat senang jika adik-adiknya merasa kenyang walau dirinya harus menahan lapar kembali.
"Kakak tidak makan? kenapa dari tadi lama sekali mengunyah?" tanya Zizi pula seketika namun tak terdengar jelas oleh Khanza sebab di mulut Zizi masih penuh dengan nasi.
Taro pun memberikan kedua jempolnya serta melontarkan senyuman ceria di wajahnya kepada mereka berdua dan tak berapa lama Taro mengambil nasi melalui tangannya serta ia arahkan ke Khanza seketika.
Kini mulut Taro menganga menandakan Khanza harus membuka mulutnya sebab ia ingin menyuapi Khanza dengan tangannya sendiri.
"Sudah kau saja makan dan kakak juga sudah kenyang nah! cobalah kau lihat perut kakak sudah besar begini," selorohnya pula sembari menepuk-nepuk perutnya sendiri lalu tertawa kecil akan tetapi Taro malah bergeleng kepala serta ia mendekatkan kembali tangannya ke arah mulut Khanza sambil memohon dengan raut wajah yang sedih.
"Hmmh." Khanza menghela nafas pelan.
Karena Khanza tak bisa melihat raut wajah seperti itu sebab sangat persis dengan adiknya jika sudah memohon padanya sehingga akhirnya Khanza membuka mulut perlahan lalu terlontar senyuman manis di wajah Zizi juga Taro ketika Khanza mengunyah nasi yang masuk ke mulutnya melalui tangan Taro.
Saat ini kendaraan sedang berhenti di karenakan lampu merah namun ketiganya sedang asyik makan serta tawa-an canda apalagi Taro berbuat konyol dengan meniru gaya kancil bahkan yang lainnya juga ia bisa melakukannya sehingga tertawa lah Zizi dan Khanza melihat tingkah Taro seperti itu.
"Ma, kenapa kita naik taksi? aku mau bawa mobil tapi mama tidak mengizinkan kenapa sih ma?" gerutu Kino mengerutkan wajahnya pula.
"Itu mobil akan mama jual untuk menukar dengan yang baru lagian uang ini juga sebentar lagi akan cair supaya bisa menambah kekurangannya," jawab ibunya dengan santai sehingga tampak lah wajah Kino yang teramat senang.
"Benar kah ma? aku boleh memakainya juga, kan?" bertanya lagi dengan nada yang riuh karena mendengar ucapan ibunya barusan.
"Sudah pasti kau yang membawa mobilnya jika mama mau pergi," balasnya dengan menyeringai sembari melipat tangan di dada serta kakinya di angkat ke atas kaki satunya.
Berarti aku supir dong? dasar nenek sihir pandai sekali memperalat orang lain! batin Kino yang tak sadar berucap di hatinya demikian sebab ia tak pernah berfikir seperti itu sebelumnya.
"Oh iya kau tadi sudah ke kamar Hayati? apa dia masih hidup? bukankah kau bilang dia tak mau makan?" tanya sang ibu menoleh ke arah Kino yang tampak menatapnya dengan sinis.
"Pagi ini aku tak ada ke kamarnya dan dia masih hidup ma lagipula dia tak akan mati jika anak gembel itu belum dia temukan, ya begitulah yang dia katakan padaku berulang kali," jawab Kino dengan santainya.
"Apa Guntur ada menghubungi mu? sampai sekarang dia belum ada kabarnya tentang anak-ank gembel itu," lanjutnya lagi sembari melihat ke arah kaca mobil menatap ke luar.
Yeap, Shopia menautkan ke dua alis matanya serta menatap lebih jelas lagi dari celah mobil yang sedang berhenti karena lampu merah masih berjalan.
"Kino! cepat ke sini, bukankah itu anak-anak gembel yang di rawat Hayati?" lontar ibunya dengan melebarkan mata sambil menatap ke arah luar kaca terus sehingga Kino pun ikut bergerak mendekat ke arah ibunya.
"Ya ma, mama tidak salah! itu benar mereka."
Kino dengan semangatnya anggukkan kepala berulang kali sehingga ia pun tertawa senang sebab sudah menemukan Khanza juga Zizi untuk merampas harta milik Hayati kembali.
"Pak, kami turun di sini saja ini uangnya!" ucap Kino pula sembari memberi uang kepada sopir tersebut.
"Terima kasih tuan," sambut si sopir pula.
"Ayo ma kita keluar," ajak Kino dengan nada yang tak sabaran lagi sehingga ia pun membuka pintu mobil taksi lalu di ikuti oleh Shopia dan kini mereka berdua sudah ada di luar sembari berjalan ke arah Khanza dengan langkah yang cepat.
"Halo anak-anak gembel... Sudah lama kita tak bertemu ternyata kalian masih hidup," tegur Shopia sedari dekat dengan nada yang santai sehingga senyum tipisnya terlihat jelas serta ia melipat tangan di dadanya dan ketukan sepatu high heels terdengar di telinga Khanza.
^^^To be continued ^^^
^^^ 🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan : ...
Tong kosong nyaring bunyinya begitulah kesan untuk orang yang tak sadar dengan ucapan serta perbuatannya tertuju untuk dirinya sendiri ❤️