
πππ
Hujan telah kunjung reda namun rintikan masih terasa dengan jelas telah banyak jalan yang di lalui Hayati apalagi di saat itu dirinya benar-benar sangat merasa lapar tapi ia tahankan demi mencari Alsha begitu banyak orang yang dia perhatikan tetap saja belum menunjukkan tanda-tanda di mana keberadaan Alsha.
Karena lelah Zizi malah ketiduran di bangku mobil dengan keadaan jempol tangan masih ada di dalam mulut, Hayati mulai di ambang rasa keresahan yang tak dapat ia elakkan apalagi Zizi terus bertanya tentang kakaknya tanpa berfikir banyak lagi Hayati berbalik arah untuk mengunjungi kantor polisi terdekat ingin memberi laporan hilangnya Alsha mungkin Hayati sudah pasrah karena belum juga bertemu dengan Alsha hingga malam.
Mobil sedan berwarna hitam terparkir di depan kantor polisi, Hayati pun dengan cepat membuka salt beltnya dan langsung sigap keluar dia tak ingin membangunkan Zizi yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Hayati melenggang masuk ke dalam kantor itu ia sempat menemukan petugas yang sedang menulis sesuatu di atas kertas karena ada seorang wanita melaporkan kasus tabrak lari hingga anaknya tewas di tempat.
Mendengar ucapan wanita itu Hayati terenyuh dan memegang sebuah kursi tepat berada di belakangnya hingga kakinya mulai lemas karena ia juga kehilangan Alsha yang sudah sedari tadi dia cari rasa cemas mulai bertambah di dalam diri Hayati, malah dia sempat berfikir hal yang aneh. Jika saja Alsha dalam keadaan tidak baik, jika saja Alsha sedang dalam masalah dan mungkin saja akan terjadi hal serupa dengan kasus wanita yang ada di depannya saat ini pikiran Hayati bercampur aduk hingga alisnya saling betautan.
Setelah wanita itu pergi dari tempatnya kemudian Hayati berusaha bergerak untuk duduk di depan petugas itu.
"Selamat malam apa yang bisa saya bantu?" tanya petugas bernama Herman.
"Pak saya ingin melaporkan anak saya yang telah hilang," turut Hayati dengan nada lirih.
"Siapa nama anak anda?" sahut Herman seketika.
"Khanza Alesha dia anak berumur 15 tahun pak," jawab Hayati kembali.
"Kapan hilangnya anak anda?" tanya Herman lagi sambil menuliskan nama Alsha di atas selembar kertas miliknya.
"Saya tidak tahu kapan yang pasti saat jam 3 siang tadi saya pulang anak saya sudah tidak ada di rumah," pekik Hayati terdengar lirih.
"Apa di rumah anda ada orang yang tinggal selain anda?" tanya Herman lagi.
Mengingat ibu mertua yang memiliki perangai seperti itu Hayati menjadi bingung dengan pertanyaan petugas Herman malah dirinya sempat bertengkar akibat bertanya tentang Alsha.
"Ada pak ibu mertua saya sedang berada di rumah sejak itu," imbuh Hayati pula.
"Berarti anak anda pergi pasti pamit pada neneknya dan bisa saja dia pergi ke rumah temannya atau di suruh membeli sesuatu oleh mertua anda."
Setelah ucapan itu Hayati sontak mendengarnya.
Alsha bahkan tidak punya nenek dia hanya punya saya di rumah itu, batin Hayati begitu menahan sesak di dadanya.
"Alamat anda di mana? karena kami akan datang besok hari untuk meminta keterangan lebih lanjut dari ibu mertua anda," sambungnya lagi membuat Hayati terkejut.
"Apa ibu mertua saya di investigasi pak?" tanya Hayati dengan cepat.
"Kami akan bertanya dengan santai saja anda tidak perlu khawatir karena itu sudah menjadi bagian tugas kami," imbuh Herman pula meyakini Hayati.
"Alamat saya jalan Babakan Ciparay nomor 282 Bandung 40223." Hayati masih terlihat enggan memberikan alamat rumahnya karena dia juga takut kalau darah tinggi ibu mertuanya kambuh lagi.
"Pak saya minta tolong ibu mertua saya jangan terlalu di tekan saat bapak bertanya padanya," pesan Hayati pula bernada rendah terdengar memohon.
"Baik anda tidak perlu cemas akan hal itu," turut Herman angguk perlahan.
"Terimakasih pak sudah mau membantu saya kalau begitu sekarang saya pamit dulu." Hayati bangkit dari duduknya sambil bungkuk pelan.
"Ya silahkan," kata Herman lagi merundukkan kepala sedikit.
Hayati melangkah keluar dari kantor itu dengan hati sedikit lega karena ia akan segera menemui Alsha kembali.
Kegelisahan Hayati sedikit berkurang saat dirinya berhasil memberikan keterangan tentang hilangnya Alsha ia pun masuk kembali dalam mobilnya dan memberikan lontaran manis saat melihat Zizi terlelap begitu polosnya dia juga mencium kening Zizi begitu penuh kasih sayang hingga melepaskan jempol Zizi yang sebelumnya masih melekat di dalam mulutnya.
"Kalian berdua anak bunda yang paling bunda sayangi kalian semangat yang selalu hadir di dalam hidup bunda karena kalian anak yang sangat baik, maafkan bunda tidak bisa menjaga kak Alsha Zi."
Cup
Kecupan yang di barengi dengan tetesan air mata membuat suasana haru seketika ia mulai mendekap tubuh kecil Zizi dengan hangatnya bak pasangan ibu dan anak kandung.
..........
Kelanjutan kisah mereka akan semakin lebih menegangkan dan penuh kepiluan. terus ikuti kisah sepasang saudara iniβ€οΈ jangan sampai ketinggalan β€οΈ
^^^To be continued^^^
^^^π aiiWa π^^^