
🍁🍁🍁
Klakk
Kreeekk
Terbukalah pintu rumah kediaman Alsha seketika saat seseorang membuka kuncinya.
"Syukurlah kunci cadangan ada di pegang sama pemilik rumah ini jadinya kalian bisa masuk tanpa mendobrak pintunya," kata pak lurah pula menoleh pada Devan dan Amel yang berdiri di belakangnya.
"Terimakasih pak sudah membantu kami," turut keduanya dengan kompak hingga bungkuk bersamaan tampak sangat sopan.
"Baiklah saya tinggal dulu ya, karena saya masih ada pekerjaan lain yang harus saya selesaikan." Katanya lagi sambil membenarkan kerah baju dinasnya.
Sementara itu yang mengantar mereka yaitu anak dari pak tua yang pertama kali mereka temui di balai desa, mereka juga sempat berfikir kalau pak tua itu kepala desa di kampung Alsha dan ternyata ayahnya yang tidak ingin di rumah tanpa melakukan pekerjaan apapun.
"Kuncinya kalian kembalikan saja pada pemilik rumah ini, apa kalian masih ingat tempat kita mengambilnya tadi?" tanya pak lurah itu berbalik badan saat dirinya sudah mulai melangkah pergi.
"Iya pak, kami masih ingat." Devan menjawab dengan cepat terdengar ramah.
Pak lurah itu tersenyum kecil melihat sikap sopan dari keduanya ia pun mulai melangkah kembali dan meninggalkan mereka berdua di depan rumah Alsha.
Kini tinggal Devan dan Amel saja yang masih berdiri di depan pintu rumah Alsha tampak dari luar Amelia juga merasakan hawa yang segar karena tumbuhan beranekaragam sudah di berikan pot serta bunga gantung terlihat sedikit layu mulai kering karena tidak ada lagi yang merawatnya.
"Van yuk kita masuk," ajak Amel melangkahkan kakinya terlebih dulu namun Deva masih diam saja.
Devan angguk kepala tanpa bicara apapun sambil celingukan mengikuti langkah Amel di belakang.
Saat di depan rumah aroma terasa begitu segar namun berbeda ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah sehingga tercium aroma yang tidak sedap bahkan sangat menyengat sampai ke hidung.
"Ahh, bau apa sih ini? kok baunya aneh banget!" gerutu Amelia mengibas tangannya membuang udara yang menghampiri wajahnya.
"Aku juga tidak tahu ini asal bau darimana?" Devan juga melakukan hal yang sama dia mulai menutup hidungnya memakai telapak tangan.
Setelah perbincangan itu mereka terus berjalan mengarah ke dalam bagian rumah Alsha dan Amelia sempat melihat bingkai foto Alsha sewaktu kecil tepat berdiri di samping pak adam.
"Oh, apakah ini ayah Alsha?" turut Amelia menyentuh bingkai yang terpampang di sudut dekat meja makan.
Amelia seolah berbicara sendiri karena Devan entah kemana perginya.
"Van..." Panggil Amelia pula sambil mencari Devan dan melirik ke sana ke mari.
Setelah Amelia melihat Devan yang Jongkok di dalam kamar entah memegang apa, ia pun langsung menghampirinya .
"Van, apa yang kau pegang itu?" tanya Amelia mendekati Devan bahkan ikut jongkok bersamaan.
"Aku juga tidak tahu ini botol bekas apa? tapi ini baunya menyengat saat kita masuk tadi ke dalam rumah dan aku yakin sekali asal baunya dari botol yang aku pegang sekarang." Monolog Devan menjabarkan secara jelas saat mereka masuk sebelumnya.
"Ya kau benar, tunggu sebentar!" turut Amelia pula mulai merogoh ponselnya dan menjepret botol minuman tersebut untuk dia masukkan ke dalam galerinya.
Foto botol pun tersimpan dia langsung membuka situs Google dan mencari asal botol tersebut, di saat dirinya berhasil menemukan riwayat botol itu Amelia membelalakkan matanya seketika.
"Ada apa? kenapa kau terkejut?" tanya Devan langsung merampas ponsel Amelia yang terdiam seketika.
"Astaga! ini miras," terkejutnya Devan ketika tahu botol yang dia temukan di dalam lemari baju apalagi dirinya bahkan tidak tahu siapa pemilik botol minuman itu.
"Apa jangan-jangan?" keduanya saling berbicara dengan perkataan yang sama tampak satu pemikiran.
"Apa kau berfikir sama denganku?" tanya Devan pula langsung berdiri dan membuka kembali lemari baju tempat dia menemukan botol tersebut.
"Van yang tinggal di sini bukankah ayahnya Alsha? dan ibunya sudah meninggal saat melahirkan Zizi, kan?" tanya Amelia sejenak mengingat Alsha saat bercerita padanya.
"Kau benar! di rumah ini selain ayah Alsha tidak ada lagi yang tinggal." Devan membenarkan ucapan Amelia kali ini. "Tapi aku masih penasaran saja, kenapa ayah Alsha meminum yang berbahaya seperti ini?" lanjut Devan lagi sambil mengamati kadar alkohol yang terkandung di dalamnya.
"Kau bisa lihat ini tidak? aku pernah melihat buku ayahku soalnya dia suka membaca buku ilmiah terlihat kadar alkohol yang sangat tinggi apalagi bisa menyebabkan kematian bila penggunaan secara berlebihan." Ocehan Devan membuat Amelia merasa merinding sesaat.
"Van, apa kita harus melakukan sesuatu?" tanya Amelia yang mulai merapat pada Devan.
"Apa kau merasa takut? kan ada aku di sini, sudahlah! di mana Amelia yang aku lihat seorang pemberani? masa begini saja sudah takut." Olokan Devan membuat Amel sebal.
"Diam Lo! ah, berisik!" jengkelnya Amel ia langsung meninggalkan Devan di tempat.
Devan terkekeh sendiri melihat sikap takut Amelia begitu sangat terlihat jelas di matanya.
.
.
.
"Alsha, Lo di mana sih? aku kangen tahu sha!" gumam Amel berbicara pada bingkai yang tergantung di dinding.
.
.
.
Di sisi lain rumah nek Raya.
Crashh
"Nenek masak apa?" tanya Alsha dari balik pintu dapur.
"Kenapa kamu bangkit dari kasur mu? apa kau sudah benar-benar pulih?" berbalik tanya dan menoleh pada Alsha yang tersenyum padanya dengan ramah.
"Sudah lebih baik nek, apa Khanza boleh membantu?" kembali bertanya lagi kini ia berjalan perlahan mendekati nek Raya yang sedang memegang sebuah baskom berisi ikan untuk segera di goreng.
"Kau duduk saja nak, biar nenek yang memasak." Nek Raya menolak bantuan Alsha dengan lembut karena dia tahu Alsha masih memaksakan dirinya.
"Tidak nek, Khanza sudah merasa lebih baik sekarang jadi ingin sekali membantu nenek." Turut Alsha pula memohon dengan wajah manisnya.
Akhirnya nek Raya tak dapat menghindari rayuan manis itu dia pun memberikan baskom tersebut dan melihat Alsha sudah lebih segar dari sebelumnya walau matanya terlihat sembab.
Yeap, kini Alsha tidak ingin lagi dirinya di panggil dengan sebutan Alsha karena ia sudah membulatkan tekatnya untuk merubah namanya karena tak ingin lagi berhubungan dengan orang yang berusaha melenyapkan dirinya dan sang adik, itulah pemikiran Alsha selama dia di dalam kamar berdiam diri.
..........
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Orang jahat berasal dari orang yang baik. apakah benar? ❤️