Aku, Khanza

Aku, Khanza
Tujuan Yang Belum Pasti


...♡♡♡...


Berdasarkan cerita yang di dapat oleh Khanza setelah mendengar semua pengakuan dari Zizi malam itu dia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan gubuk nek Raya karena bisa saja Guntur kembali lagi mencari adiknya dan bahkan bisa menjadi bahaya untuk nyawa adiknya, itulah pemikiran Khanza saat proses pemakaman nek Raya berjalan dengan lancar.


Sebenarnya Khanza juga tidak tahu harus kemana lagi karena dia juga belum memiliki tujuan yang pasti.


.


.


Keesokan harinya saat matahari menyongsong menampakkan keindahannya cahaya yang masuk melalui selah gubuk nek Raya membuat semuanya semakin terlihat jelas walau tidak memakai lampu.


Khanza dan adiknya tampak berkemas untuk pergi dari gubuk nek Raya, namun Zizi masih enggan mau keluar dari gubuk itu entah mengapa tetapi Khanza memberikan kejelasan pada Zizi bahwa dirinya pasti akan di cari oleh Guntur sebab itu Khanza tak ingin hal yang sama terulang lagi pada sang adik bagaimana pun dia harus tetap melindungi adiknya apapun yang terjadi yang terpenting Khanza tak ingin lagi tinggal di gubuk nek Raya, begitulah perkataanya pada Zizi yang tak dapat di bantah lagi.


"Kak, kita mau kemana?" tanya Zizi setelah membungkus sedikit baju yang dia ambil dari dalam lemari nek Raya.


"Kita pikirkan itu nanti saja yang terpenting kita harus keluar dulu dari rumah ini," jawab sang kakak yang tampak memasukkan sedikit baju ke dalam kain dan mengikatnya dengan erat.


"Kakak lapar tidak?" tanya Zizi kembali yang tersadar kalau dirinya ada selembar uang 50 ribu di dalam saku celananya.


Zizi langsung menyerahkan uang itu pada kakaknya.


"Kau dapat uang ini dari mana Zi? apa nenek yang memberikannya padamu?" berbalik tanya pula sembari meraih uang selembar itu.


Tetapi Zizi hanya bergeleng kepala dengan tertunduk lesu sekali seperti tampak tidak semangat terlihat dari raut wajahnya.


"Itu uang pemberian dari pemilik pabrik saat Zizi mengantar belinjo semalam," katanya pula yang masih tampak sedih mengingat dirinya tak bisa berbuat apapun dengan kejadian yang menimpa nek Raya.


"Zi, lihat mata kakak," turut kakaknya sejenak memegang dagu adiknya.


Zizi pun mengikuti gerakan dari tangan kakaknya itu walau masih sangat terlihat jelas raut wajahnya yang masih teramat sedih.


"Kau anak yang hebat! percayalah pada kakak, saat ini nenek sudah bahagia di sana melihat kau selamat dan bersama dengan kakak sekarang," cakap sang kakak berusaha membalikkan keceriaan adiknya kembali.


"Apa benar begitu? nenek sekarang sudah bahagia? apa nenek tidak sakit lagi? karena Zizi nenek jadi terluka," ucap Zizi pula mulai menitikkan air mata jatuh ke pipinya.


"Nenek sudah tidak sakit lagi, dan kalau kau terus seperti ini bisa jadi nenek akan sangat sedih sekali Zi, apa kau mau nenek sedih?" tanya sang kakak yang masih terus berusaha membujuk adiknya, ia juga menghapus air mata Zizi hingga mendekap tubuh adiknya secara hangat.


"Zi, kau masih punya kakak! dan sekarang kita akan melewati semua jalan secara bersama jadi sekarang kakak ingin kau jangan terus seperti ini dengan menyalahkan dirimu, apa kau bisa berjanji pada kakak Zi?" lanjut Khanza lagi sambil memegang kedua pipi adiknya saat dekapan itu ia lepas.


Zizi anggukkan kepala karena sudah bisa menerima ucapan dari kakaknya serta kembali tersenyum ceria seperti sebelumnya.


"Nah, gitu dong! yuk kita berangkat," sesaat Khanza berdiri sambil memegang lengan adiknya.


mereka pun keluar dengan membawa kenangan saat bersama nek Raya di gubuk itu, tak lupa juga Khanza menutup pintu gubuk sebelum dirinya melangkah pergi.


Pada akhirnya mereka berjalan bergandeng tangan tampak erat sekali dan Khanza juga merasa lega sudah membuang sedikit kesedihan dalam diri adiknya.


.


.


.


Di depan warung kecil.


"Nah Zi minum dulu, sekalian ini makanlah roti karena kau pasti sudah lapar," ucap sang kakak pula menyuguhkan air botol mineral juga sebungkus roti.


"Untuk kakak mana?" tanya Zizi yang tersadar kalau kakaknya hanya membelikan untuk dirinya saja.


"Kakak belum lapar Zi, cepat kau makan saja nanti perutmu bisa sakit," perintah sang kakak pula terdengar memaksakan dirinya untuk terlihat biasa saja.


"Tidak! kakak bohong, kakak pasti juga lapar," protes Zizi menolak air serta roti itu lalu dia bergerak untuk duduk membuang wajahnya.


Khanza hanya membuang nafas kasar saja melihat sikap Zizi seperti itu, wajar saja Zizi tak ingin menerima air dan roti itu sementara dia juga belum ada mengisi perutnya sama sekali.


Tap Tap


Khanza berjalan mendekati adiknya yang tak melihat dirinya.


"Kau marah pada kakak?" tanya perlahan pula sambil duduk di sebelah Zizi.


Akan tetapi Zizi tak juga melihat Khanza yang sudah menegurnya dari samping.


"Hm baiklah, kita makan ini bersama! kita bisa bagi dua roti ini, bagaimana? apa kau senang sekarang?" berusaha ramah supaya Zizi menoleh padanya.


Dengan cepat Zizi memutarkan kepalanya saat ucapan itu keluar dari mulut Khanza di tambah lagi senyuman manis tampak dari wajah Zizi sesaat membuat Khanza menghembus nafas pelan.


Mereka makan dan minum dengan saling berbagi karena uang yang tersisa di tangan Khanza tak mungkin dia habiskan begitu saja sedangkan setelah ini dia masih berfikir keras ke arah mana tujuan selanjutnya.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Di saat sulit pasti ada kemudahan, di saat lapar pasti ada rezeki yang datang dari arah manapun asal menjalani kehidupan dengan ikhlas hati semua menjadi lebih ringan ❤️