Aku, Khanza

Aku, Khanza
Yeni Dan Yani


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Akhirnya Alsha di bawa turun oleh kedua pelayan rumah saat dirinya menyerah dan bahkan ia tak mampu untuk menatap kedua pelayan tadi, karena teramat malu yang dia rasakan saat ini.


Kedua pelayan tersebut langsung bisa merespon ekspresi yang terlontar di wajah Alsha membuat keduanya tersenyum sambil membalas lirikan.


Sebut saja Yeni berumur 21 tahun yang terkenal judes/cerewet namun memiliki hati begitu baik, padahal Yeni orang yang blak-blakan sekali tetapi untuk sesaat dia bisa menahan tawanya hanya untuk menghargai perasaan Alsha saja, kemudian sebut saja Yani kembaran Yeni yang suka sekali ngobrol sehingga Nathan sering menegur Yani karena pekerjaannya tidak selesai-selesai akibat banyak mengobrol sebelum hendak menyelesaikan tugasnya.


Yani terheran mengapa Yeni memandang lembut Alsha seperti ingin berbicara namun tampak menahannya.


Sesaat Yani menyikut siku Yeni yang masih menatap sendu Alsha di tengah mereka.


Karena Yeni melihat ekspresi Alsha yang terlihat gugup ia pun coba beranikan diri untuk memegang lengan Alsha seketika.


"Ada apa? kok berhenti? dan kenapa kamu memegang tangan saya?" tanya Alsha terlihat bingung karena Yeni memegang lengannya sejenak saat mereka sedang berjalan.


Yeni merogoh kantong celemek yg bertengker di tubuhnya itu. "Ah begini, nona mau permen? supaya lebih rileks saja, maaf kalau saya lancang tapi permen ini bisa membuat orang lain jadi lebih tenang," kata Yeni pula langsung meraih telapak tangan Alsha dan memberikannya.


Yani semakin bingung dengan sikap Yeni itu karena kembarannya tidak pernah melakukan hal demikian, apalagi dia langsung menjadi lebih dekat dengan orang yang baru di kenal sehari saja.


Alsha terheran dengan sikap ramah Yeni sekaligus dia melihat permen yang berbungkus warna hijau terlihat menggoda selera, ia juga buru-buru membuka bungkusnya tidak berfikir panjang langsung ia masukkan ke dalam mulutnya.


"Emm Eemm, Mmm..." Suara Alsha yang membuat orang lain jadi salah paham untuk mengartikannya.


Keduanya terbengong melihat keriuhan Alsha saat mengemut permen tersebut bahkan Yeni maupun Yani menganga tak menduga Alsha bisa sesenang itu sambil menggerakkan kedua tangannya terlihat seolah naik roller coaster alias merem melek.


Mereka berdua menggaruk kepala sangking tidak percayanya Alsha bisa begitu menikmati sesuatu hanya sebuah permen saja.


"Ini benar-benar enak sekali, ahh begini... Apa saya boleh meminta satu lagi? apa kamu masih ada permen semacam ini? atau saya beli semuanya saja." Keriuhan Alsha membuat keduanya saling berpandang mata mengangkat kedua bahu.


"Oh ahahah, begini nona permen itu hanya ada satu dan saya tidak menjual permen, apakah nona memang sangat menyukainya?" tanya Yeni terlihat ambigu sekali masih belum terbiasa dengan sikap polos Alsha di depannya.


"Yaaahh, sayang sekali padahal saya sungguh menyukai permen ini rasanya enak sekali kalau kamu tidak keberatan boleh saya meminta belikan permen semacam ini?" berbalik tanya pula sehingga terlihat memohon layaknya anak kucing membuat Yeni tidak bisa menolak permintaan Alsha itu.


Yani bahkan tak menduga kalau Yeni langsung mengangguk menerima permintaan konyol Alsha tersebut.


Girangnya Alsha membuat orang yang melihat merasa ikut bahagia. "Wah... Sungguh! kamu baik sekali terimakasih kalau begitu, ehh tapi kalau boleh tahu kalian ini namanya siapa?" tanya Alsha lagi menatap keduanya.


"Saya Yeni nona, dan ini kembaran saya namanya Yani," turut Yeni menjawab sambil menunjuk Yani yang masih terlihat terpelongo itu.


"Apa kita bisa berteman?" ucap Alsha memberikan sebelah tangannya pada mereka.


Yeni langsung menyambut tangan Alsha dengan senyuman yang hangat tetapi tidak untuk Yani yang masih saja terdiam dan terpelongo sedari tadi.


"Hei, yan! itu tangan nona menunggumu," bisik Yeni tepat di telinga Yani menyenggol siku Yani.


"Oh maaf nona, saya membuat nona menunggu," sambut Yani pula sejenak tersenyum ramah.


"Kalian jangan canggung begitu? saya ini bukan dari kalangan atas kok dan kita itu sama jadi tidak ada perbedaan antara majikan dengan bawahan, karena manusia sama di mata Allah." Alsha melontarkan perkataan itu seketika keduanya membulatkan mata.


"Panggil saja aku Alsha jangan nona, karena aku tidak biasa di panggil seperti itu, kalian mengerti tidak?" lanjut Alsha lagi melontarkan senyum manisnya.


Mereka anggukkan kepala tanpa berkata apapun lagi.


"Tapi ngomong-ngomong nih ya, kalian di sini sudah berapa lama bekerja?" pertanyaan Alsha membuat spot jantung keduanya.


"Ekhem, khem!"


Entah mengapa keduanya bungkuk dengan teratur malah yang berucap tidak berani menoleh ke belakang.


Hayoo ketahuan, kan๐Ÿคฃ apes banget hidup kamu Alsha๐Ÿ˜†


............


Tetap stay yaโค๏ธ masih ada cerita yang lebih seru lagi pastinya hanya di 'Aku, Khanza' jangan sampai ketinggalan โค๏ธ


^^^To be continued^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^