Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kedamaian Dari Wajah Khanza?


...♡♡♡...


"Udah bos, hajar saja dia!"


"Ya bos berani sekali dia membantah omongan bos."


Kedua temannya yang tepat berada di samping lelaki yang menolak Khanza itu secara bergantian berbisik dengan terus mendorongnya supaya mendengarkan perkataan mereka.


"Kalian pegang ini," turut lelaki itu pula dengan memberikan setumpuk koran pada salah satu temannya.


Tak berapa lama dia melangkah ke arah Khanza yang sudah ada di hadapannya.


"Kau berani membantahku? dasar sia-" tangan si lelaki sudah ingin memukul Khanza namun tiba-tiba saja.


Byuuurrr


Braaashhh


"Aaagh, dasar kurang ajar!" teriak dari ketiganya setelah basah kuyup hingga koran yang di pegang juga basah semua.


"Rasakan kalian! berani sekali mau memukul perempuan di depan warungku, pergi kalian sebelum aku menyiram dengan air mendidih ke tubuh kalian biar melepuh sekalian, cepat pergi kalian dasar anak berandalan!" bentak dari seorang wanita paruh baya pemilik warung tempat Khanza membeli minum sebelumnya.


Sementara Khanza beserta kedua adiknya melebarkan mata ketika ibuk tadi menyiram satu ember air pada ketiga anak lelaki itu bahkan Zizi hampir melepas tawanya namun masih dia tahan dengan mengalihkan wajah ke arah lain sembari bersiul kecil sedangkan Taro juga mengikuti apa yang di lakukan oleh Zizi.


"Nenek peyot! awas kau akan ku hancurkan warungmu nanti," jeritnya ketika mereka sudah berlari sedikit jauh dari arah Khanza serta mengacungkan jari tengah pada ibuk tadi sembari berteriak sekeras mungkin. "Awas saja kau anak sialan! kau tunggu balasan dariku," lelaki itu pun menunjuk dengan tampang kemarahan pada Khanza namun dirinya hanya membuang nafas kasar setelah mendengar perkataan itu.


"Aku tidak takut dengan ancaman mu! kupastikan akan mencincang kalian," balas dari wanita itu pula terdengar menantang sembari berteriak bahkan tampak wajahnya begitu kesal.


Usai ketiganya berlalu pergi wanita tadi menoleh ke arah Khanza setelah ia meletakkan embernya di dekat warung.


Seketika ia meraih kedua telapak tangan Khanza dengan melihat luka yang masih tampak berdarah itu sudah bercampur pasir karena ia menahan tubuhnya yg terhempas ke aspal.


"Tunggu sebentar ibuk ambilkan obat untuk luka mu," cakapnya pula dengan menatap lembut ke arah Khanza.


"Eh tidak buk, saya baik-baik saja bahkan saya sangat berterimakasih karena ibuk sudah menolong saya tadi," tutur Khanza sehingga ia bungkukkan badan berulang kali.


Tampak Zizi dan Taro yang sudah ada di samping Khanza juga ikut melakukan hal yang sama serta tak hentinya mereka mengucapkan terimakasih pada wanita paruh baya itu.


"Sudah kewajiban sesama manusia harus saling membantu lagipula ibuk tidak suka ada perempuan yang di perlakukan kasar seperti tadi, maafkan ibuk nak karena ibuk tidak tahu kau di buat celaka oleh anak berandalan tadi," katanya pula terdengar merasa bersalah karena ia baru menyadari saat Khanza ingin di pukul sebelumnya.


"Tidak, tidak! ibuk tak salah apapun justru malah sebaliknya ibuk sudah menolong saya dari mereka sekali lagi saya sangat berterimakasih pada ibuk," tutur Khanza masih saja bungkuk berulang kali.


"Saya Khanza buk, ini Zizi dan Taro," balasnya dengan lontaran senyum kecil di balik bibirnya menatap ke arah wanita itu.


Senyuman Khanza membuat hati wanita itu merasa tentram padahal dia belum pernah seperti itu sebelumnya ketika melihat seorang gadis berhijab sangat berbeda pandangan matanya ketika melihat Khanza di hadapannya saat ini. "Nama yang indah bahkan wajahmu seindah namamu nak," ucapnya pula dengan sentuhan hangat di pipi Khanza.


"Ibuk terlalu memuji saya bahkan tak dapat mengatakan apapun lagi selain ucapan terimakasih," turutnya lagi yang tiada hentinya merendah sebab itulah Khanza sekalipun ia menolong oranglain tak pernah meninggikan dirinya.


Benar-benar Khanza membuat wanita itu kagum padanya bahkan ia terus menyentuh pipi Khanza dengan senyuman hangatnya yang tak pernah ia berikan pada oranglain.


Sejanak wanita itu menoleh pada sebuah bangku tempat Mereka duduk sebelumnya lalu ia melihat beberapa tumpukan koran di atas bangku tersebut.


"Itu apa nak?" tunjuk wanita itu pula setelah melepas sentuhannya di pipi Khanza.


"Oh itu koran buk," jawab Khanza ramah.


"Kalian jualan koran? lalu anak kecil ini apa juga ikut berjualan?" tampak ia mengelus kedua rambut Zizi dan Taro.


Begitu cepatnya mereka berdua anggukkan kepala hingga wanita itu terkekeh kecil. "Waahh kalian sangat hebat!" riuhnya dengan acungkan jempol ke arah Zizi dan Taro.


"Zizi ingin membantu kakak supaya tidak sendirian karena Zizi harus menjaga kakak," bijaknya ia berkata demikian.


"Ihhh, gemasnya!" seloroh dari wanita itu mengunyel sebelah pipi Zizi bahkan Zizi melontarkan senyum cerianya pula.


Khanza hanya bergeleng kepala serta terlihat senyuman tipis di balik bibirnya saat mendengar celotehan adiknya itu.


"Ohya tunggu sebentar ibuk ke dalam dulu," katanya pula yang sudah mau beranjak dari tempatnya.


"Buk kami sudah ingin pergi," cegah Khanza seketika.


"Sudah tunggu saja dulu di sini ibuk harus mengobati lukamu! jangan menolak dan tunggu," pesannya sedari ia sudah melangkah berbicara menoleh ke arah belakang.


Akhirnya Khanza hanya terdiam tak dapat membantah lagi karena tak mungkin ia pergi begitu saja karena wanita tadi sudah memberi pesan padanya.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Jika kau ingin membantu seseorang jangan selalu kau umbar ke sosmed atau kau umbar kebaikan mu pada orang-orang terdekatmu sebab percuma saja apa yang kau lakukan tidak akan bernilai apapun di mata tuhan karena cukup kau dan tuhanmu yang tahu sebab kita hanya perantara untuk membantu sesama manusia di muka bumi ini ❤️