Aku, Khanza

Aku, Khanza
Siuman


🍁🍁🍁


Krasak Krusuk


Bunyi yang membuat Zizi dan nek Raya terbengong ialah setelah pelukan terlepas dari keduanya mereka langsung melirik ke arah tirai kain karena asal suara itu dari arah kamar Alsha.


"Apa kau dengar itu Zi?" tanya nek Raya pula sedikit berbisik.


Zizi anggukkan kepala setelahnya mereka bangkit serentak menuju ke arah kasur dan nek Raya membuka tirai kain yang menutupi ruang tersebut.


Alangkah terkejutnya Zizi melihat sang kakak terduduk menatap mereka yang baru saja masuk.


"Kakak...!" riuh Zizi pula berlari dengan girang tampak pula mata berbinar sangking senangnya setelah melihat kakaknya siuman.


Teriakan serta pelukan yang erat membuat nek Raya jadi terharu dan menitikkan air matanya sejenak.


"Uhuk uhuk Zizi, kakak tidak bisa bernafas," seloroh Alsha begitu bahagianya bisa memeluk kembali adiknya yang sudah dia rindukan.


Zizi perlahan melepaskan pelukan itu karena dia tahu kalau rasa rindunya begitu dalam. "Maafkan Zizi kak tidak ada maksud membuat kakak sesak nafas, apa kakak yang sakit? bagian mana lagi rasa sakitnya kak?" ia memeriksa dengan terus berceloteh terlihat seperti orang tua yang perduli pada anaknya.


"Kakak sudah tidak apa-apa Zi, kakak senang bisa bertemu kamu lagi," kini mereka bisa melepas rindu bahkan Alsha menciumi kedua punggung tangan Zizi.


"Kak, semua ini berkat nenek." Zizi menunjuk ke arah nek Raya yang masih berdiri dengan keadaan terharu.


Nek Raya mengusap air matanya dan tersenyum kecil melihat keduanya bisa saling melepas rindu mereka.


"Saya nek Raya, siapa nama mu nak?" tanya nek Raya melangkah untuk mendekati keduanya.


"Saya Khanza Alesha nek," jawab Alsha dengan lembut.


"Nama yang sangat bagus," turut nek Raya menyentuh pipi Alsha pula.


"Terimakasih nek Raya sudah menolong saya, tapi kenapa kita bisa ada di sini Zi? bunda di mana?" tanya Alsha menoleh pada Zizi ia mulai teringat kalau dirinya tidak ada di rumah Hayati sehingga tersadar ketika bangun dia melihat orang yang belum pernah dia temui.


"Kak," panggil Zizi pula dan menyentuh jemari tangan Alsha perlahan. "Kita tidak boleh kembali ke rumah itu lagi," lanjut Zizi membelalakkan mata Alsha seketika.


"Kenapa kamu bisa ngomong seperti itu Zi? kamu mau bunda khawatir sama kita? kita harus pulang," tegas Alsha yang tidak tahu menahu kenapa dirinya bisa berada di rumah nek Raya.


"Kak, cobalah mengerti maksud Zizi, kita itu sudah di buang!" ia melepas pegangan tangan itu dan bangkit dari duduknya tidak sanggup melihat tatapan mata sang kakak akhirnya ia sekilas mengalihkan pandangan matanya.


"Zi, tolong jelaskan pada kakak! apa maksud kamu kita sudah di buang?" karena Alsha tidak paham ia berkukuh untuk kembali ke rumah Hayati bahkan ia meraih tangan Zizi untuk menjelaskan semua padanya.


"Tidak! itu tidak mungkin, ayah tidak mungkin membuang kita, lalu bunda? apa bunda juga membuang kita?" pekik Alsha bergeleng kepala berulang kali belum yakin dengan cerita Zizi yang dia fikir hanya karangan adiknya saja.


"Khanza, apa kamu ingat? sebelum kamu pingsan apa yang telah kamu makan atau minum?" tanya nek Raya berani buka suara untuk mencari kebenaran dari cerita Zizi yang dia dengar.


"Hah?" ia tersentak saat nek Raya bertanya demikian, mulai mengingat kejadian saat dirinya masih berada di rumah Hayati. "Sepertinya malam itu Alsha meminum jus buatan bunda! tidak, itu tidak mungkin!" kini Alsha semakin terpuruk karena ia belum bisa mempercayai kalau Hayati juga ingin mencelakai dirinya.


"Tenangkan dirimu nak, sekarang minum ramuan ini supaya sisa racun di tubuh kamu bisa terbuang habis." Nek Raya menyuguhkan racikan yang sudah dia buat sebelumnya beserta secangkir susu hangat sedikit kental untuk Alsha.


Karena kebaikan nek Raya itu Alsha menuruti kemauannya jadi ia meraih gelas yang ada di genggaman nek Raya dan meminumnya sedikit demi sedikit.


"Istirahat dulu, karena tubuhmu baru saja pulih," kata nek Raya pula meraih tubuh Alsha untuk berbaring kembali.


Zizi memalingkan wajahnya melihat sang kakak yang masih terpukul dengan kejadian sebenarnya memang sudah terjadi pada mereka berdua tidak dapat di elakkan lagi.


"Tadi nenek mengatakan bahwa saya terkena racun? apa benar begitu nek?" mengingat ucapan nek Raya barusan, Alsha masih belum juga percaya.


"Sudahlah! kau harus pulihkan tubuhmu dulu, tidak baik kalau kau banyak fikiran! ayo istirahat lah, Zi temani nenek ke belakang," ajak nek Raya pula supaya Alsha bisa lebih tenang kemudian ia meraih lengan Zizi dan mengajaknya keluar bersama.


"Zizi bantu nenek dulu kak," turut Zizi pula sebelum keluar dari tirai kain.


Alsha hanya terdiam serta mengalihkan matanya dan terlihatlah air mata di pipinya tanpa menyahut panggilan Zizi.


Zizi tertunduk lesu melihat keadaan kakaknya itu, ia juga tidak menduga kenapa hidup mereka bisa sesulit ini mempunyai keluarga yang tidak pernah menerima keberadaan mereka.


Alsha memejam matanya dan menahan isak tangis supaya tidak terdengar oleh Zizi dan nek Raya sudah pasti Alsha terpukul saat ia tahu kalau mereka sudah di buang bagaikan sampah.


"Abi, Alsha rindu," isakan tangis Alsha yang terlihat gemetar di bibir pucatnya saat menyebut nama ayah kandungnya itu.


..........


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan:...


Hidup itu memang sulit, tetapi jika kita ikhlas menjalaninya semuanya akan menjadi mudah, ketahuilah bahwa kesabaran akan mendapatkan akhir yang begitu manis.❤️