Aku, Khanza

Aku, Khanza
Takdir Dari Tuhan


...♡♡♡...


Pagi hari.


Ruang meja makan keluarga Austin.


"Pa, apa kita tidak bisa mencari bukti lain selain rekaman cctv itu?" tanya Chelsea menatap ke arah mertuanya yang sedang membaca koran dengan serius begitu pula suaminya yang melihat anaknya dari dekat tampak ia menautkan kedua alis matanya.


"Pihak polisi tidak menemukan barang bukti apapun di jasad korban, begitu pula saat kita di rumah sakit setelah mereka di visum juga tak dapat menemukan bukti apapun para pelaku itu sepertinya sudah berencana sebelum bertindak lebih jauh sungguh sangat rapi," papar sang mertua pula yang terdengar tidak tahu harus melakukan apapun lagi dan ia sambil melirik ke arah Nathan yang menggenggam garpunya sangat kuat. "Nathan kenapa kau tidak menyentuh makanan mu?" lanjutnya lagi sambil melipat koran yang dia baca lalu melepas kaca matanya.


"Aku ke kamar dulu nafsu makan ku hilang," ketus Nathan pula kemudian ia bangkit dari kursinya melenggang pergi tak menoleh sedikit pun dan hanya menatap ke depan sambil berjalan.


Sedari jauh kakeknya serta kedua orangtuanya menatap kepergian Nathan yang akhir-akhir ini sangat pendiam.


Setelah Nathan berlalu pergi dari hadapan mereka.


"Ada apa dengan Nathan? tidak biasanya dia seperti itu?" tanya David menoleh ke arah istrinya yang terlihat menghembus nafas berulang kali.


"Aku juga tidak tahu, semenjak pulang dari kantor polisi Nathan menjadi bertambah diam dan terus marah-marah pada Hardi," katanya pula yang sempat melihat tidak sengaja ketika Nathan melotot pada Hardi entah karena apa.


Sesaat Panji bangkit dari duduknya lalu ia berjalan tanpa berkata apapun.


"Papa mau balik? tidak makan dulu pa?" tegur David dari jauh.


"Kalian makan saja dulu aku ingin melihat cucu kesayanganku," katanya pula melirik dari samping yang sempat berhenti karena teguran dari anaknya.


Keduanya terdiam tak berbicara lagi sehingga Panji melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti sebentar.


Tok Tok


KLakk


Krieet


"Apa kakek boleh masuk Nat?" tanya sang kakek dengan teguran yang ramah ketika ia berdiri di depan pintu.


"Masuk saja kek, ini rumah kakek aku tidak ada hak melarang kakek," sapa Nathan namun ia tak menoleh pada kakeknya karena ia berbicara sambil menutup wajahnya menggunakan bantal.


Panji membuka dengan perlahan perban yang melekat di punggung tangan Nathan lalu ia berdiri dan mencari kotak obat setelah berhasil menemukan kotak obat kemudian ia mengoles salep pada Nathan supaya lukanya lebih cepat kering saat perbannya sudah di buka.


Karena perlakuan kakeknya yang penuh perhatian itu akhirnya Nathan bangkit dan duduk dengan wajah yang terlihat lesu.


"Ada apa? kenapa kau jadi tidak bersemangat akhir-akhir ini? cerita pada kakek, apa yang membuatmu seperti ini?" tanya sang kakek yang tampak mengelus kepala Nathan berulang kali.


Nathan menatap kakeknya seketika dan mendekati tubuh sang kakek yang awalnya ia tertunduk tak berani menatap dari dekat wajah kakeknya padahal sang kakek sudah melebarkan senyum saat melihat keraguan dari cucunya itu lalu tidak berapa lama sang kakek meraih tubuh Nathan dan mendekapnya dengan erat.


"Kau cucu yang sangat kakek sayangi Nat, jadi apapun yang terjadi pada dirimu kakek akan selalu ada di dekatmu," lontaran yang keluar dari mulut kakeknya membuat Nathan merasa nyaman saat berada sangat dekat dengan tubuh kakeknya.


"Aku sangat beruntung memilki kakek yang begitu perhatian padaku, kakek harus berjanji akan terus bersama ku hingga aku dewasa," celotehnya pula sambil terus mendekap tubuh kakeknya lebih erat.


Beberapa menit berlalu dekapan itu pun terlepas.


"Jadi, apa yang membuatmu akhir-akhir ini tak bersemangat?" mengulang pertanyaan yang sempat terjeda sebelumnya.


Nathan bangkit dan melenggang ke arah sofa yang sudah tersusun rapi di kamarnya lalu dia duduk merebahkan kepalanya di bagian sofa tersebut. "Aku tak dapat memberi keadilan pada mereka, padahal aku yang melihat pelaku itu masuk ke dalam ruangan dasar aku payah sekali kek," keluhnya yang terdengar memprotes diri sendiri tampak sambil memijat dahinya dengan memejam kedua matanya.


Panji pun menyusul Nathan dengan berjalan mengarah ke sofa tempat Nathan duduk kemudian Panji duduk di sofa yang lainnya. "Itu bukan kesalahan mu Nat, semua itu sudah Tuhan yang mengaturnya dan jika pelaku itu tak dapat kita temukan berarti dia masih di beri kesempatan untuk menebus semua perbuatannya," cakap sang kakek yang terdengar ada benarnya di telinga Nathan.


"Kalau saja aku sebelumnya tahu itu ruangan mama mungkin mereka sudah aku sergap lebih dulu bodohnya aku tidak tahu kalau itu ruangan mama," cerocosnya yang masih terus menyalahkan diri.


"Itu sudah jalannya Nat semua Tuhan yang mengatur kita tak dapat membantah apalagi memutar takdir yang sudah di tentukan, sekarang yang terpenting kita berdoa saja supaya Tuhan memberi berkat pada kita dan terutama pada keluarga korban yang di tinggalkan," timpal sang kakek lagi supaya Nathan mengerti dengan ucapannya barusan.


Nathan membuka matanya kembali dan melihat kakeknya sudah berdiri di depan salip yang terpampang jelas di atas meja khusus kamar Nathan lalu ia sejenak terdiam dan menyusul kakeknya tepat berdiri di belakang sang kakek dengan mengatupkan semua jemari tangannya sambil memejamkan kedua mata dan berdoa di dalam hati mereka dengan meminta keselamatan untuk seluruh keluarga serta mendoakan nyawa yang telah di ambil supaya tenang di sisi Tuhan itulah pinta Nathan didalam hatinya saat ini.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Takdir dari tuhan itu tidak pernah meleset dan manusia tidak bisa lari dari takdir ataupun kematian ❤️