Aku, Khanza

Aku, Khanza
Duka berbalut kebahagiaan


🍁🍁🍁


Pagi hari ruang persalinan.


Owek Owek


"Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah atas rezeki yang engkau berikan pada keluargaku," sujut syukur pak Adam saat itu pula.


"Umi baik-baik saja, kan?" tanya Alsha sambil mengelus punggung Ayahnya.


"Iya nak ibumu akan baik-baik saja," turut ayahnya sejenak memeluk tubuh Alsha dengan raut wajah sedih berbalut bahagia.


Kreek


Pintu ruang persalinan terbuka seketika.


"Bapak bisa ikut ke ruangan saya sebentar?" pinta seorang bidan saat menyelesaikan tugasnya.


"Alsha kamu tunggu di sini dulu dan jangan kemana-mana sampai Abi kembali lagi," pesannya pula sambil membawa Alsha untuk duduk.


"Ingat! jangan pergi ke mana pun," memberi pesan singkat sekali lagi.


Alsha pun manggut mematuhi perintah dari Ayahnya itu dia duduk dengan manis sambil melihat sorot mata orangtua lelakinya yang terus menatap wajah anaknya.


Begitu pula dengan ibu bidan yang baru saja mengurus persalinan untuk ibunya terlihat menatap sedih saat hendak meninggalkan Alsha.


Keduanya pun masuk pada ruangan tertutup sesampainya di dalam ruangan pak Adam di suruh duduk bahkan sekitar 10 menit ibu bidan terdiam seakan tidak sanggup mengatakan yang sesungguhnya.


"Pak maafkan saya karena saya tidak bisa menolong istri bapak bahkan saya sudah sangat berusaha semampu saya untuk menyelamatkan ke duanya," lirih bidan itu merasa bersalah ia tertunduk tampak sangat sedih.


"A- apa yg ibu bicarakan? istri saya kenapa bu bidan?!" lontarnya dengan sangat terkejut.


"Saya minta maaf sekali lagi pada bapak karena sebelum persalinan istri bapak sudah pendarahan hebat pada awalnya kami tidak ingin melanjutkan persalinan itu namun istri bapak tidak ingin anaknya mati sia-sia sehingga dia mengorbankan nyawanya untuk anak yang ada di perutnya," ungkap bidan itu dengan jelas.


"Ya Allahu Rabbi... Ibuk, kenapa kamu melakukan ini?" sesaat tangisan pak Adam pecah hingga terduduk di lantai sambil menahan suaranya agar tidak terdengar sampai luar.


"Ya Allah... apa yg harus ku katakan pada Alsha malang sekali nasibmu nak," rintihan tangis membuat bidan itu merasa ikut sedih sehingga meneteskan air matanya.


"Bersabarlah pak semua sudah ada yang mengaturnya kita tidak bisa melawan kehendaknya," bujuknya lagi terus memberikan perhatian sebagai seorang bidan.


Seperkian menit berlalu sesaat pak Adam hanya terdiam saja tidak berbicara apapun lagi dirinya juga masih melamun dengan air mata yang terus membasahi wajahnya.


"Apa bapak sudah lebih tenang setelah menangis? tenangkan diri bapak karena bapak juga masih punya kedua anak yang menemani bapak hingga hari tua," katanya pula tersenyum simpul.


"Mungkin semua memang sudah takdir buk dan saya hanya bisa ikhlaskan istri saya," turutnya pula sambil menyeka sisa air mata ingin berusaha tegar.


"Apa anak bapak tidak perlu mengetahui hal ini? kasihan dia yang sudah kehilangan ibunya," ucap bidan itu ikut merasakan duka begitu dalam.


"Saya yang akan menjelaskan pada anak saya buk sudah pasti dia akan sangat sedih sekali ketika mendengar berita ini," katanya pula terdengar begitu lirih dan masih saja menjatuhkan air matanya.


"Baiklah pak semuanya akan kami persiapkan dan kami pula akan membantu sampai proses pemakaman," turut bidan itu pula.


"Terimakasih banyak atas perhatian Ibuk pada istri saya," bungkuknya pula sesekali saat dirinya masih bertumpu di atas lantai.


"Itu sudah kewajiban kami dan inilah yang bisa kami berikan," balas bidan itu lagi.


"Apakah saya bisa mengumandangkan adzan di telinga anak saya buk?" tanyanya pula.


"Bisa pak dan saya hampir saja lupa anak bapak berjenis kelamin laki-laki selamat ya pak," ucap sang bidan memberi semangat supaya kesedihan itu menjadi ringan.


"Ya buk saya pamit dulu," bungkuk kembali sambil bangkit dari tumpuan kedua kakinya.


Dari kejauhan bidan itu melihat kesedihan yang tidak bisa diutarakan lagi kesedihan di balut kebahagiaan mendapat anak kehilangan istri sungguh ibu yang berhati mulia sekali menukarkan nyawa untuk menyelamatkan anak yang ada di dalam kandungannya.


^^^To be continued..^^^


^^^🍂 aiiwa 🍂^^^