Aku, Khanza

Aku, Khanza
Jus Pembawa Celaka


🍁🍁🍁


Malam itu menjadi malam terakhir Alsha berada di rumah Hayati karena dirinya tidak tahu kalau Shopia akan menjalankan niat jahatnya untuk melenyapkan Alsha.


Pada malam yang hangat itu mereka sangat menikmati makan malam dengan penuh canda tawa yang belum pernah Alsha rasakan sebelumnya bahkan Nathan dan Devan menjalani perannya sebagai sepasang karib di depan Hayati, berjalannya waktu makan malam itu berlalu pukul 10 malam tepat ketika Kino suami dari Hayati pulang ke rumah namun dia belum sempat untuk bertemu Nathan ataupun yang lainnya karena begitu mereka pulang Kino barulah sampai depan pintu rumah.


.


.


"Alsha tidurlah! Pasti kamu lelah, kan?" tanya Hayati yang membereskan meja makan sambil menatap Alsha sejenak.


"Iya bun Alsha bantu bunda sebentar! setelah ini Alsha akan istirahat," turut Alsha pula menyusun piring dan menumpuknya untuk ia angkat ke dapur.


"Biarkan bunda yang bereskan, pergilah tidur." Hayati menghentikan langkah Alsha dengan menahan tumpukan piring yang sedang Alsha pegang.


Alsha tersenyum simpul melihat wajah Hayati penuh kelembutan itu, ia merasa sangat nyaman jika berada di dekat Hayati, ibunda yang selama ini mengakui dirinya. "Bun, ini sudah menjadi tugas Alsha sebagai anak dan apapun itu Alsha akan membantu meringankan pekerjaan bunda." Ucap Alsha bernada rendah dan memperlihatkan senyuman kecil penuh cerianya itu.


Akhirnya Hayati luluh dengan senyuman dari Alsha. "Sudahlah! setelah ini kamu pergi tidur, biarkan piring kotor bunda yang cuci karena besok kamu ada ujian akhir ingat! jangan sampai telat bangun," seloroh Hayati menoel hidung Alsha.


"Siap nyonya!" antusias Alsha berdiri dengan hormat membuat Hayati geleng kepala dan tertawa kecil melihat tingkah konyol anaknya itu.


Alsha bergerak ke dapur dan menumpukkan semua piring kotor di atas wastafel namun seketika dia melihat ada jus berwarna merah di laburi toping coklat di atasnya, begitu sangat menggiurkan sekali saat Alsha melihatnya bahkan dia membawa gelas itu mengarah ke meja tempat Hayati sedang sibuk membereskan meja makan.


Tap Tap


Langkah kaki Alsha terdengar sampai Hayati menoleh ke arah belakang.


"Kenapa balik lagi? tidur sana..." Titahnya nada sedikit tegas.


"Bun, ini minuman apa? sepertinya enak sekali." Alsha mengecap mulutnya sangking tak sabar ingin meminumnya.


Sesaat Hayati menepuk jidatnya pelan. "Oh, itu bunda buatkan untukmu! bunda lupa membawanya saat kita makan tadi, apa kamu tidak ingat? jus apa yang kamu sukai selama ini?" tanya Hayati dengan memiringkan kepalanya membuat Alsha memutarkan matanya terlihat sedang mengingat.


"Hmm strawberry kah bun? tapi bunda selalu memberikan buahnya di atas, kenapa sekarang toping coklat di atasnya?" celoteh Alsha tampak bingung terlihat sangat lucu sekali.


"Iya, karena ada krim coklat di kulkas dan buahnya pas untuk di jus makanya bunda letak krim coklat saja pengganti buahnya, apa kamu tidak suka?" kata Hayati yang terus mengilap meja sambil berbicara.


"Apa Alsha boleh meminumnya?" semangatnya Alsha yang sudah tidak sabaran lagi.


Hayati melenggang berjalan mendekati Alsha. "Duduk! dan habiskan," turut Hayati mengarahkan Alsha untuk duduk di kursi.


Gluk Gluk


Begitu cepatnya Alsha meminum jus yang di buat oleh Hayati sampai Hayati berniat untuk meminta sedikit tetapi Alsha meminumnya dengan sangat semangat makanya Hayati hanya tersenyum simpul di balik pinggiran bibirnya.


"Sangat-sangat enak bun! jus buatan bunda jauh berbeda dengan jus yang ada di restoran," riuh Alsha pula membuat Hayati lagi-lagi tertawa kecil mendengar ocehan anaknya itu.


"Sampai celemotan begini, dasar kamu!" imbuh Hayati menyeka sisa coklat di pinggir bibir Alsha memakai tangannya sendiri.


Setelah meletakkan gelas di atas meja, tiba-tiba saja Alsha meraih tubuh Hayati dan memeluknya dengan begitu erat sekali.


"Bun, terimakasih sudah memperlakukan Alsha dengan sebaik ini bunda orang yang paling Alsha sayangi selain Abi, bunda juga pengganti uminya Alsha, bunda sosok ibu yang sangat Alsha sayangi." Alsha menempelkan dagunya di atas pundak kanan Hayati dan terus berbicara sampai Hayati tidak sadar meneteskan air mata begitu dia tersadar dengan cepat Hayati menyeka air matanya takut Alsha mengetahui dirinya sedang menangis.


"Iya nak, kamu itu satu-satunya anak perempuan bunda dan siapapun kamu bahkan kamu tidak terlahir dari rahim bunda tetap kamulah orang yang bisa memberikan kebahagiaan dalam hidup bunda," turut Hayati mengelus rambut Alsha dengan kasih sayang yang dia miliki terhadap Alsha bahkan nafas yang hangat begitu terasa di balik telinga Alsha.


Hayati melepas pelukan itu saat dirinya selesai berbicara. "Dan sekarang, kamu pergi tidur! Ini sudah larut cepat pergi tidur," pinta Hayati mencubit kedua pipi Alsha dan menggoyangkannya sesekali.


"Iya iya bun, lepasin... Alsha akan tidur! bunda bawel," kekeh Alsha menggeliat sampai cubitan itu terlepas ia berlari sambil melambaikan tangan pada Hayati.


Dari kejauhan Hayati melihat Alsha dengan tatapan kebahagiaan ia tidak menduga Alsha sudah tumbuh dewasa bersamanya dan lagi-lagi dirinya meneteskan air mata sambil terus menyekanya namun tetap melontarkan senyum kecil sembari menyambut lambaian tangan Alsha.


Setelah Alsha berlalu Hayati melanjutkan membereskan sisa makanan yang masih menempel di atas meja makan, dengan sigap ia sana kemari untuk membuang sampah dan menyapu setiap sudut meja sampai bawah kolong meja hingga bersih.


Dirinya memang sengaja tidak memakai pembantu di dalam rumah karena ia juga masih mampu untuk mengurusnya sendiri itulah prinsip Hayati dia tak ingin merasa paling hebat karena memakai tenaga orang lain jelas saja dia hanya ingin menjadi peran seorang ibu untuk anak-anaknya walaupun ia seseorang yang amat sibuk jika dirinya sedang bertugas.


Di sisi lain, saat Alsha membuka pintu kamarnya.


.


.


"Aww, kepalaku kenapa sakit begini? aaahhh sakit sekali!" rintihan Alsha sambil memegang kepalanya dan bersender di balik pintu kamar hingga terduduk ketika menahannya.


Alsha mencoba bangkit dan ingin keluar lagi untuk mendatangi Hayati berniat meminta obat karena dia fikir itu hanyalah sakit kepala biasa ternyata ia merasa mual dan ingin muntah.


Gedebug


Na'as Alsha terlentang di atas lantai tidak sadarkan diri tampak juga buih keluar dari mulutnya bahkan bibir biru pucat pasih.


...........


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan:...


Ingatlah! kejahatan tidak akan selalu menang untuk melawan orang yang baik, karena kejahatan yang kau buat akan balik pada dirimu sendiri. jadi, jangan mencoba untuk melakukan kejahatan dan mencelakai orang lain, karena karma selalu berlaku dan tidak pernh salah tempat 👏