Aku, Khanza

Aku, Khanza
Pertemuan Dari Rencananya...


...♡♡♡...


Drap


Drapp


Raut wajah Khanza langsung berubah setelah ia melihat Ratih tepat di depan matanya sehingga senyumannya itu menjadi luntur bahkan langkah kakinya terlihat mundur perlahan berniat untuk tak berdekatan pada Ratih itulah benak Khanza ketika mereka saling bertatap mata.


"Pa pegang dulu belanjaan mama ini, mama harus berbicara padanya perlahan," kata istrinya pula memberi sebuah keranjang yang sudah berisi bahan untuk dagangan mereka, lalu sang suami pun menyambutnya serta melirik Khanza yang sudah tampak ketakutan melihat istrinya bagaimana tidak jelas saja pak Yudi mengerti perasaan Khanza saat ini karena pak Yudi juga sudah mendengar semua pengakuan dari istrinya itu bahkan mereka telah berusaha mencari keberadaan Khanza sampai sang istri bertekad untuk melaporkan ke pihak berwajib atas kehilangn anak mereka namun di cegah oleh pak Yudi karena sudah pasti akan bertambah panjang urusannya sehingga tanpa di sengaja tuhan pertemukan mereka dengan Khanza kembali.


"Kha... Khanza, jangan takut pada ibuk. Khanza maafkan atas sikap ibuk yang sebelumnya sudah berniat buruk padamu, maafkan ibuk nak," lirih dari suara Ratih sehingga tampak raut wajahnya sedih bercampur bahagia sudah bertemu dengan Khanza.


"Ti... Tidak buk, jangan mendekat! Khanza mohon jangan bawa Khanza pada orang itu," ucapan Khanza yang terdengar begitu ketakutan bahkan langkah kakinya semakin mundur namun Ratih tak ingin membiarkan kesempatan untuk berbicara pada Khanza menjadi sia-sia makanya ia terus melangkah maju.


Brukk


Yeap, saat ini Ratih sudah bertumpu di kedua tumitnya sembari mengatupkan semua jemari tangannya di hadapan Khanza bahkan baju Ratih menjadi basah sebab air hujan mengguyur tubuhnya.


Ketika pak Yudi melihat istrinya melakukan hal demikian ia pun beranjak dari tempatnya berlari menuju ke tumpukan payung yang sebelumnya di ambil oleh Khanza bahkan dengan begitu cepat dia kembali lagi membawa payung yang sudah ia buka dengan lebar namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Khanza sudah menutupi tubuh istrinya menggunakan payung yang di pakai oleh Khanza.


"Buk, ayo berdiri jangan begini karena Khanza tak ingin ibuk melakukan hal seperti ini," imbuh Khanza pula sehingga ia meraih kedua pundak Ratih serta berusaha membantu Ratih untuk berdiri dan kini Ratih berdiri tepat berhadapan dengan Khanza lalu dalam sekejap ia langsung menangkap tubuh Khanza masuk dalam pelukan tubuhnya yang semakin terasa dingin di saat angin bercampur hujan berhembus menyapa dirinya.


Pelukan dari Ratih terasa makin erat sehingga Khanza hanya terdiam serta tampak pula ia pejamkan matanya ketika Ratih menepuk-nepuk pelan punggung belakang Khanza.


"Nak sungguh ibuk minta maaf atas perilaku ibuk padamu jujur ibuk sudah menyesal telah berperilaku buruk terhadap mu dan sampai sekarang ibuk masih merasa tak pantas memelukmu seperti ini namun ibuk tak bisa menahan rindu ibuk padamu karena sedari kau pergi ibuk merasa kehilangan seorang anak yang sudah ibuk sia-siakan," ungkap Ratih dengan penuh lirih dan lembutnya ia menyentuh kepala Khanza serta terus mendekapnya lebih erat.


Pak Yudi yang sedang tampak berdiri memegang payung menjadi terharu melihat keduanya sudah bertemu kembali sehingga ia sempat menitikkan air mata serta tersenyum lebar menatap ke arah mereka berdua.


Setelah Khanza mendengar ucapan dari mulut Ratih barusan tak berapa lama ia menggerakkan sebelah tangannya untuk menyambut pelukan Ratih tersebut kemudian Khanza juga sedang memeluk Ratih dengan sangat erat bahkan tiada hentinya Ratih menciumi kepala Khanza berulang kali sehingga tampak pula tetesan air mata di wajahnya.


"Buk... Khanza juga sudah memaafkan semuanya, sedari awal Khanza juga tak pernah marah pada ibuk jadi apapun yang pernah ibuk ingin lakukan sekarang lupakan saja karena Khanza sudah tak memikirkan itu lagi," ucapnya pula sembari terus memeluk erat tubuh Ratih.


"Iya nak, iya sayang... Terima kasih banyak sayang sudah mau memaafkan ibuk," suara yang penuh bahagia itu membuat pak Yudi semakin terharu sehingga ia tertawa senang melihat mereka.


Perbincangan dan pelukan itu beberapa menit usai ketika pak Yudi menghampiri keduanya.


"Iya pa," patuhnya dengan lontaran senyuman kemudian ia memegang sebelah bahu Khanza sejenak. "Khanza, kenapa kau sendirian? adikmu mana?" lanjut Ratih bahkan dia juga menyadari kalau baju Khanza juga basah.


"Zizi ada di sana buk sedang menunggu Khanza kembali," jawab Khanza sembari menunjuk ke arah warung soto pak Alim.


"Oh begini saja, pa sekarang kau temani Zizi di sana karena mama mau membawa Khanza ke dalam," pintanya pula. "Kemarikan tas baju itu pa, belanjaannya papa masukin saja ke mobil," lanjutnya lagi lalu sang suami pun memberikan yang di minta oleh istrinya.


"Baiklah tapi jangan terlalu lama," pesannya pula secara singkat kemudian ia berbalik arah dengan berjalan menuju parkiran.


"Yuk sayang kita masuk," ia pun meraih sebelah pundak Khanza dengan merangkulnya supaya bersamaan berjalan dengannya.


"Kita mau apa ke dalam buk?" tanya Khanza terlihat bingung dari raut wajahnya.


"Sudah ikut ibuk saja anak manis," jawab Ratih pula melontarkan senyuman kecil di wajahnya yang sangat jauh berbeda dari penglihatan mata Khanza saat ini seolah Khanza juga ikut tersenyum di buat oleh Ratih.


Mereka berdua pun masuk ke dalam pasar namun sebelumnya Khanza mengembalikan payung dengan menumpuknya kembali lalu tampak Ratih memasukkan beberapa lembar uang ke dalam kotak sebab di bagian kotak itu tertulis seikhlasnya memberikan uang sewa payung yang sudah di gunakan.


Sesampainya mereka di dalam pasar Ratih pun mencari toilet untuk berganti pakaian serta dalaman yang seluruhnya basah ia juga menggantinya dengan yang baru.


Sesudah ia mengganti semua pakaiannya kini ia keluar dari toilet dan kemudian ia menggandeng telapak tangan Khanza dengan membawanya ke arah sebuah toko pakaian muslim anak seusia Khanza.


"Buk, kita mau apa ke sini?" tanya Khanza yang terlihat celingukan melihat semua toko berderet menjual pakaian yang bagus-bagus.


"Sudah yuk kita masuk saja," turut Ratih pula perlahan membawa Khanza masuk ke dalam toko yang sudah ia lirik sebelum hendak mencari toilet.


Khanza pun mengikuti langkah kaki Ratih sebab tangannya juga sedang di pegang erat oleh Ratih.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Janji Tuhan itu nyata adanya dan jangan pula memegang janji pada manusia yang belum tentu akan di tepatinya sebab jika kau berbuat satu kebaikan pasti Tuhan akan menggantinya dengan berlipat ganda ❤️