Aku, Khanza

Aku, Khanza
Pertemuan Nathan Dan Zizi?


...♡♡♡...


Jalan raya lalu lintas.


"Koran... Koran... Di beli pak korannya," tampak Khanza begitu ramah menawarkan pada seorang lelaki paruh baya sedang berada di atas motornya saat lampu merah maka kendaraan pun harus berhenti sejenak akan tetapi lelaki itu menolak dan memberi isyarat pada telapak tangannya mengartikan kata "tidak" lalu Khanza mangut serta ia melangkah ke arah lain dengan terus berteriak menawarkan apa yang dia jual.


Yeap, Khanza saat ini sedang berjualan koran untuk mencari uang karena hidup terus berjalan tidak mungkin dia hanya mengandalkan nasi pemberian dari orang lain apalagi dia tak sendiri ada seorang adik lelaki yang harus dia beri kehidupan sehingga apapun caranya dia akan berjuang semampunya makanya dia tak pernah gengsi atau malu untuk melakukan pekerjaan apapun asal itu halal baginya sudah lebih dari cukup.


Sejak ia berusaha mengejar Panji kemarin kini tekadnya sangat bulat ingin menjadi orang yang sukses di kakinya sendiri dan menunjukkan pada orang-orang kalau ia bisa walau harus memijak duri yang akan menancap di kakinya itu.


Khanza juga kecewa karena panggilannya tidak di gubris padahal memang nyatanya Panji tidak mendengar suara Khanza yang memanggilnya namun walaupun begitu Khanza tak berputus asa malah ia semakin bersemangat karena masih ada sang adik di sisinya oleh sebab itu dia juga ikut berjualan koran dengan Taro dan memutuskan untuk sementara tinggal di bagian pinggir rel kereta api akan tetapi Taro mengajaknya untuk tinggal bersama dengannya dan ia juga mengatakan dari sebuah kertas yang ia tulis supaya uang yang di dapat Khanza nanti bisa di tabung supaya bisa di gunakan jika sewaktu-waktu di butuhkan begitulah permintaan Taro yang tak dapat di tolak oleh Khanza sebab Zizi merasa begitu senang ketika saat bersama Taro seolah ia mendapat teman baru walau Taro tak dapat berbicara namun Zizi sangat mengerti lewat gerakan jika Taro ada di dekatnya.


Tok


Tok


Ketukan dari kaca mobil membuat Wandi yaitu supir dari Panji langsung membukanya dari dalam.


"Ada apa dek?" tanya Wandi setelah kaca mobil terbuka lebar.


"Paman mau beli koran?"


Tampak yang sedang berbicara ternyata Zizi ingin menawarkan pada Wandi namun Nathan terlihat sedang memejamkan mata di bangku belakang.


Padahal Khanza sudah melarang Zizi jangan ikut berjualan namun Zizi tetap memaksa untuk pergi karena ia mengatakan takut jika tak ada kakaknya di samping dirinya sehingga Khanza terpaksa membiarkan adiknya itu dan berpesan tidak boleh terlalu lelah akan tetapi masih saja dirinya tak mendengar malah ia asyik berjualan hingga tak membiarkan Taro menawarkan koran sebab sedari tadi hanya Zizi yang begitu senangnya bisa berjualan dengan Taro.


"Maaf tidak dulu dek," tolak halus dari Wandi.


"Di koran ini banyak berita terbarunya paman dan kata kakak Zizi di dalam sini juga ada berita bolanya, apa paman tidak suka bola?" bijaknya Zizi berkata demikian sesaat membuat Nathan membuka matanya dan melihat dari arah bangku belakang.


Zizi? seperti nama adiknya Alsha tapi tidak mungkin bisa saja nama mereka mirip! batin Nathan yang terus menatap lurus ke arah Zizi.


"Bola? ya, paman suka bola memangnya harga koran kamu berapa dek?" tanya Wandi lagi yang terlihat gemas ketika melihat Zizi berbicara padanya karena dia sangat jarang bertemu dengan anak sebijak Zizi.


"Tidak mahal paman hanya lima ribuan saja," jawabnya pula dengan lontaran senyum cerianya itu membuat Nathan tersenyum tipis walau sekilas.


"Paman minta satu saja kalau begitu," imbuh Wandi sambil merogoh kantong saku celananya mengambil selembar uang.


Dengan penuh semangat Zizi memilah koran di tangan Taro lalu tak berapa lama ia memberikan pada Wandi sambil menoleh pada Nathan yang sedari tadi melihatnya.


"Ini dek uangnya," kata Wandi memberikan uang lima puluh ribu pada Zizi namun tampak Zizi mengerutkan wajahnya seketika.


"Yah paman uangnya terlalu besar kami tidak punya kembalian, bagaimana ini?" polosnya ia sambil menggaruk berulangkali kepalanya lalu sesekali ia menoleh pada Taro yang tampak sedang melihat saku celananya apakah ada uang recehan atau tidak ternyata Taro bergeleng kepala karena uangnya masih ada sepuluh ribu sudah pasti tidak akan cukup.


"Apa paman tidak ada uang kecil saja?" lanjut Zizi lagi.


Karena Wandi melihat gelisahnya di wajah Zizi sebab itu ia berusaha merogoh tas kecil miliknya siapa tahu ada uang yang pas itulah fikirnya dan tak berapa lama ia menemukan selembar uang sepuluh ribu sehingga ia meraihnya. "Ini dek, paman ada uang sepuluh ribu ambil saja semuanya tak usah di kembalikan," katanya pula demikian dengan lontaran senyum kecil ke arah Zizi.


"Benarkah paman? terimakasih banyak," riuh Zizi ketika ia menyambut uang selembar itu dari tangan Wandi melontarkan senyum bahagianya.


Bahkan Nathan yang melihatnya saja merasa senang karena anak sekecil Zizi bisa merasakan syukur padahal hanya bersisa lima ribu kalau di kembalikan pada Wandi namun sudah begitu gembiranya, dan dalam seketika Zizi menatap lagi ke arah Nathan karena ia sadar kalau Nathan sedari tadi melihat ke arahnya.


"Halo kak, apa kakak juga ingin membeli koran?" tanya Zizi melebarkan senyumnya walau dari luar namun ia tampak jelas melihat Nathan yang ada di dalam.


"Hah," sesaat Nathan tersadar dari lamunannya karena di tegur oleh Zizi.


Belum sempat Nathan menjawab malah Taro menarik lengan Zizi di karenakan lampu sudah hijau menandakan kendaraan akan jalan dan di saat yang bersamaan Khanza memanggil mereka berdua dari jauh.


Suara itu? batin Nathan yang langsung melihat ke arah belakang dengan sigap.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Di saat orang susah menikmati hidupnya sekecil apapun yang di dapatkan hanya rasa syukur yang menemani setiap harinya sebab susahnya dia menjadi nikmat kalau rasa syukur melekat di hatinya ❤️