Aku, Khanza

Aku, Khanza
Hilang Satu Tumbuh Seribu?


...♡♡♡...


Perbincangan hangat terus berlangsung sehingga mereka juga masih terlihat bercanda gurau serta mengenang masa sekolah ketika bersama Alsha bahkan Amel terus meyakinkan Devan kalau dirinya akan segera kembali walaupun Devan berat rasanya untuk menerima kepergian Amel namun ia tak mungkin berkata jujur pada Amel makanya ia berpura seakan sudah menerimanya.


Sudah cukup lama mereka berdua berbincang dan pada akhirnya Amel memang harus berpamitan dengan Devan juga Nathan karena ini menjadi terakhir baginya bersama dengan mereka sebab dia harus pulang serta membereskan semua barangnya namun Amel tak dapat berpamitan lebih dulu pada Hayati karena kondisi Hayati masih lemah bahkan sampai sekarang belum sadar juga makanya Amel menitip salam lewat Devan.


Yeap, kini Amel sudah harus bergerak pergi serta tampak dirinya sedang memesan taksi online padahal Devan mengusulkan untuk menemaninya pulang akan tetapi Amel menolak karena ia tahu kalau Devan sudah sangat lelah makanya dia lebih memilih untuk pulang sendirian.


Setelah Amel berlalu pergi hanya tersisa mereka berdua saja yang ada di depan ruang UGD sebab Wandi sudah di suruh pulang oleh Nathan ketika Amel dan Devan sedang berbincang sebelumnya.


Kreekk


Pintu ruang UGD seketika terbuka lebar sehingga tampak seorang suster wanita separuh baya dan dokter yang terlihat keturunan Chinese melangkah keluar dari ruang tersebut lalu berhenti tepat di hadapan Nathan juga Devan yang memang sedari tadi sudah menunggu kehadiran sang dokter.


"Apa kalian keluarga dari pasien?" tanya dokter itu.


"Ya dok benar kami keluarganya, ada apa dok?" tanya Nathan balik.


"Saya sudah memeriksa keadaan pasien sebelumnya namun pasien saat ini benar-benar kekurangan cairan dalam tubuhnya sehingga tubuh pasien di katakan dehidrasi berat bahkan jantungnya juga melambat saat ini makanya pasien saya pakaikan alat penormalan detak jantung jadi kalian tidak perlu cemas karena pasien akan segera membaik hanya saja kondisinya belum stabil dan kemungkinan besok pasien akan sadar kembali ," ungkap dokter tadi secara detail. "Kami juga telah memasukkan cairan vitamin ke dalam tubuhnya lewat oksigen," lanjutnya lagi.


"Baiklah dok kami sudah mengerti, terima kasih dok atas penjelasannya."


Keduanya secara serentak mengatakan hal demikian sembari sedikit bungkukkan badan dan melontarkan senyuman kecil.


"Sama- sama ya karena itu sudah menjadi tugas saya," tutur sang dokter membalas dengan ramah. "Kalau begitu saya pergi dulu dan pasien sebentar lagi akan di pindahkan ke ruangan intensif sesuai yang kalian inginkan," katanya pula sembari bergerak dari tempatnya kemudian ia berjalan ke arah lorong dengan di ikuti seorang suster di belakangnya.


Setelah Hayati masuk ke ruang UGD sebelumnya Nathan berhenti di sebuah administrasi serta menyelesaikan pembayaran sekaligus meminta kamar dengan fasilitas yang lengkap sebab sudah pasti Hayati akan di rawat dalam beberapa hari ke depan makanya ia memilih kamar yang nyaman untuk Hayati bahkan semua itu ia lakukan tanpa di ketahui oleh Devan juga Amel, padahal sedari awal perbincangan di mobil sudah di sepakati bahwa urusan biaya akan saling berbagi namun Nathan tak ingin melakukan hal tersebut karena ia masih mampu walau harus menggunakan semua tabungan miliknya, yeap memang Nathan sudah menggunakan uang tabungannya dengan membayar seluruhnya makanya Devan menjadi kaget di saat dokter menyinggung masalah ruang intensif sehingga Devan tampak terheran karena semuanya sudah di selesaikan oleh Nathan.


Ketika sang dokter telah berlalu pergi kini tampak Nathan sedang bergerak untuk kembali duduk sehingga Devan terus melirik ke arah Nathan seolah ia ingin mengumpulkan keberanian untuk mengajak Nathan berbincang padanya.


Devan juga ikut berjalan ke arah bangku kemudian dia duduk bersebelahan dengan Nathan walau sedikit berjarak akan tetapi sorotan mata Devan terus saja menatap ke arah Nathan.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu? apakah ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Nathan yang sudah menyadari lebih dulu sehingga ia menoleh ke samping dengan tatapan santainya namun membuat bulu kuduk Devan jadi naik sebab ia tak pernah berbicara sampai bertatap muka pada Nathan sebelumnya makanya ia terlihat canggung.


"Ah, ti -tidak! aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu karena ide mu ini kita jadi bisa selamatkan bundanya Alsha," katanya pula dengan berusaha ramah sehingga Devan melontarkan senyum cerianya itu.


"Apakah kakek mu mengenal Alsha?" tanya Devan pula dengan tampang ingin tahunya menatap ke arah Nathan.


"Bukan hanya sekedar kenal bahkan Alsha lah yang menolong kakek ku saat berada dalam bahaya, apa kau tak ingat ketika aku mengantar Alsha pulang ke rumah?" tanya Nathan sembari menoleh dengan menatap ke arah Devan.


"Ya, aku masih ingat itu!" jawab Devan singkat serta anggukan kepala.


"Alsha hampir saja di lecehkan oleh para preman dan di sembunyikan dalam sebuah markas sehingga aku menemukan Alsha sudah tak sadarkan diri lagi," katanya pula.


"Kau dari mana tahu Alsha sedang di sembunyikan dalam markas?" tanya Devan lagi.


"Awalnya aku sedang mencari kakek ku yang sudah sebulan lamanya pergi dari rumah sampai aku menemukan beliau tepat di jalanan tergeletak dan sebelum itu pengawal ku melihat seorang gadis sedang di gendong oleh mereka namun aku tak bisa memastikan itu gadis yang ku kenal atau tidak akan tetapi aku terus berusaha mengingat sehingga pada akhirnya aku melihat darah yang berceceran mengarah di sepanjang jalan tepat setelah aku membawa kakek ke mobil," ungkapnya pula sembari mendongak kembali.


"Oh, pantas saja kau membawa pulang Alsha karena malam itu juga aku dan tante sedang ingin mencarinya," imbuh Devan membenarkan ucapan Nathan.


"Makanya sekarang kakek ku sedang memikirkan Alsha terus menerus sebab keberadaan Alsha belum juga di ketahui hingga saat ini kakek sedang menyuruh para bawahannya untuk mencari Alsha bahkan aku pun ikut turun tangan mencari Alsha jadi bagaimana pun caranya kita harus menemukan Alsha secepatnya."


Kepalan tangan serta ucapan Nathan terdengar lirih sehingga Devan menghembus nafas pelan serta terus menatap kesungguhan Nathan saat mengatakan hal barusan.


"Apa kau menyukai Alsha?"


Zleeeppp


Degub jantung serta darah mengalir langsung naik ke otak Nathan ketika ucapan Devan terdengar jelas di telinganya.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Mulut bisa berbohong namun tidak untuk soal hati sebab jika hati sudah berkata sesuai naluri mu maka mulut pun tak dapat berkata lain karena hati tak dapat di bohongi ❤️