Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kepuasan Hati Juna?


...♡♡♡...


"Dik.. Dik, ayo bangun kita sudah sampai."


Lelaki yang menyamar sebagai sopir itu sedang tampak membangunkan Khanza yang terlanjur lelap sedari usai perbincangan mereka sehingga lelaki itu menggoyangkan bagian lutut kaki Khanza berulang kali.


Khanza pun tersadar dan ia juga membuka matanya perlahan serta melihat suasana yang ada di dekatnya begitu banyak pohon juga tumbuhan seperti dirinya sedang berada di tengah hutan saja makanya ia tampak bingung sehingga terlintas di benaknya mengapa ada rumah di daerah seperti itu begitulah yang terfikir olehnya.


"Apakah ini rumah kontrakan milik ibu dan bapak?" tanya Khanza sejenak menoleh ke arah lelaki tersebut.


"Ya dik, inilah rumahnya yang sudah lama tidak ada penyewanya lagi tapi mereka nanti akan menyusul kalian di sini jadi jangan takut," monolog lelaki itupula berkata dengan sangat meyakinkan sehingga Khanza hanya membuang nafas kecil serta melihat adiknya dari samping.


Puk


Puk


"Zi ayo bangun kita sudah sampai," ucap Khanza dengan menepuk pelan sebelah pipi adiknya sehingga Zizi pun tersadar sembari menguap kecil.


"Kita di mana ini kak?" tanya Zizi pula ketika ia melihat suasana rumah tersebut nampak sangat suram.


"Ini rumah kontrakan ibu Ratih juga pak Yudi," jawab Khanza secara santai sebab ia begitu memahami adiknya jika sudah nampak takut pasti Zizi akan menghisap jempolnya. "Ayo di lepas kau sudah besar jangan lagi di biasakan," lanjutnya serta ia memegang kedua tangan Zizi dan mengelusnya pelan supaya Zizi tak merasa takut lagi makanya ia sekaligus menggenggam kedua tangan adiknya secara erat.


Di saat kedua bersaudara itu sedang berbicara sementara lelaki yang membawa mereka turun lebih dulu dan mengarah ke pintu rumah tersebut.


"Zi, ingat pesan kakak apapun yang terjadi pada kita berdua kau jangan lepaskan tangan kakak, apa kau mengerti Zi?" tegas kakaknya menatap serius ke arah sang adik sehingga Zizi hanya anggukkan kepala menuruti perkataan kakaknya itu. "Bagus, anak pintar! sekarang kita turun," ajak kakaknya pula sembari memegang terus lengan tangan adiknya.


Mereka sudah tampak turun dari mobil tersebut dan berjalan ke arah pintu rumah yang telah di buka oleh lelaki penyamar itu bahkan di saat mereka memasuki rumahnya begitu pengap serta hidung mereka serasa tidak enak karena yang terasa hanyalah debu yang sangat pekat mengisi ruang kosong tersebut.


Uhuk


Uhukk


Tampak Zizi berulang kali mengeluarkan suara batuk sehingga kakaknya sesekali menepuk bagian pundak belakang adiknya bahkan ia juga berusaha menahannya dengan terus menutup bagian hidungnya sendiri.


"Beginilah keadaan rumah kalau sudah lama tidak ada yang menempati makanya terlalu banyak debu di ruangan ini, kalian jalan saja ke arah sana ada sebuah kamar dan di situ juga ada tempat tidurnya kalian bisa istirahat sebentar mungkin tidak lama lagi mereka akan datang ke sini," monolog lelaki itu sembari berbicara hingga bergerak mengeluarkan debu dari jendela sampai ke arah luar pintu rumah.


Khanza pun mangut menuruti yang di katakan lelaki tersebut lalu ia berjalan ke arah yang di perintahkan oleh lelaki tadi dengan memegang erat lengan tangan adiknya.


Lelaki tersebut melirik ke arah samping serta tampak pula senyuman jahat di wajahnya hingga seringaian terlihat jelas di balik bibirnya itu dengan berpura-pura ia menyibukkan dirinya namun matanya masih mengarah pada kedua bersaudara itu.


Setelah keduanya tak terlihat lagi lelaki itu berjalan ke arah pintu rumah lalu ia keluar dan mengunci pintu dari luar pula serta tak lupa pula ia menutup jendela kembali secara rapat.


Sesampainya ia di sebuah tempat persembunyian ia pun merogoh ponsel genggam di dalam saku celananya kemudian bermainlah jemari tangannya itu sedang mencari nomor kontak seseorang yang akan ia hubungi.


Tutt


Tutt


Ponsel tersebut ia lekatkan ke arah telinganya sambil menunggu panggilannya tersambung.


"Bos rencana kita berhasil dan sekarang kedua anak itu sudah ada di tanganku ternyata benar bos mereka percaya begitu saja setelah aku menyebut nama perempuan beserta suaminya itu, hahah pokoknya semua beres bos!" gelak tawa lelaki yang bernama Juna merupakan salah satu bawahan Guntur terdengar puas mengatakan hal demikian.


^^^"Bagus! jangan sampai mereka lolos dari rumah itu, kau harus ekstra menjaganya sampai aku tiba di sana. Apa kau dengar ucapanku?" tegas Guntur pula bernada keras.^^^


"Siap bos! serahkan semuanya padaku dan bos tenang saja rumah itu sudah aku kunci dari luar," jawabnya secara meyakinkan sehingga Guntur seakan puas dengan cara kerja bawahannya itu.


^^^"Tapi kau tetap jangan menjadi lengah dan berbangga diri kalau saja mereka sampai lolos orang yang pertama aku habisi kau Juna!" semburan Guntur mendengungkan telinga Juna makanya ia menjauhkan ponsel genggamnya sedikit menjauh.^^^


"Iya bos siap, aku laksanakan perintah bos!" balasnya secara lantang lalu Guntur pun memutuskan panggilan tersebut sedangkan Juna menggosok telinganya karena masih terasa berdengung.


.


.


.


"Hoam!"


"Sudah enak tidurnya? tak ku sangka kau selelap itu Zikmal, apa kau tidak lapar?" tanya Matt yang seketika menegur Zikmal sebab dirinya kian duduk di sofa setelah menyelesaikan operasi untuk anak lelaki yang di bawa oleh temannya itu.


"Kau sejak kapan duduk di sini? apa operasinya sudah selesai?" tanya Zikmal yang terlihat sedang mengumpulkan kesadaran setelah ia bangun dari tidurnya yang panjang.


"Aku baru saja datang dan melihatmu masih tertidur," jawab Matt pula sembari menyandarkan tubuhnya di bagian sofa kemudian ia bergerak seketika ke arah meja kerjanya lalu meraih sebuah berkas berbentuk map hingga ia berjalan kembali ke sofa dan memberikan langsung ke tangan Zikmal. "Nah, kau bacalah hasil operasi yang aku lakukan pada anak itu karena kau harus tahu apa resikonya setelah menjalani operasi ini karena pilihan itulah satu-satunya kalau tidak nyawanya tidak akan bisa di selamatkan," perjelas Matt pula sehingga Zikmal dengan hati yang gelisah membuka map yang ada di tangannya itu.


• Perdarahan otak


• Penggumpalan darah


• Koma


• Infeksi


• Stroke


• Gangguan memory ( hilang ingatan )


• Lumpuh


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Sakit yang di alami manusia juga sebagai penggugur dosa yang telah di lakukan sebelumnya jadi jika kita mengalami penyakit maka kuncinya tetap jalani dengan hati yang lapang sebab penyakit yang datang juga dalam versi yang berbeda dan tidak akan sama karena setiap manusia punya batas kemampuan masing-masing ❤️