
...♡♡♡...
Malam hari.
Ruang rias modeling.
Tok Tok Tok
Ketukan pintu berulang kali terdengar jelas sampai ke dalam ruangan.
Kleekk
Pintu ruangan terbuka lebar sesaat.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Yuli menyambut seorang lelaki yang mengetuk pintu sebelumnya tampak ia menautkan kedua alis matanya pula.
"Maaf nona sebelumnya saya telah mengganggu anda, saya waiters pengantar minuman jadi semua yang ada di aula ini saya khusus di perintahkan untuk memberikan langsung pada para pengunjung, silahkan nona ambil beberapa minuman yang anda butuhkan," monolognya terlihat ramah serta tampak senyum kecil di pinggir bibirnya.
"Oh, tapi maaf saya lagi tidak haus," katanya menolak dengan nada sopan.
Tap Tap
Tiba-tiba saja terdengar arah kaki melangkah mendekati Yuli yang sedang berbicara dengan waiters tadi.
"Ada apa sih? kok kau lama sekali di depan pintu?" tanya Putri yang setibanya menyapa dengan merangkul pundak Yuli, seketika Putri melebarkan matanya melihat minuman bersoda dingin terdapat toping krim coklat di atasnya. "Wahh ini yang aku tunggu! kebetulan aku begitu haus tidak ada minuman di dalam," lanjutnya lagi dengan mengoceh terus serta langsung meraih beberapa gelas untuk di bawa masuk.
"Silahkan ambil saja nona," turut waiters itu dengan ramah tampak bungkukan badan secara sopan.
"Terimakasih dan sekarang pergilah karena tugasmu sudah selesai," kata Putri yang kelihatan tidak sabar lagi ingin segera menghabiskan minuman yang dia bawa sampai rasa haus meliputi seluruh kerongkongannya.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu dan semoga hari-hari kalian menyenangkan nona cantik," ucapnya pula melontarkan senyuman manis sampai membuat Putri berbinar ketika di puji seorang lelaki.
"Manis sekali mulutmu berbicara, berbalik untukmu juga tuan tampan," celoteh Putri yang tampak berseri di wajahnya ketika membalas senyuman waiters tersebut.
Namun Yuli hanya mendengarkan ocehan Putri saja tanpa ikut berbicara sehingga ia mengelus berulang kali pundak lehernya sambil membuang wajahnya karena merasa mulai jengah dengan kecentilan Putri yang tiada duanya itu.
"Se you next time nona, mari..." Lambaian jemari tangan waiters itu serta kedipan sebelah mata membuat rona wajah tampak jelas di kedua pipi Putri.
Waiters tadi langsung beranjak dari tempatnya melangkah perlahan sambil membawa sisa minuman yang ada di tangannya.
"Aduuh! aku lupa bertanya namanya dan seharusnya aku tanya nomor ponselnya, aaahhh aku bodoh sekali," gerutunya sesaat tampak cemberut serta masih terus mengoceh walau sudah masuk ke dalam ruangan.
Akan tetapi tatapan Yuli pada waiters tadi sungguh sangat tajam karena dia melihat keanehan dari baju waiters tersebut tidak ada bed nama apalagi dia juga merasa heran kenapa waiters mengantar minuman ke setiap ruangan bukankah hanya mengantar minuman untuk para tamu undangan saja karena Yuli sudah lama bekerja sebagai bawahan MUA tidak pernah sekalipun dia mendapat minuman dari seluruh acara yang dia hadiri, sejenak dia berfikir hal demikian.
Lontaran dari tatapan Yuli terus terfokus pada waiters yang dia curigai sampai tak terlihat lagi barulah dirinya masuk ke dalam dengan perasaan yang tidak enak.
Yuli duduk sambil merapikan sepatu untuk dia masukkan kembali ke dalam koper.
"Yul, kau tidak haus? minum dulu nih," cakap Putri tampak meletakkan satu gelas berisi minuman soda tadi di atas meja, kemudian dia melangkah ke arah Tiara yang sedang melipat baju. "Ra minum dulu nah kau juga haus, kan?" katanya pula dengan menyuguhkan segelas minuman di hadapan Tiara.
"Terimakasih Put," sambut Tiara pula meraih gelas tadi dari tangan Putri.
Putri duduk bersebelahan dengan Tiara sambil meneguk minumannya sedangkan matanya menatap Yuli sedari jauh karena belum menyentuh minuman yang dia letakkan di atas meja.
"Yul, minumlah dulu! apa kau tidak lelah? sedari tadi kau juga belum ada istirahat dan minum," celoteh Putri yang masih terlihat menikmati minumannya hingga setengah.
"Nanti kalau aku haus juga akan minum tanpa kau suruh," jawabnya pula seolah santai namun tidak menoleh sedikitpun pada Putri.
Kemudian Putri menaikkan sebelah alis matanya dengan menatap sinis ke arah Yuli saat ia mendengar ucapan dari mulut Yuli tanpa melihat dirinya sehingga Putri merasa jengkel dengan sikap Yuli yang begitu cuek padanya.
Putri meletakkan sisa minumannya di atas meja setelah itu ia bangkit dan meraih gelas yang masih utuh untuk Yuli lalu setelahnya dia berjalan mendekati Yuli yang masih enggan melihat dirinya.
"Nah minum," suguhan Putri tepat di depan mata Yuli terdengar memaksa.
"Kau tidak dengar? aku bilang letakkan saja, nanti kalau haus aku bisa ambil sendiri."
Ucapan yang terdengar tegas itu membuat Putri menjadi kesal karena Yuli sama sekali tidak melihat dirinya yang sudah memberikan perhatian padanya.
Dalam selangkah saja Putri langsung memegang mulut Yuli dan membukanya secara paksa hingga masuklah minuman tadi ke tenggorokan Yuli sampai berserakan mengenai baju Yuli.
"Kau apa-apaan sih! kenapa kau memaksa begitu? aku tidak suka Put dengan cara kau seperti ini!" kelakar Yuli tampak begitu marah dari balik sorot matanya menatap Putri yang sudah tersenyum puas melihat Yuli telah meneguk minuman darinya walau harus dengan cara paksaan.
AAAKKHHH
"Kepala ku sakit sekali," teriakan Tiara pecah menggelegar seisi ruangan hingga menjambak rambutnya sendiri karena menahan sesuatu yang tidak tahu apa penyebabnya.
Seketika mata Yuli dan Putri menoleh pada Tiara yang menjerit setelah menghabiskan minumannya.
Gedebug
Tak berapa lama Tiara terkapar di lantai tidak sadarkan diri lagi.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Orang yang terlihat diam di luar belum tentu dia bisa menerima perbuatan orang lain padanya, karena orang yang pendiam sangat sensitif pada harga dirinya ❤️