
...♡♡♡...
Tetesan air mata Khanza terlihat jelas seusai ia menceritakan kisahnya saat bersama ibu kandungnya dahulu dan buk Meli terus menatapnya dari samping sehingga tampak air mata berkaca-kaca dari sorot matanya seolah merasakan kesedihan di balik wajah Khanza serta ia terus menyentuh kepala Khanza yang sudah tertutup oleh hijabnya itu.
"Lalu dimana keberadaan ayah kalian sekarang?" tanya buk Meli yang masih tampak membelai kepala Khanza secara hangat.
Karena mendengar pertanyaan dari buk Meli barusan tentu saja Khanza tidak memilki jawabannya sebab ia juga tidak tahu di mana ayahnya sekarang apalagi ia juga sudah berapa bulan tidak pulang ke rumahnya karena Hayati selalu sibuk bahkan ayahnya juga tidak memberi kabar padanya makanya Khanza hanya bergeleng kepala sembari menyeka air mata di pipinya dengan lontaran mata yang sendu menatap ke arah buk Meli.
Tampak buk Meli melebarkan senyumnya ketika melihat ke arah Zizi yang sedang asyik bermain dengan Taro lalu buk Meli kembali menoleh pada Khanza yang tepat duduk di sebelahnya.
"Kau gadis yang hebat nak, ibuk sangat bangga padamu karena kau bisa memikul beban mu sendiri untuk menjaga adik mu," imbuhnya dengan terus membelai kepala Khanza serta ia memegang pelan ujung dagu di wajah Khanza.
Khanza mendengarnya seperti ada suatu semangat yang mendorongnya untuk lebih kuat lagi dalam menjalani kehidupan.
"Kau justru sudah berhasil berperan sebagai kakak, sekarang kau lihat ke arah sana."
Sejenak buk Meli menggerakkan jari telunjuknya ke arah Zizi. "Kau lihatlah adikmu yang sudah tumbuh besar karena ada kakak yang sangat hebat di sampingnya dan pasti dia sangat bangga punya seorang kakak seperti mu Khanza," lanjut buk Meli lagi memberikan senyuman tipis begitu hangatnya terlihat di mata Khanza.
"Terimakasih buk, namun Khanza belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk adik Khanza saat ini," lirihnya berkata demikian sembari tertunduk lesu.
Buk Meli kembali menyentuh dagu Khanza dengan lembut. "Ayo angkat wajah cantik mu nak, sebab ibuk sangat yakin suatu saat kau akan menjadi anak yang berhasil dan sukses sehingga kau bisa memberikan kehidupan yang layak untuk adikmu jadi kau harus yakin pada diri mu sendiri serta kerja keras yang kau lakukan untuk adikmu," cakap buk Meli menggenggam erat semua jemari lentik tangan Khanza bahkan ia sempat mencubit pipi Khanza sangking kagumnya pada anak gadis yang di katakan belum dewasa namun Khanza sudah memikul beban berat di pundaknya.
Khanza menyeka sisa air matanya dan tersenyum bahagia di depan buk Meli sebab ia begitu mendapat dukungan yang membuat dirinya ceria kembali.
Tepat pada pukul 11.41 siang terdengar suara adzan sangat merdunya dari arah mesjid dan kebetulan dekat dengan rumah buk Meli sehingga mereka berdua berhenti berbincang sebab jika suara adzan sudah berkumandang maka kita di wajibkan untuk berdiam lalu mendengarkannya serta tidak boleh melakukan kegiatan yang bisa mengganggu kita dalam lantunannya bahkan di haruskan bagi kita untuk segera melaksanakan panggilan tersebut tanpa menunggu waktu nanti dan nanti karena dalam sholat kita bisa lebih dekat dengan sang pencipta.
Hadist tentang salat yang diriwayatkan oleh Anas RA, Nabi SAW bersabda :
"Yang pertama kali akan di hisab dari seseorang pada hari kiamat adalah sholat. Jika sholatnya baik, akan baik pula seluruh amalnya. Jika sholatnya rusak akan rusak pula seluruh amal perbuatannya."
Wallahi...
Setelah adzan selesai berkumandang tampak Khanza merapikan semua korannya serta ia tumpuk menjadi dua bagian lalu ia kembali menoleh pada buk Meli.
"Buk, Khanza mau pamit dahulu karena sudah waktunya sholat dzuhur dan sekali lagi Khanza mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan ibuk karena sudah banyak menolong Khanza hari ini," ucapnya pula dengan sangat merendah.
"Apa kau sudah mau balik nak? tidak makan siang di rumah ibuk?" tanya buk Meli sejenak meraih lengan Khanza seperti ia merasa sangat cepat untuk berbincang padanya.
"Khanza juga ingin melanjutkan berjualan setelah sholat, Khanza tak ingin merepotkan ibuk lagi sudah lebih dari cukup ibuk bantu Khanza," balasnya sembari bungkukkan badan setelah pegangan tangan buk Meli terlepas dari lengan Khanza.
"Baiklah buk Khanza pamit sekarang," imbuhnya sembari mengulurkan tangan dan buk Meli memberikan tangan kanannya serta Khanza mencium punggung tangan buk Meli yang sudah nampak keriput itu.
Anak yang berbakti seperti ini, aku rela mengorbankan walau seribu anak kandung untuk bisa menjadi ibunya. Batin buk Meli berkata demikian sehingga ia sangat kagum pada sikap Khanza padahal ia baru saja bertemu dengannya.
Seusai bincangan kemudian Khanza menoleh pada Zizi serta Taro yang masih larian saling mengejar dan secara bersamaan buk Meli juga Khanza berdiri dari tempat duduknya.
"Zizi, Taro ayo kita harus kembali cepat sini pamit sama nenek," ajak Khanza pula sehingga mereka berhenti bermain.
Zizi dan Taro pun berlari ke arah buk Meli hingga bergantian pula menciumi punggung tangan buk Meli bahkan Zizi memberikan senyum cerianya sebab ia senang sudah bertemu buk Meli yang sempat menolong kakaknya.
"Ohya tunggu dulu sebentar," cegah buk Meli pula dan sejenak ia beranjak dari tempatnya lalu berjalan ke arah warung miliknya.
Ketiganya hanya melihat dari jauh karena merasa bingung.
Tak berapa lama buk Meli kembali dengan membawa bungkusan plastik yang sudah ia isi dengan tiga macam roti biskuit, empat snack, serta minuman empat macam yang ia masukkan semua menjadi satu kemudian ia melenggang ke arah mereka.
"Nah ambil lah, kalian bawa untuk di jalan saat lapar kalau jualan," ia langsung meraih tangan Khanza dan memberikannya.
"Tapi buk.."
"Sudah ambil, tidak ada penolakan!" gelengan kepala serta bermain pula jari telunjuk dari buk Meli.
Khanza tak dapat mengatakan apapun lagi dan hanya tersenyum kecil merasa memiliki keluarga baru baginya.
Seusai ia menerima bungkusan tersebut kemudian Khanza meraih lengan Zizi lalu Taro memegang lengan Zizi yang sebelumnya Zizi juga Taro sudah memegang koran di tangan mereka masing-masing .
Mereka bertiga melenggang tampak sudah berlalu pergi dari buk Meli namun buk Meli terus melambaikan kedua tangannya. "Jangan lupa sering main ke sini..." Teriakan dari buk Meli membuat ketiganya menoleh ke belakang serta memberi senyuman bahagia di wajah ketiganya.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Perbaiki sholat mu maka allah perbaiki hidup mu ❤️