
...♡♡♡...
Cip Cip
Terdengar kicauan suara khas burung gelatik yang memang biasanya hinggap di antara tanaman samping rumah keluarga Austin dan setiap paginya semua pengurus rumah memang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing apalagi khusus Yeni dan Yani juga di utus untuk menjadi bagian kepala pengurus rumah sekaligus mengerjakan pekerjaan mereka juga.
Suasana pagi itu masih sekitar 7 tepatnya semua pengurus rumah sedang sibuknya dengan pekerjaan mereka bahkan tak ada yang bersantai di waktu setiap paginya tampak juga koki dapur memang khusus memasak untuk sajian keluarga Austin hingga tiap harinya dia harus datang tepat pukul 6 pagi sudah harus stand by di dapur karena dia juga harus mempersiapkan segala bahan di dapur.
.
.
.
Tok Tok
"Ya masuklah."
Seketika Nathan pun membuka pintu kamar kakeknya dengan tampilan yang sudah siap mau berangkat karena ia juga harus masuk tepat pukul 8 pagi jika telat sedikit saja maka gerbang pun di tutup.
"Kek, jangan lupa sarapan aku mau berangkat sekarang kalau kakek membutuhkan apapun tinggal minta saja," pesan Nathan dari depan pintu yang tampak ia buka sedikit karena ia sudah tak sempat lagi untuk berbincang lebih banyak apalagi dia sudah telat bangun sehingga sarapan pun dia tak sempat.
"Berhati-hatilah di jalan," lontaran serta senyuman lebarnya itu membuat Nathan terheran terlihat seperti ada sesuatu yang di paksakan oleh kakeknya itu karena dia merasa ada keterpaksaan dari wajah sang kakek namun Nathan tak ingin berfikir sejauh apa yang dia liat.
"Ohiya mama tadi bilang padaku kalau mereka ingin pergi ke inggris pagi ini, apa kakek sudah mengetahuinya?" tanya Nathan pula sambil menatap lurus ke arah kakeknya yang masih tersenyum tipis.
"Kakek sudah tau, udah pergi sana! nanti kau jadi telat jangan lupa rajinlah belajar," lagi-lagi Nathan curiga dengan senyuman kakeknya itu karena ia merasa ada suatu keganjalan yang membuatnya jadi bingung.
"Apa kakek baik-baik saja?" tanya Nathan tampak menaikkan sebelah alis matanya.
"Memangnya kakek kenapa? kakek sudah lebih baik sekarang," balasnya pula terlihat santai.
"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu kek, ingat jangan telat makan siangnya harus jaga kesehatan supaya kakek cepat sembuh," celotehnya masih merasa tidak yakin saja dengan ucapan kakeknya barusan.
"Iya, dasar cerewet kau," ledekan kakeknya sambil tertawa kecil.
Di saat Nathan ingin melangkah ia masih saja melirik kakeknya dari samping.
"Nat, kakek sayang padamu kau harus jadi orang yang lebih sukses lagi dari kakek mu yang tua ini," selorohnya karena ia tahu Nathan pasti belum pergi dari kamarnya.
"Pasti kek, karena aku ingin membuat kakek bangga padaku," ucapnya yang terdengar dengan tegas. "Aku pergi kek," lanjutnya lagi setelah ucapannya selesai ia langsung beranjak dari tempatnya lalu ia menutup kembali pintu dengan rapat yang sebelumnya ia melihat sang kakek hanya anggukan kepala tak berbicara padanya lagi.
Nathan mulai melenggang berlalu dari kamar kakeknya sambil mengelus pundak leher sesekali. "Apa aku saja yang merasa ada sesuatu? kenapa aku jadi kefikiran ya?" gumamnya pula sambil terus mengelus pundak lehernya dan sekilas menoleh ke arah kamar kakeknya dari jauh.
.
.
.
"Ma aku deluan," sapa dari jauh pula.
"Kau benar tak ingin makan lebih dulu?" tanya ibunya pula tampak ayahnya juga menoleh pada dirinya.
"Tidak aku bisa makan di kantin saja, ohya mama berhati-hatilah di jalan kalau begitu aku pergi dulu," cakapnya sesingkat mungkin lalu ia berbalik arah ingin beranjak pergi.
"Kau tak pamit pada papa mu?" lontaran ibunya membuat Nathan melirik dari arah samping.
"Pa aku pergi," pamitnya pula setelah itu tanpa mendengar terlebih dulu balasan dari ayahnya ia pun langsung beranjak dari tempatnya.
Yeap setiap paginya Nathan selalu berpamitan pada ibunya karena ia tak pernah melihat ayahnya duduk di meja makan kalau ia mau berangkat akan tetapi hari ini duduk bersama karena mungkin kebetulan ingin pergi ke inggris, itulah fikir Nathan.
Seusai Nathan berlalu pergi tampak Chelsea juga David sedang makan bersama di ruang meja makan yang terlihat hanya mereka berdua saja sebab Panji menolak untuk makan bersama mereka dia mengatakan lebih nyaman di kamar saja.
Dalam beberapa menit berlangsung kedua pasangan itu pun bersiap untuk bergerak karena tiket pesawat sudah mau cek out penerbangan makanya mereka langsung bergerak menuju kamar Panji untuk berpamitan namun setelah mereka singgah ke kamarnya ternyata Panji tidak ada di dalam maka mereka sempat berkeliling mencari keberadaan Panji dengan langkah yang cepat.
Ternyata Panji sedang duduk bersandar di sebuah bangku panjang merebahkan tubuhnya terlihat sedang menikmati sinar matahari berdekatan dengan arah taman bahkan tampak juga Yeni dan Yani mengupas buah untuk Panji.
"Pa kami sudah ingin berangkat," teguran dari David meletakkan kedua tangannya di kedua pundak ayahnya itu.
"Pergilah," singkatnya pula yang masih memejamkan matanya.
"Papa kalau membutuhkan apapun bisa langsung pada mereka dan aku juga tidak akan lama di sana," timpalnya lagi sambil menepuk perlahan kedua pundak ayahnya.
Akan tetapi Panji hanya diam saja tak membuka suara lagi sehingga David juga ikut terdiam lalu dia melirik dari samping mengarah pada Chelsea dengan anggukkan kepalanya.
"Pa, aku juga akan pergi bersama David jadi papa harus menjaga kesehatan," cakap Chelsea yang berbicara setelah ia melangkah lebih dekat pada sang mertua sebelumnya.
Namun masih sama saja Panji tak juga menjawab perkataan dari Chelsea bahkan mereka berdua saling berpandang sehingga tampak sekilas Yeni dan Yani merasa ada keanehan pada sikap ketiganya.
"Yeni, Yani kalian harus selalu melihat keadaan tuan dan mengatur jam makannya, apa kalian mengerti?" saat Chelsea menoleh pada keduanya ia melontarkan pesan yang tegas.
"Ya nyonya kami mengerti," serentak mereka tampak patuh hingga bungkukkan badan dengan bersamaan pula.
"Baiklah kalau begitu," singkatnya lalu ia menoleh pada sang mertua. "Pa kami pergi dulu," ia pun menyentuh punggung tangan mertuanya itu yang tampak dingin padanya.
Panji hanya anggukan kepala sekali tanpa berbicara sepatah katapun lagi.
Karena mereka tak ingin membuang waktu lagi akhirnya keduanya pergi dari taman itu menuju ke arah mobil yang sudah di tunggu oleh Ded untuk mengantar mereka ke bandara karena sebentar lagi waktunya penerbangan berkisar 15 menit tersisa.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan : ...
Diamnya seseorang karena ada perasaan yang ingin dia sampaikan namun tak dapat dia ungkapkan lewat perkataan jelas dia hanya menunjukkan perasaan itu dari sikapnya ❤️