
...โกโกโก...
Pagi hari merupakan suasana yang di nantikan oleh banyak orang karena di balik cahaya dan mentarinya sangatlah indah ketika di rasakan oleh mata telanjang, namun ada sebagian orang yang tak ingin melewati hari sebelumnya sehingga ia tak ingin pagi itu datang membawa kenangan bersamanya.
Termasuk Panji setelah dirinya pulang ke rumah seminggu yang lalu karena sempat di rawat di rumah sakit dan harus melakukan operasi mata, meskipun ia terbaring di rumah sakit namun ia tetap menantikan kehadiran Alsha yang sudah berjanji akan menjenguk dirinya.
Hari pertama hilangnya kabar Alsha membuat Panji awalnya syok setelah terdengar sampai ke telinganya, di hari itu Nathan menjemput Alsha usai dari Ujian Nasional karena Panji yang memintanya namun saat Nathan berkunjung ke rumah Hayati tidak ada satu orangpun yang membuka pintu rumah mereka, kemudian Nathan tidak sengaja bertemu Amelia di sekolah.
Ketika Nathan bertanya soal Alsha melalui Amelia di sekolah membuat Amelia terkejut karena Nathan biasanya tidak pernah mau tahu urusan orang lain apalagi sampai meminta kabar Alsha sedetail itu dan akhirnya Nathan mengakui kalau kakeknya lah yang menyuruh dirinya untuk mencari tahu masalah Alsha.
Ternyata dugaan Nathan benar adanya kalau Alsha tidak ada di rumah semenjak kunjungan beberapa hari yang lalu.
Amelia menceritakan semua yang dia ketahui sampai kunjungan dirinya ke rumah orangtua Alsha dan dari cerita itu pula Nathan baru mengetahui kalau Alsha cuma anak angkat dari Hayati, sempat tidak menduga dengan kenyataan itu namun itulah adanya.
Keharmonisan antara Alsha dan Hayati sempat membuat Nathan iri, karena ia dan orangtua kandungnya saja tidak seakrab itu tapi kali ini dia membenarkan kalau kasih sayang seorang ibu tidak di nilai dari faktor apapun, beruntung Alsha memiliki Hayati yang begitu menyayangi dirinya melebihi anak kandung pada umumnya.
Di balik kamar Panji.
Tok Tok
"Masuk saja pintunya tidak di kunci," sahut kakeknya dari dalam kamar terdengar suaranya yang kurang bersemangat.
Kini Panji sudah bisa melihat lagi dengan jelas karena operasi pendonoran mata berhasil di lakukan, namun bukannya dia senang saat ini malah hatinya sedang gelisah sekali.
Sempat dia berfikir untuk apa bisa melihat lagi jika orang yang ingin dia lihat tidak ada bersama dirinya hingga sampai saat ini, sungguh dia sangat menyayangi Alsha seperti dirinya menyayangi Nathan sebagai cucu kandungnya.
Sudah lewat satu hari Panji tidak makan apalagi minum obat sebelum dia mendengar kabar Alsha ia tak ingin menurut perkataan siapapun.
Kreekk
"Kakek sedang apa?" tanya Nathan ketika memasuki kamar dengan membawa sarapan serta teh hangat sekaligus obat.
"Apa kau tidak lihat kakek sedang duduk?" jawabnya terdengar tak ingin berbicara.
Sudah berapa kali pelayan masuk tetapi keluar lagi karena Panji selalu menolak kehadiran mereka yang memaksanya untuk makan dan minum obat, akhirnya Nathan sendiri yang mengantarkan untuk sang kakek kali ini.
"Kakek jangan menyiksa diri seperti ini, kakek harus minum obat! bagaimana kakek mau sembuh jika seperti ini terus? apa kakek tidak sayang padaku?" tanya Nathan yang mencoba membujuk kakeknya dan mendengarkan permintaannya kali ini.
Akan tetapi Panji terdiam saja sambil menatap langit berawan di depan jendelanya yang terbuka dengan sangat lebar.
"Kek, apa kakek mendengarku?" kembali bertanya pula sambil membawa piring berisi nasi serta lauk di atas tangannya.
Nathan anggukan kepala tanpa berbicara hingga tersenyum kecil melihat sang kakek yang tampak membuang nafas lega setelah mengetahui pengakuan dari Nathan.
"Baiklah, sebelum aku bercerita kakek harus makan terlebih dulu dan minum obatnya," lanjut Nathan sambil mengisi nasi di atas sendok.
Pada akhirnya Panji mau menuruti perkataan Nathan saat ini maka itu Nathan terus menyuapinya sampai habis serta memberikan obat untuk di minum.
Setelah semuanya selesai di lakukan oleh Nathan kini dirinya mulai menceritakan tentang Alsha selengkap mungkin pada kakeknya, dia juga memberitahu sang kakek kalau Alsha hanyalah anak angkat dari seorang bidan yang mengurus kelahiran adiknya dahulu sampai ibu kandungnya meninggal dunia, dan cerita itu dia dapatkan dari teman sebangku Alsha yang hingga kini mencari Alsha belum juga ketemu.
Panji bahkan tidak menduga anak seceria dan sepolos Alsha memiliki kisah yang menyedihkan seperti itu, sehingga jatuhlah air mata Panji tak bisa ia tahan lagi, raut wajah penuh kerinduan itu tampak sangat jelas sekali karena kalau tidak kebaikan Alsha mungkin dirinya saat ini tidak bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.
Nathan menyeka air mata sang kakek menggunakan sapu tangan miliknya sebab dia juga tidak tahu harus berbuat apalagi dan saat ini hanya bisa melakukan sesuai kemampuannya saja.
"Kita harus mencari Alsha segera," ucap kakeknya dengan tegas bahkan menoleh pada Nathan dari samping.
"Iya kek, aku juga ingin ikut mencari keberadaannya bersama teman Alsha, tetapi..."
Sepenggal ucapan yang belum selesai dari Nathan.
"Tapi apa?" tanya sang kakek terlihat menautkan kedua alis matanya karena wajah Nathan seperti ada sesuatu.
"Temannya bilang kalau ibu Alsha tidak terlihat semenjak Alsha juga menghilang dari rumah, itu yang membuat aku menjadi heran kenapa ibunya juga ikut menghilang? seharusnya dia sibuk untuk mencari Alsha," papar Nathan pula membuat kakeknya ikut merasa heran seketika.
"Kita harus menyelidiki ini berdua tanpa teman Alsha karena bisa mengundang perhatian kalau mencari secara bersama," tekad sang kakek terlihat sangat bersungguh sekali mencari tahu kebenaran di balik keganjalan dari ucapan Nathan.
"Baiklah kek," turut Nathan anggukkan kepala berulang kali.
Kau di mana? apa kau baik-baik saja sekarang? aku sungguh cemas saat ini! batin Nathan pula merasakan kesedihan sama seperti kakeknya namun dia berusaha tidak menunjukkan di depan banyak orang kalau dirinya juga begitu kehilangan sosok Alsha yang selalu membuat masalah padanya.
.........
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
HALO... AUTHOR SUDAH KEMBALI LAGI UNTUK MEWARNAI HATI RIDERS TERCINTAH โค๏ธ TETAP IKUTI KISAH MEREKA YA, JANGAN SAMPAI KETINGGALAN SAYANGKUH ๐
...TETAP DI AKU, KHANZA...