Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kepedihan


🍁🍁🍁


Karena jeritan Hayati menggelegar ke seluruh isi rumah baik Kino dan sang mertua terbangun dari tempat tidur mereka, sungguh tersayat hati Hayati melihat kedua anaknya tidak ada di dalam kamar.


Brakk


Shopia membuka keras pintu kamar Alsha yang sedikit tertutup sebelumnya.


"Apa kau tau ini masih jam berapa? kenapa ribut sekali? aku tidak bisa tidur karena suara jeritan mu itu!" sang mertua berteriak begitu kerasnya sambil menautkan kedua alis mata dan menunjuk ke arah Hayati.


"Ma, a -Alsha dan Zizi tidak ada di kamar mereka," isak tangisnya pecah di saat itu ketika Hayati berusaha membuka suara yang sedari tadi menyesakkan dadanya.


"Kemana pergi mereka? dasar anak gembel, pergi tanpa pamit!" celoteh mertuanya pula membuat Hayati sedikit ingin marah tapi masih dia tahan.


"Kau ini kenapa? apa tidak bisa sedikit tenang hah? aku ini capek! butuh istirahat, kenapa kau mengganggu tidurku?" gerutu Kino menggoyangkan kedua bahu Hayati terlihat Hayati tampak masih terisak melihat kedua saudara itu tidak tahu perginya kemana.


"Kino, bisakah kau sedikit punya perasaan? apakah kau tidak melihat mereka hilang? aku yakin rumah ini kemalingan! pasti mereka di culik, ayo Kino kita lapor polisi," keriuhan Hayati yang langsung bangkit dengan tumpuan kakinya meraih lengan kiri sang suami.


Kino menepis keras lengan yang di pegang oleh istrinya.


"Sudahlah! kalau kau mau urus kedua anak itu, pergi sana! jangan mengajak aku, aku mau tidur! dasar istri tidak ada perhatian sama suami, selalu anak-anak itu yang kau urus," kata Kino terlihat menggeram, Hayati juga tertunduk tidak melawan sambil mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang tidak akan membuatnya menyelesaikan masalah.


"Kau itu seorang istri, urus suami terlebih dulu! jika sudah selesai terserah kau mau berbuat apa," lanjut Kino pula meninggalkan Hayati dengan tampang kemarahan membludak.


Shopia pun terlihat biasa saja dan mengikuti langkah Kino keluar meninggalkan Hayati sambil tersenyum puas karena Hayati tidak mencurigai dirinya dan anak lelakinya itu.


Brughh


Hayati terduduk kembali di atas lantai sambil menyeka air matanya sungguh teramat sesak baginya melihat suami dan ibu mertuanya tidak menerima keberadaan Alsha dan Zizi di rumah mereka dari dulu.


.


.


.


Gubuk bambu nek Raya.


Kukuruyuk


Suara ayam terdengar keras di telinga nek Raya, dia sedikit mengambil beras untuk di bagikan pada ayam-ayam yang bertengger di depan rumahnya karena setiap pagi ayam itu tahu kalau nek Raya akan memberi mereka makan.


Sementara itu matahari telah menampakkan sinarnya makanya nek Raya membuka pintu gubuknya supaya sinar itu masuk ke dalam rumahnya walaupun terlihat di katakan tidak seperti rumah pada umumnya, kemudian Zizi di suruh mandi oleh nek Raya dan di belikan sarapan nasi uduk untuknya dan juga Zizi dan saat Zizi keluar dari gubuk itu dia melihat banyak ayam yang di kasih makan oleh nek Raya.


"Ayam siapa nek?" tegur Zizi pula dari belakang punggung nek Raya.


"Zizi boleh memberikan mereka makan juga nek?" tanya Zizi lagi sambil girang akan di berikan kesempatan untuk dia membagi beras pada ayam-ayam itu.


"Tidak, kita harus masuk dan sarapan! pasti kau sangat lapar," tolak nek Raya dengan lembut supaya Zizi tidak salah paham padanya.


"Oh baiklah, tapi kenapa kakak belum bangun juga ya nek?" kembali bertanya sambil bergerak mengikuti langkah nek Raya yang sedang berjalan menggunakan tongkatnya.


Nek Raya melihat Zizi dari samping bahkan tersenyum kecil ia merasakan kecemasan Zizi yang sangat dalam pada kakaknya.


"Tidak akan lama lagi kakakmu akan terbangun dan bisa bersama denganmu kembali, percaya pada nenek," elusan nek Raya membuat Zizi kegirangan.


"Benarkah nek?" keriuhan Zizi tak terkira lagi betapa senang dirinya mendengar ucapan nek Raya barusan.


Nek Raya anggukkan kepala merasa lega melihat Zizi terlepas sedikit rasa cemasnya itu.


Keberadaan Zizi dan Alsha sedikit mengobati rasa kesepian nek Raya selama ini apalagi dia melihat Zizi yang sangat bijak dan lincah sekali bahkan rasa kepedulian terhadap kakaknya membuat nek Raya ingin sekali mendekap tubuh Zizi dengan erat.


Sesampainya di dalam gubuk.


Mereka akhirnya sarapan bersama di atas bangku kayu muatan 2 orang karena cuma itu yang di punya oleh nek Raya, di atas bangku itu Zizi sempat menyuapi nek Raya dan sekilas tiba-tiba saja teringat akan Hayati yang setiap pagi pasti menyuapi dirinya.


"Kenapa? apa nasinya tidak enak?" tanya nek Raya sejenak melihat Zizi tertunduk lesu berhenti mengunyah.


"Tidak nek, nasinya enak." Zizi berusaha tersenyum tapi matanya tidak bisa di bohongi oleh penglihatan samar dari nek Raya.


"Apa kau rindu keluarga mu? di mana keluarga kalian?" tanya nek Raya mengelus rambut Zizi berulang kali.


Zizi bergeleng kepala dan meneteskan air mata hingga jatuhlah air mata itu di atas nasi yang dia pegang.


"Sini nenek peluk supaya kau lebih tenang," bujuk nek Raya meraih lengan Zizi dan membantu Zizi meletakkan bungkus nasi itu di atas kursi.


Zizi berjalan dengan pegangan tangan keriput nek Raya begitu erat sekali nek Raya memeluk tubuh Zizi terasa ada gemetaran dari tubuh tersebut, entah mengapa nek Raya merasakan ada ketakutan di dalam diri Zizi yang dia simpan secara rapat.


...........


^^^To be continued^^^


^^^πŸ‚ aiiWa πŸ‚^^^


...Kutipan:...


Rezeki yang kau dapatkan bukan hanya untuk mu, bisa jadi rezeki yang kau dapat itu sebagian untuk orang lain. jadi saling berbagi sesulit apapun dirimu. karena itu tidak akan membuat kau jatuh miskin❀️