Aku, Khanza

Aku, Khanza
Saling Menjaga Harga Diri?


Lanjutan episode sebelumnya...


...โ™กโ™กโ™ก...


Apartemen keluarga Austin.


Hayati di bawa masuk ke dalam apartemen setelah mereka sampai di tempat tujuan dan Hayati di papah oleh Nathan juga Devan hingga sampailah mereka semua mengarah pada apartemen milik Panji sendiri dengan menaiki lift bahkan ia sudah membelinya untuk keperluan bisnisnya namun karena Nathan lah ia memberikan tumpangan pada Hayati sebab ia mengetahui watak cucunya yang jarang sekali bersikap tak mau kalah pada orang lain seperti itu saat berargumen dengan Devan di rumah sakit.


Pada saat di depan apartemen mereka sudah di sambut oleh pengurus yang di khususkan Panji untuk merawat kebersihan apartemen miliknya bahkan pengurus itu juga sudah memasak di karenakan Panji menghubunginya supaya mempersiapkan segala sesuatunya.


Hardi beserta Ded di suruh oleh Panji menjemput Yeni untuk menemani Hayati selama berada di apartemen makanya kedua bodyguard itu secara sigap mematuhi perintah Panji langsung bergerak pulang ke rumah.


Baik Panji dan yang lainnya kini sudah memasuki ruangan apartemen sehingga Hayati tak menduga apartemen semewah itu memperbolehkan dirinya untuk tinggal di dalamnya makanya ia melirik ke arah Panji yang sudah tersenyum tipis padanya begitu pula Hayati membalas senyuman Panji padanya bahkan sangat terlihat di sorot mata Hayati dirinya tampak segan namun mau bagaimana lagi dirinya sudah menerima tawaran dari Panji tak mungkin ia membuka suara lagi setelah berada di apartemen.


"Yuk tante kita ke kamar biar tante bisa istirahat," ucap Nathan pula sembari berkata dengan ramah namun Devan menyeringai sebab ia merasa keramahan itu kepalsuan Nathan untuk mencari perhatian Hayati.


Hayati menoleh ke arah Nathan dengan tersenyum tipis bahkan ia mulai merasakan kenyamanan saat tangannya di pegang oleh Nathan seolah sentuhan tangan itu seperti Khanza saja itulah fikirnya.


Kemudian Nathan mengarahkan ke kamar untuk Hayati sementara Panji menerima panggilan telepon dari ponselnya di ruang tamu.



Langkah kaki walau perlahan akhirnya mereka bertiga sampailah ke kamar tersebut.



Setelah memasuki kamar ia di naikkan ke atas kasur lalu Hayati pun di sandarkan dengan sebuah bantal dan kaki di tutupi oleh bad cover yang sudah tersedia karena Hayati belum mau merebahkan tubuhnya sebab ia masih ingin duduk begitulah pintanya.


"Tante, aku keluar dulu ya... Mau bicara sama kakek," kata Nathan pula usai ia menyelesaikan tugasnya.


"Iya Nat, terima kasih ya..." Balas Hayati begitu ramahnya terdengar di telinga.


Nathan anggukkan kepala dengan senyum simpul di bibirnya lalu ia melangkah ke arah pintu kamar berjalan keluar namun Devan masih duduk menemani Hayati di bangku dekat kasur Hayati sembari memegang punggung tangan Hayati sebab Devan melihat tetesan air mata Hayati jatuh di pipinya makanya Devan enggan keluar dari kamar itu.


Keresahan hati Hayati kembali lagi sesekali ia tertawa kecil melihat ke arah Devan lalu tak berapa lama ia meneteskan air mata tanpa bersuara sehingga Devan berusaha menenangkan Hayati dengan menceritakan sebuah kisah lucu supaya Hayati tak merasa sedih.


Tok


Tok


"Van, kau di ajak kakek makan!" tegur Nathan dengan beberapa kali mengetuk pintu kamar serta ia melihat Hayati memejamkan matanya namun masih saja bersandar.


Devan anggukkan kepala lalu ia bangkit dari duduknya sambil melihat Hayati yang sudah sedikit lebih tenang kemudian Devan berjalan dan menutup pintu kamar tersebut setelah Nathan berjalan lebih dulu ia pun menyusul dari belakang.


Sesampainya di meja Devan masih berdiri menatap ke duanya sudah duduk terlihat sedang menunggunya.


"Sini nak, kau pasti belum makan kemari lah duduk jangan hanya berdiri saja!" pinta Panji dengan ramah pula.


"Iya kek terima kasih," patuh Devan menyahut dengan membalas ramah kemudian ia berjalan dan duduk tepat berhadapan dengan Nathan sementara Panji tepat di depan mereka berdua.


Devan duduk dengan tersenyum ke arah Panji namun dia tak menyadari Nathan yang sudah melihatnya sedari tadi dengan tatapan tak sukanya sebab dengan orang lain Devan bisa tersenyum ramah tetapi saat dengan dirinya seolah bagai musuh bebuyutan saja padahal Nathan tak pernah mengusik Devan tapi entah mengapa Devan selalu ingin mengajaknya bermusuhan itulah benak Nathan yang saat ini masih melihat ke arah Devan sehingga sang kakek menyadari kalau cucunya sedari tadi masih terus melihat Devan tanpa berkedip.


"Khem, ayo di makan Nat! apalagi yang kau tunggu?" kata kakeknya sengaja berdehem supaya Nathan menyudahi tatapan itu.


"Ya kek," jawab Nathan singkat lalu ia mengarahkan wajahnya ke arah piring untuk segera menikmati makanannya tersebut.


Sebelum Panji makan ia melihat reaksi keduanya seperti tak mengenal satu sama lain.


"Ohya kakek penasaran, apa kalian ini satu sekolah?" tanya Panji pula seketika membuka suara sehingga tangan Nathan berhenti memegang sendok setelah ia mendengar pertanyaan dari kakeknya itu.


"Ka-"


"Oh ternyata satu sekolah... Kakek baru tahu ada anak yang satu sekolah tapi terlihat tak saling mengenal saat lagi duduk bersama seperti ini," ocehannya pula sengaja berkata demikian sebab ia ingin melihat respon keduanya.


"Ahh itu," sepenggal jawaban dari Devan tak ia lanjutkan namun Nathan sudah melihat ke arah kakeknya yang bertanya tiada habisnya.


"Kek, sudahlah makan saja tak baik makan sambil berbicara." Imbuh Nathan pula secara santai namun kakeknya malah tersenyum simpul tak berkata apapun.


"Yasudah kita makan tapi nanti kakek lanjutkan lagi bertanya," celotehnya lagi masih sengaja berkata demikian.


"Hmmhh," sejenak Nathan membuang nafas kasarnya ketika mendengar ocehan dari kakeknya itu.


Devan hanya melirik keduanya kemudian ia melanjutkan makannya serta yang lainnya juga ikut menyantap hidangan yang sudah tersedia beberapa macam menu makanan.


Sudah beberapa menit waktu berjalan mereka pun selesai menyelesaikan makanannya dan kini Panji melirik keduanya yang masih saling berdiam satu sama lain.


"Devan, itu kan nama kamu?" tanya Panji mulai membuka suara kembali.


"Iya kek itu nama saya," jawab Devan pula serta ia sesekali melihat ke arah Panji.


"Devan sudah mendaftar di sekolah mana selanjutnya?" tanya Panji lagi.


"Belum di pastikan mau masuk ke mana kek karena nenek menyarankan untuk sekolah di Jogja saja," balasnya pula.


"Lalu? apa kau tidak mau sekolah di sana?" kembali bertanya sambil melirik cucunya yang mengalihkan wajah entah kemana seperti tidak ada respon.


"Kalau saya pergi nenek sudah pasti sendirian makanya saya masih ingin mencari di bagian kota ini saja supaya saya bisa terus menjaga nenek," ungkapnya pula secara terbuka bahkan membuat Panji sedikit kagum mendengar pengakuan Devan tersebut.


"Oh begitu ya... Kalau begitu kenapa kalian tidak mencari sekolah bersama sa-"


"Prrftt uhuuk, huukk!" seketika Nathan tersedak usai ia minum beberapa teguk di saat mendengar ucapan kakeknya barusan.


"Apa yang kakek katakan barusan?" tanya Nathan terdengar sedikit kaget ia pun menautkan alis matanya.


"Loh kenapa? apa ucapan kakek ada yang salah?" balasnya secara santai pula.


Ting


Tong


Ting


Tong


Tap


Tap


Pengurus rumah pun menghampiri meja mereka.


"Siapa yang datang?" tanya Panji dengan menoleh ke arah pengurus tersebut.


"Ada yang sedang mencari tuan sudah menunggu di depan," jawabnya dengan sopan pula.


"Baik saya segera ke sana," turut Panji anggukkan kepala sekali. "Kakek mau lihat yang datang dulu kalian lanjutkan saja berbincang sebentar kakek tinggal," lanjutnya pula melihat keduanya yang masih saling cuek namun Panji malah tersenyum simpul sebab ia merasa lucu ada keduanya kemudian ia bangkit dari duduknya melangkah ke depan pintu


^^^To be continued^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^


NANTIKAN LANJUTANNYA...