Aku, Khanza

Aku, Khanza
Pinggiran Rel Kereta Api


...♡♡♡


...


Pinggiran rel kereta api.


Pada malam di mana Khanza dan Zizi pergi dari warung pak Yudi entah kemana kaki melangkah yang terpenting mereka bisa kabur dari Ratih karena nyawa mereka akan terancam jika masih bertahan, itulah fikir Khanza yang tampak terus memegang erat tangan adiknya menggunakan satu tangan kanannya sementara tangan kirinya sedang membawa bungkusan kain yang berisi bajunya dan Zizi.


"Kak kita mau kemana? kenapa kita harus pergi dari tempat itu? dan kenapa kita tidak pamit dulu kak?" tanya Zizi yang terus mengoceh dengan melirik kakaknya dari samping tanpa menoleh pada dirinya.


Khanza berhenti ketika mendengar banyak pertanyaan dari adiknya itu dan ia pun membuang nafas kasar serta jongkok bertumpu di satu kakinya. "Kita tidak bisa lagi tinggal di situ Zi, karena kakak tidak ingin terjadi hal buruk padamu lagian kakak juga sudah memberi pesan lewat surat pada mereka," jawab sang kakak berkata halus sambil memegang sebelah pundak adiknya.


"Apa di sana ada orang yang ingin berbuat jahat padaku?" tanyanya lagi dengan wajah tampak terheran.


Khanza hanya manggut dan ia pun berdiri dari tumpuan kakinya kembali berjalan dengan terus memegang pergelangan tangan Zizi.


"Terimakasih kak, karena kakak selalu melindungiku," katanya pula terdengar sangat bijak sampai membuat Khanza tertegun mendengarnya dan terlontar pula senyuman kecil di balik pinggir bibirnya membalas ucapan sang adik.


Perjalanan mereka masih terus berlanjut seusai perbincangan itu namun perut belum terisi di saat mereka pergi dari warung pak Yudi, kini rasa lapar mulai terasa dalam diri Khanza seakan kaki gemetaran ketika ia sedang berjalan namun tetap dia tahan karena tak ingin membuat Zizi menyadari kegelisahannya.


Sedangkan uang di tangan hanya tersisa 20 ribu saja dan itupun uang dari Zizi yang di berikan padanya saat berada di gubuk nek Raya, sementara uang yang dia terima dari Taro karena membantu jualan koran dia gunakan untuk membeli makan sehari sebelum mereka pergi dari gubuk nek Raya.


Di saat Khanza melihat sisa uangnya barulah dia teringat akan Taro anak kecil yang ia bantu saat berjualan koran, akan tetapi dia melupakan janjinya untuk menemui Taro kembali di tempat pertama kali mereka bertemu dan selepas ingatan itu Khanza terus membuang nafas kasar sehingga ia merasa kalau dirinya sudah mengingkari janji yang dia buat sendiri walaupun dia kembali lagi ke tempat itu sudah pasti Taro tidak akan menunggu dirinya percuma saja dia berbalik arah sudah pasti Taro tidak akan ada di tempat itu lagi, begitulah fikir Khanza sambil menatap sisa uang yang ada di tangannya.


Karena kaki terus melangkah tanpa tujuan akhirnya mereka menemukan jalur rel kereta api yang pinggirannya tampak di masuki oleh orang-orang yang sudah terbiasa hidup di jalanan seperti anak punk, pengemis, bahkan orang gila pun tidur di pinggiran rel tersebut.


"Zi, kita malam ini istirahat di sini dulu ya?" cakap sang kakak mengarahkan adiknya di tempat yang masih kosong.


Zizi hanya manggut tampak celingukan melihat orang-orang yang sudah tertidur memakai alas berupa kardus sebagai pengganti kasur menghindari dinginnya malam tanpa selimut tanpa memakai baju penghangat di tubuhnya adapula yang sedang menghitung hasil jualannya serta seorang ibu tampak sedang menidurkan anaknya yang lagi menangis di sebuah tenda kecil.


"Zi, apa kau lapar? Kau pakai lah baju kakak supaya kau tidak kedinginan," cakap sang kakak pula sambil melapisi tubuh Zizi menggunakan baju miliknya.


Zizi hanya menurut apa yang di katakan oleh kakaknya makanya dia hanya berdiam saja tanpa berbicara.


Setelah Khanza selesai memakaikan baju di tubuh adiknya ia mulai mencari alas untuk melapisi kerikil kecil supaya mereka bisa tidur walau tidak di atas kasur empuk saat berada di rumah Hayati dan beruntungnya Khanza memiliki adik seperti Zizi yang tidak rewel apalagi mengeluh di saat seperti ini Zizi tidak pernah menyusahkan kakaknya dia selalu mengikuti kemanapun tujuan kakaknya walau berat bagi anak seumuran Zizi menjalani kehidupan di jalanan seperti itu.


Di saat Khanza mencari alas berupa kardus ia melihat seorang lelaki separuh baya penjual asongan sedang duduk di pinggiran pasar, asongan itu menjual roti, kacang, jajanan serta minuman. Khanza melangkah mendekati penjual asongan itu dan mengambil sisa uang miliknya.


"Roti yang mana nak?" tanya asongan itu pula menoleh pada Khanza.


Khanza menunjuk ke arah roti berbungkus putih terdapat coklat di dalamnya. "Yang ini saja pak dan minumannya saya ambil 2 ya," cakapnya lagi sembari memegang minuman cup air mineral.


Asongan itu meraih roti yang di pilih oleh Khanza dan memasukkannya ke dalam plastik kresek.


"Ini nak," turut asongan itu pula setelah selesai memasukkan semua ke dalam plastik.


"Berapa semuanya pak?" tanya Khanza melontarkan senyum kecil di bibirnya.


"5 ribu saja nak," ucap asongan itupula membalas senyuman Khanza padanya.


Dia fikir uangnya kurang jika membeli 2 roti dan ternyata masih cukup berlebih akhirnya Khanza juga membeli satu buah roti lagi untuk mengisi perutnya yang sudah terasa sangat lapar.


"Pak, saya ambil satu lagi rotinya dengan rasa yang sama saja," kata Khanza menunjuk ke arah roti yang di beli sebelumnya.


Asongan itu kembali mengambil roti yang di minta oleh Khanza hingga menyatukan semuanya ke dalam plastik.


Khanza pun memberikan selembar uangnya pada asongan itu dan meraih plastik yang sudah terisi air serta roti sambil menunggu uang kembaliannya.


"Jadi semuanya 8 ribu ya nak, kembalian 12 ribu lagi," kata asongan itu sembari menghitung kembali uang yang ada di tangannya. "Ini nak uang kamu," lanjutnya lagi setelah selesai menghitung.


"Terimakasih pak," turut Khanza menyambut uangnya serta melontarkan senyum begitu hangat.


Setelah transaksi selesai Khanza kembali mencari alas untuknya istirahat malam ini dengan celingukan memperhatikan bagian jalan sehingga dia menemukan sebilah tikar lusuh yang tampak sengaja di buang oleh pemiliknya dengan cepat Khanza mendekati tikar itu dan menggulungnya supaya mudah di bawa memakai satu tangannya.


Setelah ia berhasil menemukan alas untuk tidur dia kembali dengan cepat karena sudah terlalu lama dia meninggalkan adiknya sendirian makanya dia berlari kecil supaya bisa cepat sampai di tempat sang adik.


Next...


...Kutipan :...


Didiklah anakmu sedini mungkin, berikan dia pelajaran hidup untuk bekalnya nanti jangan kau berikan kemewahan yang akan merusak masa depannya ❤️