Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kecurigaan?


...♡♡♡...


Zrak


Zrak


Ketiganya tampak sudah menyelinap masuk ke dalam rumah dengan merayap di bagian tembok bahkan Nathan begitu penuh kewaspadaan ketika dirinya menjadi pemandu di depan Devan juga Amel.


"Berhenti sebentar aku mau lihat bagian kamar yang ada di sebelah sana," kata Nathan sembari menunjuk ke arah yang ingin di tujunya serta ia mengeluarkan suara secara berbisik supaya hanya di dengar oleh Devan dan Amel saja. "Ohya Amelia kau hilangkan nada dering ponselmu dan ubah menjadi getaran saja sebab aku akan menghubungi mu nanti supaya kalian bisa segera menyusulku, aku akan mengecek satu persatu kamar yang ada di seluruh ruangan ini. Apa kalian sudah paham perkataanku?" lanjut Nathan lagi dengan memberi pesan sebelum dirinya berlalu pergi.


Keduanya anggukkan kepala dengan serentak serta tampak Amel sedang mengeluarkan ponsel miliknya dalam saku celana jeansnya dan setelah ponsel itu berada di tangannya lalu ia mengotak-atik secara sigap untuk menuruti perintah dari Nathan padanya.


Selagi Amel sedang sibuk dengan ponselnya kini Nathan sudah beranjak dari tempatnya dengan melangkahkan kaki secara perlahan sembari terlihat mengendap-endap supaya tidak mengundang kecurigaan pada siapapun makanya ia begitu sangat pelan ketika melangkahkan kakinya tersebut.


Devan dan Amel terlihat sedang mengintip dari balik tembok sebab mereka masih bersembunyi di tempat Nathan memberi pesan sebelumnya.


Saat ini Nathan sudah sampai di depan pintu kamar yang pertama ber-cat warna cokelat gelap dengan ukiran bunga yang terlihat sangat jelas kemudian ia memegang gagang pintu tersebut sembari membukanya secara perlahan serta lebih dulu mengintip dari celah pintu yang baru saja di bukanya akan tetapi, di karenakan kondisi kamar kosong tiada orang satupun lalu ia menutupnya kembali dan melangkah ke arah kamar yang lainnya.


Jarak kamar tidak terlalu jauh dari arah kamar yang sebelumnya dan kini ia sedang membuka kembali pintu kamar yang ber-cat cokelat polos namun sama saja tidak ada apapun selain tumpukan barang-barang sebab terlihat seperti gudang sehingga ia menutup kembali pintu tersebut dan melangkah ke arah kamar selanjutnya.


Kini Nathan sudah berada di depan pintu kamar yang ketiga namun sama saja tidak ada seorang pun di dalamnya bahkan kamar itu berisi tiga lemari pakaian juga cermin yang besar seukuran tubuh manusia mungkin itu kamar untuk berganti pakaian, begitulah fikir Nathan lalu ia menutup kembali pintu kamar tersebut.


Nathan juga merasa lega karena saat memeriksa kamar ketiganya tidak ada yang terkunci karena itu menjadi memudahkan dirinya untuk mengecek ke dalam kamar tanpa harus membobolnya.


Yeap, saat ini Nathan sudah tepat berada di depan pintu kamar yang terakhir serta ia melihat depan pintu kamar di lapisi cat cokelat lebih terang dari kamar yang telah ia lalui sebelumnya.


"Ini kamar yang terakhir, aku akan coba melihat ke dalam dan jika tidak ada siapapun juga terpaksa aku harus mencari tahu lagi keberadaan bundanya Alsha," gumam Nathan yang berbicara sendiri sembari tangannya sudah berada di gagang pintu serta tampak ia menghembus nafas panjang.


Di saat Nathan menggerakkan gagang pintu tersebut ia sangat terheran karena kamar yang terakhir ini sama sekali tak dapat di buka olehnya sebab sudah di kunci dengan rapat makanya ia berusaha berulang kali namun masih belum terbuka juga oleh sebab itu dia menjadi curiga ada apa di dalamnya sehingga harus di kunci.


Tak berapa lama ia merogoh ponselnya dan dengan cepat membuka layar ponsel tersebut serta mencari kontak nama Amel untuk ia hubungi.


Tutt


Tuut


Nathan tampak sudah melekatkan ponsel miliknya ke arah telinga serta dengan sabar menunggu Amel mengangkatnya.


Drrt


Drtt


Ponsel bergetar milik Amel seketika terasa di tangannya lalu ia dengan sigap menekan tombol terima.


"Amelia, sekarang kau harus mencari sebuah kawat atau jarum! pokoknya apa saja yang bisa di gunakan untuk membuka pintu kamar, kau sudah mengerti? setelah kau mendapatkan yang aku minta jangan lupa hubungi aku kembali," titah Nathan yang masih tampak berbicara sambil berbisik.


"Ya, aku akan coba mencari yang kau inginkan!" balas Amel kemudian ia langsung menutup ponsel miliknya dan menyimpan kembali dalam saku celana.


Setelah perbincangan usai Devan menatap lurus ke arah Amel yang tampak celingukan.


"Apa yang si balok es katakan Mel?" tanya Devan sejenak.


"Dia mau kita mencari sesuatu seperti kawat atau jarum, sudah! cepat saja turuti apa yang dia minta."


Amel pun bergerak sekaligus mencari apa yang di inginkan oleh Nathan begitu juga dengan Devan yang membantu tepat berada di belakang Amel.


Keduanya bekerjasama dengan tampang keseriusan yang terlihat di balik wajah mereka serta di setiap laci dan di setiap sudut mereka mencari sehingga salah satu usaha dari mereka berdua kini sudah membuahkan hasil sebab Amel mendapatkan sebuah kotak kecil berwarna hitam kemudian Amel pun membukanya dengan cepat lalu ia melihat sepasang anting berlapis intan permata berkilau memancarkan sinar bahkan anting tersebut di lengkapi dengan besi putih yang terlihat berbentuk seperti pengail pancingan maka dari itu Amel terpaksa melepaskan permata tersebut dari besi putih yang mengikatnya.


Devan hanya bergeleng kepala melihat aksi yang di lakukan oleh Amel sebab itu sebuah anting permata mungkin harganya juga tidak murah, begitulah fikir Devan.


"Cuma ini yang bisa kita gunakan karena sedari tadi kita belum menemukan apapun selain besi putih yang ada di anting ini, jadi aku terpaksa melakukannya," gumam Amel pula namun masih terdengar oleh Devan yang berada di sebelah Amel.


Takkk


Amel menutup kembali kotak anting tersebut dan memasukkan ke tempat sebelumnya lalu menutup laci kecil itu secara rapat.


Setelah ia menemukan besi putih yang berukuran sedang kemudian ia meraih ponsel di sakunya lalu mulai mengotak-atik ponsel tersebut untuk menghubungi Nathan kembali.


Ponsel miliknya sudah melekat di sebelah telinga untuk menunggu jawaban dari Nathan.


"Halo, apa kau sudah menemukan yang aku minta?" tanya Nathan di sebarang bahkan suaranya terdengar seolah dia sudah menunggu panggilan dari Amel sedari tadi.


"Ya, aku sudah menemukan sebuah besi putih dan sekarang kami harus ke mana?" tanya Amel balik.


"Bagus kalau begitu! sekarang kau harus dengarkan arahan dari ku," jawab Nathan lagi.


"Oke," balas Amel singkat.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Jangan pernah berfikir ke belakang hari namun fikirkan lah untuk ke depannya sebab yang sudah terjadi tak akan bisa merubah apapun ❤️