
...โกโกโก...
Ckiittt
"Bos itu bukannya anak yang di tahan oleh Juna? kenapa mereka bisa keluar?" riuh dari salah seorang bawahan Guntur ketika beberapa dari mereka telah sampai di tujuan.
"Dasar Juna gobl*k! sial," murkanya Guntur ketika ia melihat Khanza sedang menggendong adiknya ingin melarikan diri. "Cepat kalian kejar! jangan bengong," kelakar Guntur ketika ia melihat bawahannya belum ada satupun yang keluar dari mobil.
"Ba -baik bos!" serentak mereka semua pada akhirnya turun dan berlari ke arah Khanza yang tampak berusaha mempercepat langkahnya itu.
Braakkk
Gedebugh
"Agh, aduh! kurang aj-"
Juna terdiam saat ia terjatuh ke bawah karena melihat Guntur sudah di ambang kemarahan yang membludak menatap ke arah dirinya.
Srakk
Sraakk
Tampak pula Adam yang berusaha keluar dari kamar dengan menggunakan bantuan kakinya sebab ia sudah tak ada lagi tenaga untuk berdiri.
"To -tolong a- aku..." lirih Adam di saat ia berhasil menuju pintu depan rumah bahkan darahnya semakin mengalir pula dan bercecer di sepanjang ia keluar dari kamar.
"Adam! woi, kenapa kau di sini? siapa yang melakukan ini padamu?" tanya secara panik dari Guntur sebab ia berfikir Adam hanya mencari mangsa saja sehingga ia tak menduga kalau Adam tidak pulang malah singgah ke markas mereka. "Jangan kau berdiri saja di situ! kau panggil mereka yang sedang mengejar anak itu, cepat! kau saja yang urus anak itu! awas kalau kau tak berhasil menangkap mereka, habis kau!" amukan Guntur membuat Juna gemetar hebat di bagian kakinya sehingga ia malah terdiam tak bergerak. "Cepat!" lanjut Guntur lagi begitu kerasnya namun kedua tangannya sedang menutupi luka yang ada di kepala Adam.
"I- iya bos! aku akan kejar mereka," turut Juna dengan bergegas ia menyusul bawahan yang lain walaupun dia belum mengetahui dengan pasti kejadian awalnya namun dia sudah menduga bahwa Khanza berhasil kabur dari cengkramannya.
Sial sekali, baru saja aku bersantai ada saja yang menggangu waktu istirahat ku! batin Juna pula yang tampak jelas sedang kesal itu namun ia terus berlari mencari jejak mereka yang mengejar Khanza.
Juna berlari dengan menggunakan petunjuk tapak kaki yang meninggalkan bekas di jalanan bahkan ia mendengar suara teriakan dari beberapa orang makanya ia semakin mempercepat langkahnya.
"Woi, woi... Berhenti kalian dulu," teriakan Juna pun di dengar oleh mereka makanya langkah kaki mereka pun sekejap terhenti lalu menoleh ke arah Juna yang sudah tampak kehabisan nafas sebab ia memaksakan dirinya yang dari jauh memanggil mereka semua.
"Ada apa? kenapa kau menghentikan kami? bisa-bisa lolos anak itu!" kata salah satu dari mereka pula.
"Kalian di suruh bos kembali, biar ini aku yang urus! sudah sana cepat jangan buat bos menunggu," perintahnya pula secara tegas lalu ia pun melanjutkan kembali mengejar Khanza setelah berkata demikian sehingga mereka semua berbalik lagi sementara Juna berlari seorang diri ke arah Khanza.
Juna pun sudah mengganti pakaiannya sebelum ia beristirahat awalnya dan sudah pasti Khanza tahu siapa dia yang sebenarnya itulah fikir Juna.
"Hagh, haah!" betapa sesaknya nafas Khanza saat ini ia menggendong adiknya sambil berlari karena ia tak ingin sampai tertangkap orang yang berusaha berbuat jahat pada dirinya sehingga ia terus menyeka keringat yang ada di wajahnya itu. "Zi, kakak mohon bangunlah! Zizi ayo sadarlah," panggilan itu terdengar sudah melemah sebab Khanza serasa tak sanggup untuk menggerakkan kedua kakinya.
"Kembali kau anak sial!" teriakan keras dari Juna terdengar oleh Khanza semakin jelas.
Khanza masih berusaha menguatkan dirinya untuk berlari lebih cepat.
Tuukk
Brakkk
Gebrakk
Yeap. karena memastikan Juna yang ada di belakang saat ini Kanza tersandung batu yang tak terlihat olehnya sehingga Zizi pun terlepas dari gendongannya.
Khanza pun menyambut tangan Juna.
Grepp
"Ahh, aggghhh," tangan Juna di gigi kuat oleh Khanza hingga Juna merintih kesakitan.
Bruugh
Debugh
"Aaaaaaa."
Kali ini Khanza menendang bagian sensitif milik Juna dan betapa sakitnya yang di rasakan oleh Juna sehingga ia mengerang begitu hebatnya.
Setelah Khanza berhasil membuat Juna jauh darinya ia pun bergerak lari ke arah adiknya yang tampak sedang terduduk mengucek kedua matanya.
"Kak, kita ada di mana ini?" tanya Zizi pula yang masih terlihat kebingungan.
"Sudah nanti saja bertanya sekarang peluk kakak yang kuat jangan kau lepaskan! mengerti?" tegas kakaknya pula kemudian ia menarik kedua tangan adiknya dan menggendong adiknya kembali sambil berlari sementara Juna masih mengerang kesakitan.
๐ KELANJUTAN BACA DI CAPTER 1 READER TERCINTA ๐
.
.
.
Rumah Austin.
"Jadi mereka sudah berhasil kabur dari rumah itu?" tanya Panji setelah ia menerima telepon dari petugas kepolisian dan membawanya ke ruang tamu sehingga sebagian pengurus rumah menjadi bingung kenapa ada beberapa polisi yang datang ke rumah bos besar mereka pada malam hari begitu.
"Ya tuan, mereka berhasil lolos setelah kami membobol rumahnya mencari bukti-bukti kejahatan mereka," ungkap Eby pula makanya Panji tampak sedang memegang dagunya untuk mencari cara yang jitu supaya bisa menangkap keduanya.
Eby baru saja teringat ada yang ingin dia berikan pada Panji lalu ia merogoh tas miliknya dan meraih bingkai foto Hayati bersama dengan Khanza juga Zizi.
"Tuan, saya menemukan sebuah bingkai mungkin bingkai ini berguna untuk penyembuhan ibu Hayati yang merindukan anak-anaknya," kata Eby pula sembari meletakkan bingkai tersebut di atas meja mengarah pada Panji.
Bingkai itupun di sambut oleh Panji dan sejenak ia tersenyum melihat ketiganya yang tertawa bahagia namun kebahagiaan itu di rampas oleh orang yan bernama Shopia sehingga raut wajah Panji menjadi mengeras dengan istilah tak dapat menunggu lagi untuk memberi wanita itu pelajaran yang setimpal itulah fikirnya.
"Rumah mereka sudah kami beri garis police line dan tidak ada satupun yang boleh melewatinya apalagi pemeriksaan masih kami lanjutkan jadi tuan tidak perlu panik karena kami akan menjalankan kasus ini dengan sebaik mungkin," perjelasnya pula.
"Saya punya sedikit solusi tapi harus dalam izin kepolisian," imbuh Panji pula secara serius ia menatap Eby.
"Baik, tuan katakan saja mungkin bisa membantu kasus ini."
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
...Kutipan :...
Hadapi setiap masalah dengan ketenangan jika di awali kepanikan yang timbul malah keresahan di hati tetap tenang jangan gegabah โค๏ธ