
๐๐๐
Rumah milik keluarga Hayati.
Alsha dan Nathan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Hayati pada awalnya Alsha tidak mengerti daerah yang harus di lewati, karena jarak tempuh dari rumah Nathan ke rumah Hayati memakan waktu 20 menit apalagi Alsha tidak pernah berkunjung ke rumah Nathan alhasil mereka hanya mutar-mutar tidak tentu arah hingga akhirnya memakan waktu makanya Nathan mengusulkan untuk mengambil jalan pintas dari arah sekolah saja dan dari situlah Alsha mengerti jalan apa yang harus mereka ambil.
Keadaan itu membuat Nathan mengelus pundak lehernya berulang kali dan melirik kepanikan Alsha yang tidak tahu arah jalan pulang ke rumahnya sendiri, sedari masuk mobil mereka hanya berdiam saja tanpa berbicara apapun malah pak supir yang mengajak ngobrol Alsha sambil bertanya arah jalan rumahnya karena Alsha kebingungan makanya Nathan membuka suara untuk mengambil jalan pintas saja, yang seharusnya sampai dalam waktu 20 menit kini memakan waktu hampir 1 jam untuk mencari jalan pulang.
Di balik suasana rumah Hayati.
"Devan, apa kamu bawa mobil?" tanya Hayati yang baru saja keluar dari kamar berganti pakaian.
"Bawa Tante ada di depan halaman rumah, apa kita pergi sekarang mencari Alsha?" ucap Devan yang seketika berdiri saat Hayati menegurnya.
"Ya, kita pergi sekarang karena Zizi juga sedang tidur kasian dia kalau sampai melihat kakaknya belum pulang saat dia terbangun," imbuh lirih Hayati yang cukup terdengar sedih.
"Baik, kita gerak sekarang Tante." Devan berjalan menuju pintu namun belum sempat memegang gagang pintu terdengar suara langkah kaki.
Tap Tap
"Mau kemana kamu?" tanya sang mertua berdiri dengan melipat tangan di dada.
Keduanya menoleh ke arah sumber suara yang terdengar lantang itu. "Ma, saya mau mencari Alsha ini juga sudah malam tetapi dia juga belum ada kabar, saya sangat khawatir tentang Alsha," sahut lembut Hayati pula membalas ucapan mertuanya itu.
"Bukankah suami mu sebentar lagi akan pulang? apa yang akan mama jawab jika kamu tidak ada di rumah? apa anak pungut itu lebih penting dari suami mu yang sudah bekerja pagi dan malam?" ocehan ibu mertuanya itu membuat alis Devan bertaut dan tampak kesal saat mendengarnya.
Hayati menghembus nafas kasar melihat sikap yang di tunjukkan oleh mertuanya itu, ia tidak ingin ribut di depan Devan apalagi sampai Devan tahu kalau ibu mertuanya mempunyai sifat yang teramat keras. "Ma, saya hanya pergi sebentar dan saya juga sudah menghubungi Mas Kino jadi mama tidak perlu cemas," jawab Hayati begitu halusnya supaya ibu mertuanya itu mengerti situasi dirinya saat ini yang sudah sangat kalut pikirannya.
Drrt Drtt
Bunyi getar ponsel di dalam saku celana Devan membuat dirinya tersadar dan meraih ponsel itu sambil membuka pintu dan keluar dari rumah dengan cepat.
Ternyata yang menghubungi dirinya ialah Amelia si biang kerok/biang rusuh.
Biang kerok calingg....
"Ada apa ini si biang kerok nelfon aku? pasti aneh-aneh ini yang ingin dia tanyakan." Devan bergumam tampak malas mau angkat telvon dari Amelia.
Drtt Drtt
Bunyi getaran yang berulang membuat Devan akhirnya mengangkat dengan terpaksa.
"Ya! ada apa?" tanya ketus Devan dari balik ponsel pintarnya.
"Hei kau! lama banget angkat ponsel mu itu? kau ada di mana? yuk kita ke rumah Alsha, aku bosan di rumah jadi ingin ajak kalian makan di warung steak kemarin." Celoteh Amelia seperti rel kereta api sedang berjalan tiada jeda.
Saat ia melekatkan kembali ponselnya.
"Apa aku tidak salah dengar? Alsha hilang? pergi kemana anak itu?" teriak Amelia memekakkan telinga Devan.
"Sumpah! lo buat telinga gue budeg ya Mel, santai kalau ngomong tak usah pakai teriak segala! haduh, tambah mumet kepala gue meelll..." Membalas teriak pula tanpa menempelkan ponsel ke telinganya lagi kini ia berbicara dengan mendekati mulutnya ke arah ponsel.
Saat obrolan mereka sedang berlangsung Devan melihat ada cahaya lampu mobil dari jarak yang terbilang dekat tetapi dirinya tidak tahu itu siapa, mungkin saudara Hayati sedang berkunjung atau suaminya yang sudah pulang karena rasa penasaran itu Devan terus melihat dengan mata yang terbuka lebar.
Tin Tin
Klakson mobil berbunyi beberapa kali membuat Devan melangkah ke halaman dan mematikan layar ponsel begitu saja saat Amel masih terus mengomel di balik ponselnya.
Di sisi lain tepat keberadaan Amelia.
"Sialan ini orang! main matikan saja belum juga selesai ngomong, waah parah ini anak! awas Lo ya gue sunat habis Lo entar," celoteh Amelia menggerutu sambil melempar ponselnya di atas kasur dan ia pun mengambil jaket, topi serta tasnya untuk segera pergi menyusul kediaman rumah Alsha.
.
.
Kreett
Gerbang terbuka lebar karena Devan yang sudah kian membukanya kemudian mobil itupun masuk ke dalam halaman rumah Hayati, secara bersamaan Devan pun berlari mendekati mobil itu dan berdiri di samping pintu mobil tersebut saat mobil sudah berhenti tepat di samping mobil miliknya.
Devan mulai berjalan mendekati arah pintu mobil yang memiliki kaca hitam itu sehingga ia tak bisa melihat orang yang ada di dalamnya.
Bugh
"Agh," rintihan sakit dari batang hidung Devan yang terkena pintu mobil tanpa ia sadari terbuka begitu saja saat dia mengintip dari balik kaca mobil.
Dia memijat hidungnya yang terasa amat sakit terkena kaca mobil tersebut.
Seseorang yang tanpa dia sadari juga muncul di depannya hingga ia membelalakkan mata tidak menduga ternyata orang yang dia lihat musuh bebuyutannya saat di sekolah.
Sorotan mata tajam itu melihat Devan seketika. "Ternyata kau bertugas sebagai satpam di sini? pantas saja!" kata Nathan pula bernada santai terdengar nyeletuk di telinga Devan.
"Kau rupanya!" geram Devan pula terasa sangat kesal dengan ucapan Nathan barusan.
..........
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
Tetap ikuti terus keseruan mereka hanya di 'Aku, Khanza' jangan sampai ketinggalan cerita lebih menggoda lagi๐๐คญ sarangeyo dari authorโค๏ธ