
...♡♡♡...
Klakk
Terdengar suara pintu ruangan telah di buka oleh seseorang tampak ingin memasuki ruangan tempat Hayati di rawat.
"Permisi saya mengganggu waktunya sebentar karena sudah saatnya memeriksa kondisi pasien," sapaan ramah dari seorang dokter wanita muda yang terlihat begitu cantik parasnya dan sebut saja dokter Marissa namanya kini sedang berjalan memasuki ruangan tersebut dengan di temani oleh dua orang pasien di sampingnya.
Seketika Devan berdiri dari duduknya setelah ia mendengar suara teguran dari dokter tersebut. "Oh baik dokter silahkan," sahut Devan dengan ramah pula sembari ia bergerak menepi sedikit dari Hayati yang sebelumnya telah bercerita panjang lebar tentang masa sekolahnya bersama Alsha.
Sesampainya dokter Marissa tepat berada di sebelah Hayati kini sang dokter menyentuh pergelangan tangan Hayati serta melontarkan senyuman kecil. "Bagaimana perasaaan ibu sekarang?" tanya dokter Marissa pula sambil memeriksa denyut nadi Hayati melalui pergelangan tangan Hayati.
"Saya sudah jauh lebih baik dokter, jadi kapan saya bisa pulang dokter?" berbalik tanya pula sehingga dokter Marissa menyimpulkan senyuman di balik pinggir bibirnya itu.
"Baiklah kalau begitu, maaf bu saya periksa dulu sebentar ya..." ucap dokter Marissa masih begitu ramahnya ia berbicara pada Hayati sembari dirinya sedang memeriksa bagian jantung, paru-paru, serta lambung Hayati menggunakan stetoskop yang selalu ia bawa guna untuk memeriksa setiap pasien yang ia tangani.
Setelah ia memeriksa bagian jantung dan yang lainnya kini beralih mengecek ke bagian suhu tubuh dengan menggunakan ujung termometer yang ia selipkan di dalam ketiak Hayati. "Mohon di buka mulutnya bu dan julurkan sedikit lidah ibu ya," lanjutnya lagi masih dalam pemeriksaan sehingga Hayati mengikuti perintah dari dokter Marissa tersebut sembari menunggu alat pengecek suhu berbunyi secara otomatis.
Lidah Hayati pun sudah tampak olehnya namun ia hanya memeriksanya saja tanpa menggunakan alat apapun lalu setelah beberapa detik ia menyuruh Hayati memasukkan kembali lidahnya.
"Sekarang matanya jangan berkedip ya bu, harap matanya lihat ke arah atas."
Hayati menuruti kembali ucapan dari dokter Marissa dan kini ke dua matanya di periksa menggunakan senter kecil khusus di gunakan oleh dokter bagian syaraf.
Beberapa saat alat pengecek suhu tubuh sudah berbunyi beberapa kali sehingga dokter Marissa melihat suhu tubuh dari Hayati.
"Mhh, apa anda juga keluarga dari pasien?" tanya dokter Marissa sesaat menoleh pada Devan yang tampak memperhatikan sedari tadi.
"Ah saya..."
Perkataan Devan sepenggal entah mengapa dia tak bisa menjawabnya.
"Dia anak saya dokter, namanya Devan." Sambung Hayati menyimpulkan senyuman tipis di wajahnya ketika menatap lurus ke arah Devan.
Dig
Dug
Jantung Devan berdetak kencang setelah ia mendengar kalau Hayati mengakui dirinya sebagai anak bahkan ia terpelongo saja tanpa berkata apapun.
A -apa aku tak salah mendengar kalau tante menyebut aku ini anaknya? ya tuhan betapa senangnya aku di akui sebagai anak dari mulut tante sendiri... Keriuhan dari batin Devan berkata demikian seolah ia tak menduga hal seperti itu terucap oleh Hayati.
"Baiklah tuan Devan, ibu anda sudah boleh pulang besok pagi karena kondisinya semakin membaik jadi tak ada yang perlu di cemaskan tetapi sampai di rumah harus perbanyak minum air putih supaya cairan di tubuhnya tetap terjaga terus banyak makan buah yang banyak mengandung serat serta sayuran untuk membuat kondisi tubuhnya kembali sediakala," ungkapnya pula setelah ia memeriksa seluruhnya makanya berkata demikian secara perlahan supaya Devan mengerti yang ia sampaikan.
"O, oh! baik dokter saya sudah paham, akan saya sampaikan pada yang lainnya." Turut Devan tampak kelabakan sebab ia telah tersadar dari lamunannya barusan.
"Oke, itu saja pesan dari saya kalau begitu saya mohon pamit karena tugas saya sudah selesai," katanya lagi sembari menoleh pada Hayati sebelum ia beranjak pergi. "Semoga lekas sembuh ibu," tutur ramah dari dokter Marissa dengan melontarkan senyuman kecil di bibirnya lalu tak berapa lama ia berbicara seolah berbisik pada salah satu suster yang berada di sampingnya sedari tadi kemudian suster tersebut manggut serta dengan sigap memasukkan sebuah cairan obat berwarna bening berbentuk botol kecil ke dalam sebuah suntikan setelah itu suster tersebut menyuntikkannya tepat di bagian kepala infus yang sudah terpasang di punggung tangan Hayati.
"Terima kasih banyak dokter," serentak keduanya pula berkata demikian.
"Sama-sama.. Mari saya tinggal dulu," lanjutnya lagi secara ramah dengan bungkukkan badan lalu ia pun berjalan ke arah pintu ruangan serta di ikuti oleh beberapa suster di belakangnya.
Sesudah dokter Marissa berlalu pergi dalam beberapa detik tampak Hayati memejamkan kedua mata setelah cairan obat masuk ke dalam tubuhnya sebab itu merupakan obat penenang untuk Hayati seumpama itu obat Terapy yang di usulkan oleh dokter Marissa dan aman di gunakan pada jangka waktu tertentu, begitulah pesan dokter Marissa pada suster yang selalu memantau kondisi Hayati.
Yeap, cara itu di lakukan karena Hayati semenjak kehilangan anak-anak yang dia sayangi berubah jadi seperti itu apalagi perbuatan keji dari mertua juga suaminya sendiri yang harus ia terima hampir beberapa bulan lamanya membuat ia terkadang menangis secara spontan, bahkan tertawa tanpa sebab seperti ada sebuah gangguan mental juga rasa tertekan yang di rasakan olehnya maka dari itu dokter Marissa sudah terlebih dulu memberitahukan pada Nathan supaya Hayati tidak di biarkan seorang diri dan harus ada orang yang menemani di sampingnya, begitulah penyampaian dokter Marissa sebelum Nathan meninggalkan rumah sakit.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiwa 🍂^^^
...Kutipan :...
Bertahanlah dari rasa sakit karena begitu banyak orang yang akan berada di dekatmu jadi mereka semua perantara dari tuhan untuk membuatmu lebih berjuang dari kata kesembuhan ❤️