
...โกโกโก...
Semakin lama tubuh David lebih dekat dengan tubuh Chelsea dan tentu saja ke dua pipi Chelsea merona di kala suaminya yang bisa di katakan jarang bermanja dengan dirinya kini terasa hangat.
"Apa yang ingin kau lakukan? jangan bilang kau ingin..."
Chelsea menaikkan sebelah alis matanya ketika ia melihat sang suami tersenyum lebar.
"David sadarlah! ini di kantor, apa kau kehilangan akal sehat?" celetuk Chelsea pula yang tampak sedang menahan dada bidang lebar suaminya dengan kedua tangannya.
"Ini kantorku dan sekarang kau juga ada di ruangan ku saat ini lagipula supaya kau paham aku ini siapa jadi kau tak hanya membanggakan orang lain di depan ku," serangan dari David terasa lucu bagi Chelsea sehingga istrinya itu sempat menahan tawanya.
"Pfftt, apa kau cemburu pada mereka berdua? ayolah, kau bukan anak kecil lagi yang harus berfikir seperti itu," kekehan Chelsea seketika membuat David kesal.
Setelah mendengar perkataan Chelsea barusan kini David bergerak hingga berbalik membelakangi Chelsea.
"Apa aku tidak boleh cemburu sementara kau terus membanggakan mereka?" cetus suaminya menoleh dari samping berucap demikian.
"Aku berkata sesuai yang aku lihat karena memang mereka pantas di banggakan sampai aku kagum dengan kecerdasan mereka," balas sang istri yang melirik dari arah samping menatap suaminya yang sudah cemberut. "Sebenarnya kau ingin berbicara apa sampai meminta ku ke sini?" lanjut Chelsea lagi mengalihkan topik.
David berjalan ke arah meja kerjannya lalu sejenak ia meraih sebuah kartu undangan yang sangat mewah di lapisi dengan serpihan pasir warna emas di atasnya yang terikat oleh pita kemudian ia berbalik dengan berjalan mendekati istrinya kembali.
"Aku mendapat undangan ke Inggris untuk menampilkan baju terbaru mereka di sana bahkan mereka juga ingin bekerjasama dengan perusahaan kita," ungkap sang suami yang sudah tampak duduk di sofa menatap lurus ke arah istrinya namun sang istri masih fokus pada undangan tersebut.
"Berapa hari di sana?" tanya istrinya pula dengan meletakkan undangan tersebut di atas meja.
"Selama kurang lebih seminggu," jawab suaminya terlihat sedang memijat dahi sesekali.
"Apa kau harus pergi di saat papa sedang sakit begini?" tanya istrinya lagi.
"Aku juga tidak pergi sendiri karena kau juga harus ikut untuk perias ku nantinya," imbuhnya pula.
"Lalu siapa yang akan merawat papa? apa kau tega meninggalkan papa jika kita berdua pergi?" begitu banyak lontaran pertanyaan dari Chelsea seakan membuat David di ambang keresahan.
"Aku juga bingung harus berbuat apa lagipula masih ada Nathan di rumah dan pengurus di rumah juga tidak sedikit bahkan masih ada Ded juga Hardi," monolog sang suami.
"Aku yakin papa akan merasa sedih dan merasa di abaikan oleh kita berdua dan sekarang aku juga tidak tega jika meninggalkan papa," kini mereka sama-sama berkeluh kesah dan saling mendongak dengan bersender di sofa.
"Ini juga kita lakukan untuk kehidupan keluarga kita sendiri dan aku juga sudah mencari pendonor mata untuk papa karena aku sudah meminta temanku mencari info tentang hal itu jadi kalau sudah dapat kita segera lakukan operasi untuk papa," ungkap David yang masih mendongakkan wajahnya ke atas sambil berbicara.
"Semoga saja dapat lebih cepat jadi papa bisa melihat kembali," kata sang istri pula sambil melihat jam yang mengikat di pergelangan tangannya itu. "Sudah hampir jam makan siang aku ingin jemput papa di rumah sakit kalau kau masih sibuk tidak perlu menyusul," lanjutnya lagi lalu ia bangkit dari tempat duduknya sambil berdiri menatap sang suami yang sudah melihatnya penuh tanda tanya.
"Papa ingin di rawat dari rumah saja, sudahlah kita turuti saja apa yang di inginkan oleh papa," sanggah dari sang istri supaya tak menyalahkan jika sudah sampai di rumah. "Aku keluar dulu kau jangan lupa makan siang dan ingat sesibuk apapun kesehatan mu harus di jaga," pesan sang istri yang tampak mengomel dan sedikit terdengar menekan.
"Iya sudah jangan cerewet! pergilah," katanya terdengar seolah jengah dengan omelan istrinya yang setiap hari tak pernah libur jika sudah mengoceh.
"Oke bye..."
Chelsea tampak melenggok ke arah pintu setelah perbincangan selesai.
"Berhati-hatilah di jalan kabari aku kalau ada sesuatu yang kau perlukan," pesan singkat suaminya sedari jauh.
Beberapa saat Chelsea menoleh ke belakang dan membalas dengan senyuman tipis di bibirnya itu lalu ia berlambai dengan jari jemari tangan kanannya tanpa berkata apapun lagi ia langsung ke luar dari ruangan suaminya dan menutup pintu tersebut dengan rapat.
.
.
.
Chelsea kini mengarah kembali pada ruangannya karena sebentar lagi ia juga harus segera pergi bahkan di ruangannya masih ada Chintya yang sebelumnya ia lihat masih rebahan di atas sofa ketika ia hendak ke ruangan sang suami.
Pintu ruangan pun di buka oleh Chelsea dan ia pun masuk ke dalam sambil menutup pintunya kembali dengan rapat.
Dalam beberapa langkah dari arah yang sedikit jauh dari pintu kini Chelsea sedang mendengar suara aneh, ya suaranya mirip ketika sang suaminya jika tertidur pulas saat berada di sebelahnya.
Karena Chelsea penasaran ia mempercepat langkahnya ke arah sofa dan terbelalak lah mata Chelsea ketika melihat Chintya sudah dalam keadaan posisi kepala di bawah dan tubuhnya di atas sofa lalu tampak pula kaki Chintya ke duanya sudah terbuka lebar bahkan terdengar suara dengkuran seperti ngorok dari mulutnya itu dalam sesekali Chintya mengusap air liur yang keluar dari wajahnya sendiri.
"Oh tuhan Chintya, kenapa kau jadi seperti ini? aku tak menduga kau bisa begini ketika sedang tidur," gumam Chelsea memijat dahinya berulang kali dan berulang kali pula membuang nafas kasar.
๐คฃ๐คฃ๐๐
BENGEK CHINTYA WOIII ITU BUKAN KAMAR ELU, PULANG SONO ๐คฃ๐คฃ
^^^To be continued ^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
...Kutipan : ...
Setiap makhluk tidak ada yang sempurna sebab kesempurnaan hanya milik tuhan semata jangan kau merasa paling sempurna karena cover tidak sama dengan isinya โค๏ธ