
πππ
Teng Teng Teng
Bunyi lonceng sekolah berulang kali menandakan waktunya para murid masuk ke dalam ruangan yang sudah di tentukan masing-masing, di saat ini sekolah Alsha sedang mengadakan ujian akhir yang akan menentukan kenaikan kelas para murid.
Sekitar pukul delapan lewat lima pagi seluruh murid sudah bersiap untuk duduk dengan rapi saat pengawas masuk ingin membagikan lembar ujian, dari hasil ujian itulah murid bisa memilih supaya masuk ke sekolah baru yang mereka inginkan.
Sementara itu para murid di bagi menjadi 2 waktu untuk yang pertama masuk di pukul delapan tepat dan sesi kedua masuk di pukul sepuluh, akan tetapi Alsha seharusnya sudah masuk pada pukul delapan bersama dengan Amelia apalagi mereka seharusnya satu ruangan saat ini, namun Alsha belum juga hadir di sekolah.
"Ini sudah jam berapa? Alsha kemana sih?" gumam Amelia celingukan melihat ke arah jendela ruangan tempat mereka melaksanakan UN ( ujian nasional ).
Kegelisahan Amelia semakin menjadi saja akhirnya dia berdiri dengan berani untuk membuka suara.
"Pak! saya ingin ke kamar mandi sebentar karena perut saya sakit sekali," ia mengangkat sebelah tangannya bermaksud mencari alasan yang tepat untuk bisa menghubungi Devan.
"Kamu ini ada-ada saja! sudah mau di mulai ujian bisanya kamu mau keluar," celetuk guru IPA dari sekolah lain ia pun bergeleng kepala melihat tingkah Amelia. "Sudahlah, cepat keluar saya beri waktu 5 menit dari sekarang," tegas guru itu lagi sambil memilah lembar ujian untuk di bagikan.
"Baik pak terimakasih," turut Amelia dengan sopan dan sigap berlari keluar tanpa melihat ke belakang lagi.
Amelia terus berlari mengarah taman ke tempat yang lebih sunyi untuk menghubungi Devan dengan begitu sigapnya Amelia mengetik ponsel miliknya dan menempelkan ponsel pintarnya mengarah ke telinga.
Tut Tut Tut
Namun tetap tak di angkat oleh Devan.
"Agh anak ini kemana lagi sih? susah banget kalau di hubungi sudah pasti molor ini," sungguh kesal Amelia sehingga ia terus menggigiti kukunya karena sangking gelisah tak tentu arah.
Dia kembali menghubungi dan terus menempelkan ponselnya ke arah telinga.
Tut Tut Tut
Masih tetap tidak ada jawaban dari Devan.
Amarah Amelia semakin membludak karena panggilannya tidak di jawab sama sekali. "Parah banget ini anak! tidur apa mati sih? dalam keadaan darurat begini ponsel di silent, awas saja kalau ketemu pasti ku habisi dia!" celoteh Amelia menggeram seketika tak sadar suaranya sudah terdengar oleh pengawas yang sedang berpatroli melihat keadaan setiap ruangan.
"Khem, kenapa kamu di sini? bukankah sedang mengadakan ujian?" tegur salah seorang pengawas wanita dari belakang membuat Amelia spontan terkejut sekaligus melebarkan matanya.
Amelia langsung membalikkan tubuhnya.
"Ehh ibuk! iya, tadi saya mau ke toilet tapi tiba-tiba mama saya nelfon makanya saya angkat dulu," jawab Amelia yang sudah kelabakan deluan bahkan berusaha tersenyum walau sedang geram karena Devan.
"Jangan bohong tadi saya mendengar kamu sedang memaki seseorang, apakah kamu sedang memaki mama kamu?" kembali bertanya pula membuat Amelia bengong.
Zlep
Amelia terdiam seketika.
"Oh itu, agh iya buk! di rumah sedikit ada masalah saja, kalau begitu saya pamit dulu buk! permisi," ia tetap tenang dan melontarkan senyum supaya tidak terlihat mencurigakan sekaligus berusaha mencari celah untuk kabur.
Pengawas itu hanya melirik Amelia sampai dirinya masuk ke dalam ruangan kembali, wanita itu terus mengamati sikap Amelia yang membuatnya bergeleng kepala berulang kali lalu melangkah pergi melanjutkan tugasnya yang sempat terhenti.
"Kenapa kamu masih berdiri di situ? masuk cepat! ujian sudah mau di mulai," tegur pengawas IPA yang mengawasi ujian mereka.
"Baik pak," turut Amelia bungkuk dengan sopan bahkan ia mengusap keringat yang keluar dari dahinya sambil berjalan mengarah ke tempat duduknya.
"Anak-anak, apa dari kelas kalian ada yang bernama Khanza Alesha?" kata pengawas itu membuat Amelia langsung sigap bersuara.
"Ya pak! saya temannya, ada apa dengan teman saya?" tanya Amelia berdiri seketika tanpa berfikir panjang lagi, tampak kakinya juga sedikit gemetaran saat akan mendengar kabar dari Alsha.
"Khanza Alesha sedang sakit jadi saat ini dia tidak bisa mengikuti ujian bersama, dia akan melaksanakan ujian paket C selama ujian berlangsung," jawab pengawas itu pula sambil mengamati seluruh siswa yang hadir saat itu .
Amelia kembali duduk dan mulai merasa lega kalau tidak terjadi hal buruk apapun pada Alsha dan berniat pulang dari ujian akan menjenguk Alsha bersama Devan.
"Baiklah itu saja yang ingin saya sampaikan, silahkan letakkan ponsel kalian ke depan kelas," tegas pengawas itu memberi perintah sebelum membagikan kertas ujian.
Seluruh siswa bangkit dan meletakkan ponsel mereka di atas meja supaya tidak ada kecurangan pada sesi ujian berlangsung.
"Mampus aku, semoga saja ujian kali ini aku berhasil ada di peringkat 3 mengalahkan si Devan itu!" gumam Amelia yang tak sengaja di dengar oleh pengawas tersebut saat hendak berbalik mengarah ke bangkunya.
"Kamu tadi bilang apa?" pengawas itu spontan bertanya dari belakang punggung Amel.
Amelia juga merasa kebingungan seketika, dia berbalik melihat pengawas itu.
"Memangnya saya mengatakan apa pak?" berbalik tanya pula.
"Saya bertanya lebih dulu, kenapa kamu bertanya lagi? apa kamu belum siap mengahadapi ujian akhir ini?"
"Ahahaha, bapak ini ada-ada saja!" spontan Amelia menepuk keras pundak pengawas itu tanpa dia sadari sedikitpun.
Krik Krik
Mereka pun saling terdiam membisu.
.
.
.
π€£π€£π€£π€£ somplak lu Amelia π€£π€£π€£π€£
..........
^^^To be continued^^^
^^^π aiiWa π^^^
...Kutipan:...
Sahabat sejati akan ada di saat kita membutuhkan bukan saat dia butuhkan, teman memang banyak, tetapi sahabat itu hanya ada satu yang selalu setia pada kita bukan hanya penjilat ataupun memanfaatkan kita demi kesenangan semataβ€οΈ