Aku, Khanza

Aku, Khanza
Teman Lama?


...♡♡♡...


Hospital Together.


Ruang perawatan.


"Mhh, suster apa saya sudah boleh ke luar dari ruangan ini?" tanya lelaki yang nyaris hampir tertabrak itu pula berkata demikian setelah ia selesai di obati oleh seorang perawat wanita kini berada di sampingnya tampak membereskan bekas peralatan yang akan di bawanya kembali.


"Boleh saja, tetapi luka di kepala anda masih basah jadi jangan sampai perbannya terbuka dan anda boleh tebus obatnya di administrasi terlebih dulu karena tidak perlu di rawat hanya benturan di kepala serta tangan saja," imbuh suster itu secara ramah berbicara sembari terus merapikan alat-alat yang akan di bawa olehnya.


"Baiklah terimakasih, ohya saya ingin bertanya anak lelaki yang saya bawa itu sekarang sudah di tangani bukan?" tanya lelaki itu lagi.


"Sudah, sekarang pasien sedang berada di ruang UGD kalau anda mau saya akan mengantarkan ke ruangannya saat ini, mari ikut saya."


Suster itu bergerak sambil membawa beberapa alat di tangannya sementara lelaki itu anggukkan kepala lalu ia turun dari tempat berbaringnya sehingga ia terus mengikuti langkah suster tersebut yang berada di depannya.


Ruang UGD.


"Ini ruangannya tuan, anda boleh menunggu di luar sampai dokter selesai menangani pasien," katanya pula sembari tersenyum ramah bahkan lelaki itu membalas dengan senyuman tipis lalu suster yang membawanya berpamit pergi darinya sehingga lelaki itu duduk di sebuah bangku seorang diri sambil menatap ke arah ruang UGD dengan lontaran mata penuh kesedihan sebab ia tak menduga ada seorang anak kecil yang rela menolongnya kalau tidak mungkin dirinya lah yang saat ini sedang berada di dalam ruangan tersebut.


Krieett


Ruang UDG seketika terbuka pada saat dirinya sedang fokus menatap ruang tersebut dan beberapa suster sedari keluar ruang UGD tampak berlari begitu saja entah mengapa lalu seorang dokter memakai baju dinas lengkap dengan atributnya sedang menghampiri lelaki yang menunggu di depan ruangan tersebut kemudian ia pun berdiri serta melangkah maju.


"Loh, Zikmal?" tegur dokter yang keluar dari ruangan UGD tampak kaget sehingga ia membuka masker di wajahnya ketika melihat orang yang ia kenal berada di depannya saat ini bahkan berada di rumah sakit tempatnya bertugas.


"Matt, tak kusangka kita bertemu di sini," kata Zikmal pula sehingga ia merasa lega kalau bocah lelaki itu di tangani oleh temannya sendiri.


"Ada apa dengan mu Zikmal? kenapa kau sampai terluka begini? di mana istri mu? apa kau hanya sendiri? ohya kenapa kau duduk di sini?" begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Matt sebab ia memang sudah lama tak bertemu dengan temannya itu makanya ia kaget melihat kondisi Zikmal yang terluka.


"Aku nyaris hampir di tabrak bus Matt dan ini tak seberapa di banding kondisi anak lelaki yang kau tangani saat ini," imbuhnya pula menautkan kedua alis matanya bahkan raut wajahnya terlihat sedih.


"Oh ya ampun... Jadi pasien yang aku tangani itu dialah orang yang telah menolong mu? kalau begitu kau ikut ke ruangan ku sekarang karena ada hal yang harus aku katakan padamu, ayo jalan saja perlahan."


Yeap, Matt dan Zikmal merupakan teman lama yang pasti pernah satu angkatan di Manado lalu mereka berpisah di Manado untuk meneruskan jenjang karier masing-masing namun sekian lama Matt tak bertemu usai pernikahan Zikmal berapa tahun silam karena kesibukan mereka lah yang jadi penghalang antara keduanya apalagi Zikmal juga sudah membuka praktiknya sendiri sedangkan Matt selalu bertugas ke segala rumah sakit sebab ia belum mau membuka praktik karena ia belum memikirkan hal tersebut.


"Duduk lah, apa kau mau teh? biar aku buatkan," tawarnya pula setelah ia membantu Zikmal bersandar di sofa ruangannya.


"Tidak Matt aku hanya butuh air putih saja," pintanya sembari memejam mata karena ia sedang merebahkan kepalanya di sofa tempat duduknya.


"Baiklah akan aku ambilkan," turut Matt sehingga ia langsung bergerak dengan mengambilkan segelas air putih untuk Zikmal.


Beberapa saat kemudian Matt kembali dengan membawa gelas berisi air di tangannya.


"Nah kau minumlah dulu," kata Matt sembari duduk dan meletakkan gelas itu di atas meja lalu Zikmal membuka matanya serta bergerak perlahan meraih gelas itu kemudian meneguknya beberapa kali.


"Terimakasih Matt, sekarang kau bisa katakan padaku bagaimana kondisi anak lelaki itu?" tanya Zikmal seusai ia minum dan meletakkan gelas itu kembali di atas meja.


"Sangat parah, apalagi kita harus segera melakukan operasi di kepalanya akibat benturan yang hebat bahkan dia sudah banyak kehilangan darah jadi setelah operasi berlangsung darah akan sekaligus di masukkan dalam tubuhnya sungguh luka dalam yang parah makanya aku keluar ingin bertemu dengan keluarganya tidak ku sangka pasien itu ternyata orang yang kau kenal," katanya pula panjang lebar sehingga Zikmal menjadi begitu frustasi mendengar penjelasan dari Matt.


"Apa darah di rumah sakit ini memiliki stok?" tanya Zikmal seketika melihat ke arah Matt dengan wajah seriusnya.


"Masih beruntung rumah sakit ini memliki stok darah yang sama persis dengan darah anak itu jadi kita tidak perlu berlama-lama memberikan transfusi padanya dan kau tak perlu cemas sekarang kau harus tanda tangani surat persetujuan operasi ini selebihnya kau serahkan padaku," imbuh Matt berkata demikian sehingga Zikmal merasa lega karena ia sudah sangat mengetahui bagaimana cara Matt menangani para pasiennya sudah tak di ragukan lagi kemudian Zikmal pun menandatangani yang di perintahkan oleh Matt.


"Aku berharap padamu, apapun lakukan lah yang terbaik untuk anak lelaki itu dan aku tak ingin seumur hidup merasa bersalah padanya," ucapnya secara lirih sehingga Matt dapat merasakan kegelisahan dari sorot mata temannya.


"Kau tak perlu se-khawatir ini karena nyawa manusia sudah ada di tangan tuhan jadi kau serahkan padaku sebisa dan semampunya aku akan menanganinya dengan baik," balas Matt memberi semangat pada Zikmal dengan berkata demikian serta ia menepuk pelan sesekali pundak Zikmal.


"Ya kau benar, aku akan serahkan padamu dan terimakasih sekali lagi Matt karena kau aku jadi merasa lega," katanya lagi yang tampak membuang nafas pelan.


"Yasudah sekarang aku harus keluar dan kau tetap berada di sini karena aku melihat kau sungguh kelelahan jadi kau bisa merebahkan tubuhmu sejenak, oke!" titah Matt pula kemudian ia meraih kertas yang sudah di tanda tangani oleh Zikmal kemudian ia secara sigap bergerak dari tempatnya melangkah ke luar pintu ruangan sementara Zikmal berada di dalam ruangan Matt dengan merebahkan tubuh di atas sofa.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Kita tak pernah tahu jalan hidup kita sebab jalan hidup sudah di tentukan masing-masing makanya orang yang sudah berada di atas pasti sebelumnya dia merasakan berada di paling bawah begitu pula sebaliknya untuk orang yang masih berada di bawah tetaplah berusaha jangan pernah mengeluh dalam kehidupan mu ❤️