Aku, Khanza

Aku, Khanza
Gubuk Yang Lusuh


🍁🍁🍁


Ketika malam sunyi itu sekitar pukul 11.00 tepat di mana Khanza masih terbaring di lantai tanpa di ketahui oleh siapapun dan di saat itu pula Kino suami dari Hayati pulang langsung istirahat berasalan lelah karena lama di perjalanan, ketika Hayati terlelap dalam tidurnya sementara Shopia dan Kino anak dari Shopia beraksi untuk membuang Khanza beserta Zizi pada saat malam itu juga.


"Ssst, langkahmu jngn terlalu keras! nanti istrimu terbangun dan semua rencana kita bisa berantakan." Ibu Shopia terus mengoceh sambil celingukan melihat situasi kini ia membuka pintu kamar Alsha perlahan serta berbisik pada Kino.


Shopia masuk seorang diri, sementara Kino pergi ke kamar Zizi entah apa yang mau ia lakukan.


Ketika Shopia masuk perlahan ia melihat Alsha masih tergeletak tak sadarkan diri dengan kondisi buih keluar dari mulutnya.


Tap Tap


Kaki Shopia menyentuh wajah Alsha hingga ia tersenyum melihat keadaan Alsha seperti itu, ia sangat puas karena dalam fikirannya Alsha sudah lenyap seketika.


"Hei bocah! apa kau masih melawan padaku? apa kau tahu? aku muak hidup bersama kalian para gembel, tentu saja aku akan mengembalikan kalian ketempat di mana kalian berasal!" ucap Shopia dengan rasa puasnya sambil meletakkan sebelah kakinya di atas perut Alsha hingga menekannya keras.


Tuk


Bunyi suara ketukan sekali menandakan Kino sudah membawa Zizi keluar dari kamarnya.


Ketika ia menyadari suara itu, Shopia langsung meraih kedua tangan Alsha dengan menggeretnya sampai keluar rumah.


Sesampainya di luar Shopia mengetuk kaca mobil supaya Kino membawa Alsha masuk, setelah itu Alsha di bawa masuk dan ia geletakkan di atas kursi dengan menghempaskannya begitu saja.


Sementara Zizi saat Kino menggendongnya di kamar ia menggeliat dan ingin menjerit, akhirnya Kino menyekap mulut Zizi menggunakan kain hingga mengikat kedua tangan serta kakinya bahkan Zizi di letakkan di pintu belakang mobil kemudian keluarlah air mata Zizi ketika itu saat dia tahu akan di bawa pergi oleh orang yang akan berbuat jahat pada dirinya kini yang di pikirkan Zizi ketika itu bagaimana caranya supaya bisa bertemu lagi pada kakaknya yang sampai sekarang dia tidak ketahui keberadaan sang kakak.


.


.


"Sudah beres semuanya? jangan sampai ada yang curiga pada kita," kukuh ibu Shopia di balik kaca mobil.


"Sudah ma, semuanya sudah aku bereskan! sekarang kedua anak itu tidak akan bisa kembali lagi ke rumah kita," ucap Kino merasa bangga sudah membuang kedua saudara itu ke tempat yang di penuhi semak, apalagi letaknya sangat jauh dari rumah mereka.


"Masuk! mau berapa lama lagi kau berdiri di situ?" hardik ibu Shopia menggertakkan tubuh Kino sejenak.


Kino dengan berlari memasuki mobil kini ia pun melajukan mobilnya perlahan, dan dengan tatapan puasnya Shopia menyimpulkan senyum jahat saat mereka hendak meninggalkan lokasi itu, lajuan mobil langsung tancap gas supaya orang-orang tidak curiga pada mereka.


.


.


Zizi sang adik bersusah payah menggerakkan kakinya yang terikat kuat apalagi ia melihat keadaan kakaknya yang mengeluarkan buih terlihat sangat pucat sekali, sehingga dia terus mengeluarkan air matanya sederas mungkin tanpa bersuara karena mulutnya masih di dekap oleh kain. Zizi berusaha mendekati kakaknya dengan merangkak perlahan, ia pun mengelus kepalanya di pipi sang kakak dengan terus merengek tanpa bisa memanggil kakaknya.


Sejenak Zizi menatap ke setiap tempat yang ada di dekatnya, ia melihat dari kejauhan ada sebuah gubuk berlampukan warna kuning remang terlihat sangat redup sehingga gubuk itu terlihat lusuh seperti ada penghuninya. Zizi berusaha lagi untuk bangkitkan tubuhnya karena tidak mungkin dia bisa berjalan dengan kaki terikat sangat kuat dia hanya bisa mengandalkan kedua lututnya untuk merangkak dengan merunduk, ia melakukan hal itu demi menyelamatkan sang kakak yang membutuhkan pertolongannya dan dengan bantuan lututnya itu sampailah ia di depan gubuk sejauh tempat mereka di letakkan oleh Kino.


Sigapnya Zizi meraih batu dan mengetuk pintu gubuk tersebut berulang kali.


Tuk Tuk Tuk


Tapi belum ada juga yang menyahut.


Tuk Tuk Tuk


Kriet


Terbukalah pintu itu dengan lebar tampak seorang nenek memakai tongkat, rambut sudah memutih, keriput di wajahnya.


Sang nenek melihat Zizi dengan mata yang sudah rabun tapi masih sedikit jelas walau samar.


..........


...Kutipan...


Jika seseorang sudah tidak memiliki hati, nurani pun tidak akan tampak lagi ❤️


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^