Aku, Khanza

Aku, Khanza
Yang Tampak Oleh Mata Belum Tentu Sesuai Dengan Yang Dipikirkan


...♡♡♡...


Drrttt


Bunyi getaran ponsel sejenak terasa oleh Chelsea ketika ia sedang berbicara pada dokter soal kondisi ayah mertuanya karena sang suami sedang menemani Genji ngobrol bersama dengan Panji yang sedari tadi Genji tampak memberikan semangat pada Panji.


Drtttt


Getaran serta bunyi ponsel pun berulang karena Chelsea belum juga mengangkatnya.


Dalam beberapa saat Chelsea merogoh bag mininya dan meraih ponsel miliknya sehingga ia melihat di balik layar ponselnya yang menghubunginya sedari tadi ternyata sekretaris pribadinya.


"Dok maaf sebentar saya ingin menerima panggilan dari ponsel saya dulu," kata Chelsea yang langsung menyela pembicaraan dokter itu karena dia merasa pasti ada hal penting sampai sekretarisnya menghubungi tak berhenti.


"Oh silahkan nyonya, saya juga ingin kembali dan hanya itu saja yang ingin saya sampaikan pada nyonya, saya deluan nyonya."


Sang dokter pun berlalu pergi setelah ia melihat Chelsea sedikit sibuk dalam urusannya makanya dokter itu menyudahi perbincangannya walaupun masih ada yang ingin ia sampaikan terutama dengan kedua mata Panji akan tetapi ia tak mungkin menunggu Chelsea karena ia juga punya urusannya pada pasien yang lain.


Ketika dokter itu berlalu pergi dari hadapan Chelsea ia pun langsung beranjak dari tempatnya ke arah lain sambil membuka layar ponselnya dan kembali menghubungi sekretarisnya.


.


.


.


Ruang tamu keluarga Austin.


Tap Tap


Tampak Nathan sedang berjalan ke arah ruang tamu ketika ia hendak mau keluar dari pintu rumah sekilas ia melihat Ded tertidur pulas di atas kursi sofa panjang sambil mendengkur keras kemudian Nathan pun mendekatinya sambil memijat dahinya sendiri berulang kali.


"Ded," panggilan sekali dari Nathan terlihat ia juga menggoyangkan tubuh Ded berusaha membangunkannya namun tak juga terbangun. "Ded cepatlah bangun!" panggilan berulang kali pun terjadi sampai Nathan mulai jengah menatap ke arah bodyguardnya itu.


Lalu Nathan membuang nafas kasar karena panggilan darinya juga tidak di sahut sama sekali.


Kemudian Nathan berjalan ke arah lain entah apa yang sedang di carinya mungkin ada sesuatu benda yang bisa membangunkan Ded makanya dia berjalan sambil celingukan untuk mencari sesuatu tuk ia gunakan akhirnya Nathan terus berjalan sampai ke arah dapur lalu dia melihat sebuah palu berukuran sedang berbahan dasar besi yang ringan untuk menghancurkan daging lengkap dalam satu set bersamaan dengan talenannya.


Sementara itu Nathan tersenyum tipis sambil membawa alat tersebut ke arah ruang tamu depan apalagi ia melihat Ded masih saja mendengkur bahkan tampak berulang kali menyeka air liurnya sendiri padahal Ded baru saja bersiap diri sebelumnya karena Nathan melihatnya sudah berganti pakaian.


PRAAANGGGG


"Kebakaran... Kebakaran tolooooong ada ke-"


Teriakan Ded begitu keras sehingga ia berputar dengan menutup kedua telinganya sambil berjongkok lalu sejenak Ded terdiam sambil menatap ke arah Nathan yang tampak sedang memegang sebuah alat di tangannya.


"Apakah sudah puas tidurnya? berulang kali aku bangunkan kau tidak dengar ya terpaksa aku menggunakan alat ini," imbuh Nathan pula lalu ia meletakkan alat tersebut di sebuah meja.


"Sudahlah Ded sekarang kau cepat bersihkan wajahmu itu karena air liurmu masih menempel," tunjuk Nathan seketika membuat Ded merasa malu kemudian Ded langsung berlari secepat mungkin dengan kelabakan.


Dari jauh Nathan hanya bergeleng kepala melihat tingkah Ded karena dia memiliki kedua bodyguard yang masing-masing berbeda tingkahnya.


Dalam beberapa saat Ded balik dengan tampang wajah yang segar kembali karena habis mencuci muka sementara itu Nathan langsung memberikan sebuah amplop tebal ke arah Ded sehingga membuat Ded menautkan kedua alis matanya.


"Tuan apa ini? apakah tuan mau memecat saya makanya tuan memberikan amplop pada saya? jangan tuan maafkan saya karena tuan kesal melihat saya ketiduran di sini," celoteh Ded yang membuat jengah Nathan sehingga ia mengelus pundak lehernya sambil mengambil nafas panjang lalu membuangnya pelan.


"Apa sudah selesai mengoceh? aku belum berbicara apapun tapi kau sudah panjang lebar," semburan Nathan seketika Ded terdiam dengan rasa malunya tidak berani menatap ke arah Nathan. "Amplop ini berisi uang 5 juta dan kau pegang dulu untuk lelaki yang kita tahan itu," lanjut Nathan pula membuat Ded langsung menegakkan kepalanya mendengar ucapan bos mudanya.


"Kenapa tuan memberikan uang pada lelaki jahat itu?" protes Ded pula sekilas tak terima karena ia merasa ada yang salah dari bos mudanya itu.


"Sudah jangan banyak protes! aku hampir telat cepatlah," celetuk Nathan kemudian ia beranjak berjalan ke arah pintu luar dan berhenti tepat di depan lelaki yang masih mereka tahan.


Lalu Ded menyusul menghampiri Nathan yang sudah keluar dari pintu rumah setelah itu Ded menutup kembali pintu dengan rapat.


"Ded buka talinya," titah Nathan sambil melirik ke arah samping lalu Ded bergerak cepat sambil mengantongi amplop yang di berikan Nathan sebelumnya.


Lelaki tersebut menatap ke arah Nathan yang tak melihatnya sama sekali dan tali itu pun terlepas dari tangannya setelahnya Nathan berjalan deluan ke arah mobil sehingga Ded menyusul Nathan sambil memegang lelaki itu.


Sampainya Ded ke arah mobil tak lupa ia membuka pintu mobil belakang untuk Nathan sementara lelaki itu duduk di bagian depan bersama Ded setelah keduanya masuk Ded pun berlari untuk masuk di bagian setir mobil tak berapa saat ia melajukan perlahan mobilnya ke arah gerbang dan pak satpam seketika membuka gerbang dengan lebar.


Lajuan mobil terasa pelan bagi Nathan makanya ia menatap ka arah pantulan kaca mobil tepat mengarah pada Ded. "Cepatlah sedikit waktuku tidak banyak lagi kalau aku di hukum, apa kau mau menggantikannya?" tanya Nathan terdengar tidak sabaran dalam lajuan mobil yang di bawa oleh Ded.


"Ba - baik tuan muda akan saya percepat," turut Ded pula sambil kelabakan menjawab ucapan dari bosnya itu lalu ia melirik sesekali ke arah pantulan kaca melihat Nathan sudah menikmati angin yang berhembus karena kaca mobil di dekatnya terbuka lebar.


Kemudian Ded mematikan AC mobil tepat di dekatnya karena Nathan membuka kaca mobil dengan lebar dan terlihat juga lelaki yang ada di samping Ded melirik sesekali ke arah Nathan karena dia tidak tahu akan di bawa kemana.


Sepanjang di perjalanan tidak ada satupun yang berbicara mungkin saja keduanya takut pada Nathan.


"Ded setelah kau mengantarku jangan lupa kau antar dia ke rumah sakit," imbuh Nathan yang berbicara sambil memejam kedua matanya mengarah pada kaca mobil yang masih terbuka.


"Oh baiklah tuan," turut dengan menjawab dengan patuh lalu Ded menoleh ke arah lelaki tersebut sambil melontarkan senyuman kecil.


Tentu saja lelaki tersebut merasa bingung kenapa dirinya di antar ke rumah sakit kemudian Ded memberikan kotak tisu pada lelaki itu supaya ia menyeka luka di wajahnya.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Tidak semua orang itu bersifat jahat dan tidak banyak pula orang yang bersifat baik ❤️