Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kerinduan Berujung Rintihan Air Mata?


...♡♡♡...


Kedua bola mata Khanza sudah mulai melebar hingga tampak sebentar lagi akan turun derasnya air mata yang mengalir di wajahnya sebab ia tak menduga ayahnya berubah drastis seperti saat ini bahkan ia mengingat terakhir kali bertemu dengan ayahnya tidak berantakan begitu hingga ia hampir tak mengenali ayahnya sendiri.


"Kau! kenapa kau ada di sini? hah! pergi kau, untuk apa kau menemui ku di sini," bentaknya pula namun dia berbicara sudah setengah sadar sebab Adam sedang meminum miras dalam botol yang ada di tangannya sekarang sembari terus meneguknya hampir habis.


Glukk


Glukkk


Adam terus meneguk minumannya namun mulutnya masih menghardik Khanza yang sudah terdiam seakan membisu melihat keadaan orang tua satu-satunya yang ia miliki dan ia fikir ayahnya masih ada di kampung namun siapa sangka akan bertemu dengannya di rumah kosong itu.


Sungguh air mata Khanza sudah tak tertahan lagi melihat kondisi ayahnya hingga jatuh lah air mata menetes di ke dua pipi Khanza bahkan bibir Khanza bergetar hebat sampai di ke dua tangannya ikut merasakan gemetaran sebab ia rasanya ingin menjerit di saat itu juga akan tetapi ia tahan dengan tidak mengeluarkan suaranya.


"A -abi, ini Alsha... Abi lupa dengan Khanza? I -ini Khanza Alesha nama yang abi dan umi berikan untuk Khanza... Alsha rindu abi, hikss Alsha rindu, kenapa abi jadi begini," rintihan tangis Khanza pecah ketika ia berkata demikian air mata yang membasahi wajahnya itu seolah tak di gubris oleh ayahnya padahal Khanza terus menyeka air matanya tetapi masih juga mengalir begitu saja sebab ayahnya masih asyik menikmati minuman miras yang di bawa dari luar.


"Apa kau bilang? anak? kau bukan anak ku! aku tak punya anak yang membiarkan ayahnya sakitan dan tak menjawab satu pesan pun yang di kirim oleh orangtuanya, apa itu yang kau sebut sebagai anak? kau tak layak jadi anak ku, kau anak yang tak tahu diri tak tahu di untung kau!" murkanya pula hingga cercaan itu di dengar oleh Khanza langsung hinga hancurnya hati Khanza di saat ia mendengar semua itu.


"Kenapa abi bicara kasar pada Khanza? Surat apa abi? Khanza tidak tahu apapun dengan surat yang abi kirim, Khanza tidak mengerti abi... Hiks Khanza salah apa abi?" ia masih merintih hingga menekan bagian dadanya menggunakan jempol tangannya sebab ia seakan kehilangan suaranya sampai ia tertunduk namun air mata masih jatuh bahkan semakin deras pula air mata yang ia keluarkan.


"Kau jangan membodohi aku semua yang kau katakan tidak ada gunanya lagi, aku juga bisa hidup tanpa bantuan dari mu lagipula untuk apa kau ke sini? ini markas ku, ini tempat ku bersenang-senang! buat apa kau ke sini hah?" kelakarnya hingga ia membentak dengan keras dan setelah mendengar perkataan dari ayahnya barusan kini Khanza melebarkan kedua matanya mengingat kalau lelaki yang membawanya itu telah menipunya mentah-mentah jadi sekarang barulah ia sadari bahwa dirinya sudah masuk perangkap para bandit seperti style ayahnya saat ini.


Markas? berarti... Batin Khanza berkata demikian dengan menautkan alis matanya.


Khanza pun terdiam namun ia mencoba kuat menghadapi rintangan yang harus ia lewati sehingga ia mengepalkan kedua tangannya mengingat wajah Juna yang berhasil menipunya akan tetapi Khanza memiliki keberanian seperti baja jadi dirinya tak ada sedikitpun rasa takut tapi dirinya memang sangat terpukul karena mendengar semua lontaran yang di berikan sang ayah untuknya serasa dia gagal menjadi seorang anak yang berbakti pada orangtuanya itu.


Kaki Khanza juga tampak sudah semakin lemas namun ia kuatkan setelah menatap adiknya yang masih berbaring di kasur karena jika dia menyerah sekarang tak akan ada lagi yang menjaga adiknya kelak, itulah fikir Khanza makanya ia mencoba menegakkan kepala melihat ayahnya yang masih sinis menatap ke arahnya.


"Tap tak mengapa, jika kau ada di sini maka aku akan bersenang-senang padamu! sini anak cantik nurut saja jangan menjauh," celotehnya pula hingga ia berjalan mendekat ke arah Khanza dengan niat yang buruk tetapi Khanza mundur ke belakang di saat ayahnya melangkah ke depan.


"Abi mau apa, jangan buat Khanza takut! abi ini anakmu, sadarlah abi."


Perkataan Khanza tak di dengarkan sedikitpun malah ayahnya masih melangkah ke depan bahkan ia sudah ingin membuka resleting celananya dan berniat ingin memuaskan dirinya lewat Khanza.


"Kau nurut saja sudah aku bilang, tenanglah dan kau nikmati saja!" katanya pula namun tangannya masih sibuk ingin membuka celananya itu sementara Khanza sudah mentok tak dapat lagi mundur ia pun terduduk seketika tepat membelakangi tembok.


"Abi, Khanza mohon.. Abi jangan begini, abi hikss abiiiiiii." Khanza seketika menjerit ketika ayahnya sudah menangkap dan mengunci kedua tangannya itu sehingga mulut ayahnya berada di antara leher Khanza bahkan rintihan tangisan Khanza tak juga di dengar oleh ayahnya sendiri yang tega melakukan hal ternoda pada dirinya.


Di saat Adam sedang asyik dengan perbuatannya akhirnya tangan Khanza ia lepaskan tanpa ia sadari lalu Khanza melihat botol minuman yang ada di dekatnya tak berapa lama tanpa fikir panjang ia menggerakkan kakinya walau lebih susah yang dia bayangkan sebab kedua kakinya sudah di timpa oleh tubuh besar ayahnya itu.


Pluugg


Jatuhlah botol kaca minuman miras kosong bekas yang di minum oleh ayahnya tadi lalu ia masih berusaha meraih botol tersebut dengan sekuat tenaganya.


Pranggg


Bruuugh


Gedebugh


"Aaaaahhhh, agh!"


Suara jeritan hingga rintihan kesakitan hebat keluar dari mulut Adam sebab Khanza memukul botol kosong tepat di bagian belakang kepala ayahnya makanya Adam merintih kesakitan apalagi darah mengalir terus dari kepalanya itu.


"Hagh, hagh..." Betapa sesaknya nafas Khanza sebab tubuhnya yang sebelumnya di timpa kini akhirnya terlepas namun ia menjadi sangat sedih karena di saat ingin menyelamatkan dirinya ia harus melakukan hal demikian lalu ia berusaha bangkit dengan bantuan kedua telapak tangannya dan melihat ayahnya yang tergeletak masih mengerang kesakitan akan tetapi ia masih ragu jika ia menolong ayahnya bisa saja sang ayah akan berbuat jahat lagi pada dirinya makanya ia melangkah ke arah Zizi dan sekuat tenaganya ia menggendong Zizi di belakang punggungnya.


Di saat kejadian itu Juna masih terlelap dalam tidurnya makanya ia tak tahu kalau Adam sudah datang ke rumah tersebut tanpa ia ketahui apalagi Adam memang biasanya suka singgah ke rumah itu untuk mengambil minuman dan mengisap narkotika sebab itu suatu hal yang membuatnya senang.


"Maafkan Khanza abi, sungguh Khanza terpaksa melakukan hal ini karena Khanza tak ingin abi menanggung dosa seumur hidup abi jika saja abi sampai melakukan pelecehan pada Khanza, maaf Khanza harus pergi," rintihan tangis Khanza masih terdengar jelas bahkan ia masih sempat tersenyum simpul ke arah ayahnya sebab rindunya telah lepas walah berakhir derai air mata.


Tangan Adam tampak ingin meminta tolong pada Khanza dan sebelah tangannya lagi memegang kepalanya yang masih mengeluarkan darah sehingga ia melihat Khanza yang sudah sedikit menjauh darinya.


Secara perlahan Khanza menapaki kakinya hingga dengan pelan pula ia memegang gagang pintu serta mengintip sedikit dari balik celah pintu yang telah ia buka karena ia ingin memastikan dirinya aman jika keluar dari rumah itu.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Anak yang berbakti akan terlihat di saat ia memperlakukan orangtuanya, dari cara bicaranya, tutur kata dan yang pastinya tak pernah berkata kasar, itulah pertanda baktinya anak terhadap orangtua ❤️