Aku, Khanza

Aku, Khanza
Kepanikan Semua Orang...


...โ™กโ™กโ™ก...


Tampak kepalan tangan yang kuat dari kedua tangan Panji tepat di saat David dan Chelsea usai pergi dari hadapannya bahkan dari jauh Yeni sempat melihat kepalan tangan itu tadi lalu dia ingin memberitahu pada Yani namun ia merasa takut kalau Panji akan mendengar pembicaraannya.


Seusai Yani dan Yeni mengupas buah kemudian salah satu dari mereka bergerak mendekati Panji untuk memberikan langsung padanya sehingga yang terlihat mengarah pada Panji yaitu Yeni sebab dia juga ingin memastikan penglihatannya barusan dan ternyata benar ia melihat wajah Panji sudah tampak sangat sedih begitupula tangan yang ia kepal masih terus terlihat oleh Yeni karena itu Yeni tak berani untuk menegurnya alhasil dia pun kembali lagi dengan membawa buah yang ada di tangannya berbalik arah pada Yani yang sempat bingung kenapa Yeni kembali lagi.


"Hei, ka-"


"Sssttt."


Yeni membungkam mulut Yani secara cepat lalu ia meletakkan buah tadi di atas meja bulat kemudian lengan Yani ia tarik ke arah yang agak jauh dari tempat Panji berada bahkan dengan langkah yang terburu-buru.


Mereka berdua mengarah pada saluran selang keran air untuk menyiram tanaman lalu Yeni sempat mengintip dari jauh keadaan sambil melihat situasi sebelum ingin berbicara pada Yani.


Bertaut lah kedua alis mata Yani ketika melihat kembarannya itu bersikap aneh.


"Kau kenapa? sikapmu aneh!" cetus Yani tampak tak sabaran.


"Aku tidak tahu kenapa bisa aku membawa mu kesini, karena aku takut jika tuan besar mendengar pembicaraan kita," jawabnya pula sambil bersandar di sebuah tembok batu.


"Lalu kenapa kau kembali lagi tadi bukannya kau yang meminta untuk mengantarkan buah itu ke tuan besar?" tanya Yani lagi sambil menepuk jidatnya sendiri dengan pelan.


"Aku tadi melihat raut wajah tuan begitu sangat sedih antara ada sesuatu yang berat sedang ia sembunyikan," cakap Yeni terlihat sedang menatap ke arah Yani sehingga mereka saling bertatap muka.


"Mungkin tuan sedang terpukul saat ini karena tak bisa melakukan apapun di tambah anak dan mantunya juga pergi jadi hanya kita yang ada di sampingnya, ohya aku ada ide!" riuh Yani yang seolah berbinar pula matanya ketika menatap ke arah Yeni.


"Apa idemu?" tanya Yeni pula mengatupkan kedua tangan di dada dan menaikkan sebelah alis matanya sesaat mengingat kejadian lalu. "Jangan melakukan ide yang aneh! karena mu aku hampir masuk ke dalam sumur waktu kecil," sergah Yeni tampak membuang wajahnya ke arah lain.


"Itu karena kau yang tidak bisa tenang!" sanggah Yani langsung menoyor jidat Yeni. "Aku sudah bilang jangan banyak bergerak nanti ketahuan kau tak mau mendengar masih untung bajumu nyangkut di paku kalau tidak sekarang kau sudah pasti tiada," ledeknya pula secara kekehan kecil.


"Jadi kau memiliki ide apalagi untuk tuan besar?" tanya Yeni yang tak sabaran.


"Sini aku bisikin," katanya pula yang meminta Yeni mendekat padanya kemudian tak berapa lama Yeni pun mendekatkan telinganya ke arah Yeni.


Setelah usai bisikan berlangsung. "Bagaimana, cemerlang tidak ide ku?" cakapnya lagi terlihat memainkan kedua alis matanya sambil tersenyum lebar.


"Wah, kenapa bisa kau mendapatkan ide bagus itu? aku yakin tuan pasti bahagia ketika kita memberi sedikit liburan walau ia tak bisa melihat, jadi kira-kira kapan kita akan membawa tuan pergi berkemah?" tanya Yeni yang tampak sedang memegang dahinya sedang berfikir.


"Bukannya ini hari sabtu, bagaimana besok saja? kita sekaligus ajak tuan muda juga pasti libur, kan?" bermainlah terus kedua alis mata Yani berbicara demikian.


Dengan kompaknya mereka pun mengetoskan tangan lalu tersenyum lebar.


"Dah, kita balik lagi takutnya tuan memanggil kita tak mendengar," ajak Yani pula lalu di ikuti oleh Yeni dari belakang.


Kini Yeni merasa tak enak hati karena tongkat Panji tak terlihat sehingga ia melangkah lebih cepat lagi.


Sesampainya Yeni di tempat ternyata Panji sudah tiada lagi di kursinya.


"Yani cepat lah kemari tuan tidak ada di sini," teriak Yeni dari jauh karena Yani masih belum sampai juga.


Seketika Yani melebarkan matanya melihat bangku sudah kosong sehingga mereka berdua panik bukan kepalang.


"Tenanglah, mungkin tuan balik ke kamarnya karena kita tadi pergi sebentar bisa saja tuan mulai bosan di sini makanya pergi ke kamar, ayo kita ke kamar tuan!" ajak Yani langsung sigap berlari dan Yeni juga berlari secepat mungkin.


Perasaan kalut mereka semakin terasa ketika Panji tidak ada di kursi tempat mereka sebelumnya namun keduanya berusaha tenang sebab mereka juga ingin memastikan melalui kamar Panji terlebih dulu.


Di saat mereka tepat berada di kamar Panji ternyata kosong total lalu Yeni mencari di kamar mandi serta Yani bergerak mencari ke sudut ruangan lain.


Karena mereka sudah mencari ke segala arah akhirnya Yani mengumpulkan semua pengurus rumah di halaman.


"Tuan besar menghilang jadi aku minta kalian cari di sekitar sini, semuanya berpencar! sekarang," tegas Yani pula yang mulai cemas bahkan wajahnya begitu panik tak karuan.


Satpam penjaga rumah bernama Eko merasa bingung kenapa semua pengurus ada beberapa yang keluar dari gerbang adapula yang sedang sibuk bergerak dari arah lain lalu Yani langsung ke arah tempat satpam itu berdiri terlihat kebingungan sendiri.


"Eko," tegur Yani pula yang tampak Yeni ada di sebelahnya sudah keringatan.


"Ada apa ini? kenapa kalian pada berpencar?" tanya Eko masih terus menoleh pada orang-orang yang sibuk berlarian.


"Tuan besar tidak ada di rumah, apa kau melihatnya keluar dari arah gerbang?" balik bertanya kini Yani merasa tambah panik sambil ia terus menyeka keringat di wajahnya.


"Gerbang? ohiya, aku tadi menutup gerbang saat aku balik dari kamar mandi karena aku fikir salah satu dari kalian keluar dan lupa menutupnya atau jangan-jangan tuan yang keluar dari gerbang itu?" sekarang Eko pula yang menjadi panik karena sudah pasti dia menyadari siapa saja yang masuk dan keluar dari gerbang itu namun di hari ini dia lupa mengunci gerbangnya dan kebetulan dia juga pergi ke belakang.


"Oh tuhan..." Yani mengurut dahinya terlihat sangat lesu. "Perasaan ku jadi tambah tidak enak sekarang cepat kau bantu cari tuan, ayo lekas lah bergerak!" tegas Yani pada Eko juga Yeni sehingga keduanya ikut berpencar berlari dan terus mencari sampai ke arah sekitaran keluar dari arah gerbang.


Semuanya sungguh sibuk dan merasa panik sehingga mereka terus berteriak memanggil nama Panji bahkan tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menemukan keberadaan Panji.


Sudah satu jam berlangsung namun tidak membuahkan hasil apapun kini mereka terduduk di lantai dengan keadaan yang sudah sesak nafas dan keringat terus mengalir di tubuh mereka bahkan Yani juga Yeni masih terus mencari karena rumah Panji amatlah besar.


^^^To be continued ^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^


Di sinilah awal Panji keluar dari rumah karena ia merasa di campakkan dan tidak di perdulikan oleh anaknya sendiri.