
...โกโกโก...
Seorang lelaki berpenampilan seperti preman yang menghampiri nek Raya juga Zizi ketika mereka hendak mengarah kembali pulang membuat nek Raya menjadi sangat terkejut sekali karena di saat yang tidak tepat dirinya harus menghadapi anaknya sendiri untuk melindungi Zizi.
Jelas saja nek Raya menjadi sangat khawatir sekali apalagi sifat anaknya itu sangatlah brutal, ia bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Anaknya itu merupakan salah satu bos besar yang menculik para bocah kecil supaya bisa meminta uang tebusan makanya nek Raya sangat takut ketika sang anak datang di saat dirinya sedang bersama Zizi.
Dengan sikap tidak sopannya lelaki itu memanggil ibunya sendiri dengan sebutan nenek.
Selama ini hidup nek Raya sengsara karena ulah anaknya yang selalu mencuri hasil jualannya untuk membeli obat terlarang seperti ganja, minuman keras, dan sebagainya.
Namun semua perbuatan anaknya ia tutupi karena walau bagaimanapun itu tetap darah dagingnya sendiri akan tetapi perbuatan anaknya semakin merajalela saja ketika di biarkan bahkan membuat banyak masyarakat yang sudah mulai resah karena perbuatan anaknya itu, tetap saja sebagian masyarakat masih memandang kebaikan nek Raya apalagi nek Raya merupakan sosok wanita yang tegar sekali dalam mejalani kehidupannya tanpa seorangpun di sampingnya untuk menemani hari tuanya.
Nek Raya hanya berpesan supaya anak mereka ataupun sanak saudara mereka harus extra saling menjaga keselamatan sendiri supaya tidak terjadi hal buruk akibat perbuatan brutal anaknya.
Semenjak nek Raya sering memantau kebrutalan anaknya itu maka keamanan masyarakat di sekitar situ menjadi lebih terjamin, karena nek Raya sudah siap berkorban apapun yang terjadi ke depannya.
Lambat laun anak dari nek Raya mulai merasa jengkel sendiri karena urusannya di buat tersendat oleh ibunya sendiri, makanya dia turun tangan mencari target lain sampailah tepat di hari ini dia bertemu ibunya di tengah perjalanan.
Sebut saja nama pria itu Guntur.
"Halo nek, apa kabar mu? apa kau sehat hari ini? wah... Sepertinya kau memiliki cucu baru setelah anakku meninggal." Cakapnya pula dengan begitu santai sambil mengatupkan kedua tangan di dada bahkan terlihat senyum jahat tersirat di wajah Guntur.
"Apa urusan mu mencari ku sampai ke sini?" tanya sang ibu yang menautkan kedua alis matanya terasa pula gemetaran di tangannya yang keriput memegang tubuh Zizi saat berada di balik punggungnya.
Guntur melirik sinis karena nek Raya terlihat sangat melindungi Zizi dalam dekapan tangannya.
"Tidak ada, aku hanya berkeliling saja ternyata tidak sengaja bertemu dengan mu di sini nek!" cerocosnya sangat terdengar tidak sopan pada ibunya yang telah melahirkan dia ke dunia sungguh kasar sekali bahkan ia sama sekali tidak menganggap nek Raya ibu kandungnya malah dia merasa kalau nek Raya hanya serangga yang menganggu jalannya.
Perbuatan Guntur sangat tidak terpuji sekali terhadap orangtua kandungnya dia berbuat hal demikian seperti mata hati sudah di butakan oleh nafsunya sesaat.
"Nek orang itu siapa?" tanya Zizi yang mulai menghisap jempolnya karena merasa sangat takut ketika Guntur menatapnya tajam.
"Sudah, kau tetap berada di belakang nenek! jangan bergerak sedikitpun, apa kau mengerti?" perintah nek Raya dengan berbicara sedikit berbisik menoleh ke belakang.
Zizi hanya anggukkan kepala saja tanpa berbicara karena dia masih melihat Guntur dari celah baju nek Raya dengan debaran jantung yang tidak karuan.
"Apa kalian sudah selesai berbincang?" celetuk Guntur merasa jengah karena dirinya di abaikan.
"Pfttt, Hahaha."
Gelak tawa terjadi beberapa menit hingga terdengar begitu kerasnya sampai ia memegangi perutnya sendiri karena merasa ucapan nek Raya begitu lucu sekali.
"Apa yang kau katakan nek? coba ulangi, aku tidak mendengarnya! dan kau baru saja mengatakan apa? polisi? hahahah!" ia berbicara terkekeh seolah itu menjadi hal yang sangat lucu bagi dirinya. "Tumben sekali kau perhatian padaku? kau ingin mengancamku, atau kau sedang ingin melindungi anak ini?" sindir Guntur sambil menyentuh hidungnya sesekali karena dia yakin pasti ibunya sedang berusaha melindungi Zizi makanya berani berkata lantang padanya.
"Aku tidak berniat mengancam mu, aku hanya ingin menyadarkan dirimu yang sudah sangat begitu salah mengambil jalan pintas seperti ini, sadarlah nak! ibu akan menghidupi mu sesuai kemampuan ibu," turut sang ibu yang terdengar begitu lirih sekali suaranya berharap Guntur meraih tangan yang dia buka lebar bahkan dia sedikit melangkah mendekati Guntur yang ada di depannya saat itu.
"Agh, kau bukan ibuku! kau hanya benalu dalam kehidupanku, apa kau tahu? aku sangat membencimu karena aku punya ibu yang miskin seperti dirimu ini!" teriak Guntur merasa membabi buta memaki ibunya sendiri dengan sangat keji.
Begitu terenyuh hati nek Raya mendengarnya maka jatuhlah air mata seketika membasahi wajahnya.
Di saat itu Zizi menyadari kalau nek Raya menangis karena berusaha untuk melindungi dirinya dengan menerima perlakuan kejam seperti itu, entah dari mana asal keberanian Zizi sehingga dia maju melangkah ke depan melepaskan genggam tangan nek Raya.
"Om! jangan membuat nenek menangis, hadapi Zizi saja! jangan hanya berani pada orang yang lebih tua," pungkas Zizi berdiri dengan begitu lantang di depan guntur.
"Ini yang aku cari, yaaa! anak yang bijak dan cekatan seperti ini pasti di hargai dengan nilai tinggi," cakap Guntur pula sambil menatap jelas Zizi dari atas kepala hingga ujung kaki dan tanpa memperdulikan ucapan Zizi padanya.
Tentu saja dengan ucapan Guntur membuat Zizi merasa bingung apa artinya, karena dia juga masih anak-anak yang tidak mengerti percakapan dari orang dewasa makanya raut wajah Zizi sedikit berubah setelah lontaran yang terucap dari mulut Guntur.
Kemudian nek Raya dengan sigap meraih lengan tangan kanan Zizi supaya bisa melindungi Zizi kembali di balik punggungnya.
Akan tetapi itu tidak di biarkan oleh Guntur, ia pun meraih kasar lengan kiri Zizi secepat mungkin dan ingin segera membawanya ke markas tanpa harus berdebat dengan nek Raya lagi.
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
...Kutipan :...
Agama islam mengajarkan untuk selalu mematuhi ibumu karena surga ada di bawah telapak kakinya, jika kau menyakiti perasaannya maka kau sedang berperang dengan Tuhan, karena ridho sang ibu merupakan ridho dari Tuhan.
โค๏ธ Ibumu, ibumu, dan ibumu barulah ayahmu โค๏ธ hormati dia selagi masih bersama kita dan bahagiakan dia di sisa hidupnya karena kau tidak akan pernah bisa membalas jasa IBU MU ๐
Bagaimana cerita selanjutnya... ?