Aku, Khanza

Aku, Khanza
Tetesan Air Mata...


...♡♡♡...


"Tante!" sapa Devan serentak dengan Nathan ketika berada di belakang tubuh Panji sehingga mereka berdua melontarkan senyum senang di saat melihat Hayati telah sadar.


"Ka... Kalian?" kini Hayati tampak kebingungan melihat keduanya berada tepat di depan matanya sekarang sehingga ia mengerutkan dahi menatap ke arah mereka.


"Hufhhh, syukurlah keluarga pasien datang tepat waktu hampir saja pasien kabur dari ruangan ini sebab sedari bangun pasien mengamuk dan memaksa saya untuk membiarkannya pergi," ungkap si perawat pula sembari menghela nafas leganya. "Saya juga ingin menyuntik pasien supaya lebih tenang tapi sepertinya tidak perlu lagi karena keluarganya sudah ada di sini," lanjut si perawat melontarkan senyum tipis.


Devan juga Nathan bergerak ke arah Hayati lalu mereka berdua masing-masing memegangi tangan Hayati.


"Ayo tante kembali lagi berbaring karena kondisi tante masih lemah jangan dulu banyak bergerak," pinta Devan pula sementara Nathan hanya tersenyum simpul melirik Hayati dari samping sebab ia juga merasa lega kalau Hayati sudah sadar.


Di saat mendengar ucapan itu kemudian Hayati menuruti perkataan Devan serta ia menggerakkan tubuhnya perlahan untuk kembali naik ke kasur dan pada akhirnya Hayati pun telah berbaring ke semula.


"Sus, tolong selang infusnya di pasang lagi saja."


Panji pun membuka bicara sehingga Hayati merasa kaget sebab ia benar-benar tertegun mendengar suara tegas dari Panji.


"Baik tuan," turut si perawat angguk kepala dengan patuh lalu ia bergerak ke arah Hayati dan memasang kembali jarum infus yang sempat di cabut oleh Hayati sebelumnya.


Beberapa saat kemudian selang infus pun kembali terpasang. "Tuan tugas saya sudah selesai jika ada yang anda perlukan langsung saja hubungi kami, mari saya pamit dulu."


Si perawat itu bungkukkan badan serta ia sempat melirik Hayati yang sudah tak memberontak lagi dan terlihat lebih tenang.


"Baiklah, terimakasih sus."


Sahut Panji secara ramah pula kemudian sang perawat membalas dengan senyuman kecil lalu ia pun beranjak dari tempatnya sambil berjalan keluar pintu ruangan bahkan ia melihat sepasang bodyguard sudah berada di depan pintu ruangan Hayati berdiri dengan tegap.


Seusai perawat berlalu pergi kini Hayati sudah di temani oleh Nathan, Devan juga Panji mengitari dirinya.


"Apa tante tidak sedang bermimpi bertemu kalian di sini?" tanya Hayati sesaat ia meneteskan air mata sembari berusaha tersenyum.


"Ya tante ini memang benar kami dan tante memang tidak sedang bermimpi," turut Devan tepat berada di samping Hayati sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Hayati.


Hayati menoleh pada Nathan serta melontarkan senyum kecil ke arahnya lalu Nathan membalasnya dengan anggukan kepala karena ia membenarkan ucapan Devan barusan.


"Bukankah tante masih ada di rumah itu? lalu bagaimana kalian bisa mengeluarkan tante dari sana?" tanya Hayati lagi sambil melihat mereka secara bergantian.


Tepat Hayati berhenti melihat ke arah Devan menunggu jawaban dari salah satunya.


Yeap, entah mengapa Devan tak melanjutkan ucapannya seolah ia tak ingin memberi tahu pada Hayati sebab sudah pasti nama Nathan akan selalu di ingat oleh Hayati, itulah fikirnya akan tetapi ia tak ingat kalau kakek Nathan ada bersama mereka saat ini sehingga ia tertunduk ketika Panji menatapnya sembari tersenyum tipis ke arah Nathan.


Panji bergerak ke arah Nathan lalu ia memegang kedua pundak Nathan. "Karena cucu ku," tangkas Panji seketika melanjutkan ucapan Devan yang sempat terhenti sehingga Hayati melebarkan senyumnya menoleh pada Nathan serta perlahan menggerakkan tangannya ingin memegang tangan Nathan.


"Benar begitu Nathan?" tanya Hayati pula secara lembut sembari ia mengelus punggung tangan Nathan.


"Ayo jawab itu tante bertanya padamu," lanjut kakeknya lagi sambil terus tersenyum tipis lalu ia mengarah pada Devan yang tampak mengelus pundak lehernya bahkan masih saja tertunduk.


Nathan mengerti kenapa kakeknya membuka suara untuk melanjutkan ucapan Devan tadi lalu ia menoleh pada sang kakek menghela nafas kecil.


"Kenapa kau melihat kakek? ayo jawab itu," mengulang kembali setelah Nathan menatap ke arahnya.


"Kakek..." Nathan mulai merasa malu di buat oleh kakeknya sehingga kedua pipinya tampak sedikit memerah.


"Nathan, apa benar kau yang menolong tante?" tanya Hayati lagi dengan sangat hangat ketika tangannya menyentuh punggung tangan Nathan.


Seketika Nathan menoleh pada Hayati. "Benar tante, ini memang ide ku tapi kalau bukan tanpa Devan juga Amel mungkin aku tak bisa mengeluarkan tante sendirian dari sana," katanya pula demikian sehingga Devan langsung menegakkan kepalanya menatap ke arah Nathan sebab ia tak menduga kalau Nathan menyebut namanya serta terlintas di otaknya kalau dirinya lah yang berfikir picik terhadap Nathan.


Hayati perlahan menoleh ke arah Devan serta menyentuh punggung tangan Devan juga sehingga terlontarlah senyuman kecil di wajah Devan.


"Terima kasih pahlawan tante karena kalian tante bisa keluar dari rumah itu, terima kasih banyak... "


Kini ia menarik pelan kedua tangan mereka serta menempelkan di kedua pipinya sembari tersenyum sehingga menetes lah kembali air mata di pipinya itu.


"Tangan kalian sangat hangat karena semenjak Alsha juga Zizi tak ada di dekat tante sudah hampir setiap harinya tubuh tante terasa beku seolah tiada lagi kehangatan yang tante rasakan," lirihnya pula terdengar sendu serta tetesan air matanya masih saja berlinang di kedua pipi bahkan kedua matanya terpejam dan bibirnya gemetaran berkata demikian.


Kedua tangan itu sangat erat ia genggam seolah benar-benar hangat yang dia rasakan.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Prasangka buruk itu tidaklah baik sebab orang yang sudah lebih dulu berprasangka buruk terhadap orang lain niscaya hidupnya tak akan tenang ❤️