Aku, Khanza

Aku, Khanza
Harapan Ratih Pada Khanza?


...♡♡♡...


Toko baju muslim Our'Fashion.


Tap


Tap



Prok


Prookk


"Waw! ini benar kamu nak? Ini benar Khanza yang ibuk lihat sekarang? ya ampun nak kamu cantik sekali memakai baju seperti ini terlihat bintang model, perfect nak!" keriuhan dari mulut Ratih begitu terdengar jelas di telinga Khanza sehingga saat ini kedua pipi Khanza tampak merah muda sebab Ratih melihatnya dengan tampang yang kaget sambil melongo bahkan seorang wanita pemilik toko juga ikut merasa bahagia sembari melontarkan senyuman kecil di wajahnya.


"Anak ibuk sangat cantik saya hampir tak bisa membedakan dia sebelumnya," ucap pemilik toko tepat berada di sebelah Ratih yang masih menatap Khanza dengan senyuman bahagianya itu.


Seketika Ratih menoleh pada pemilik toko tersebut hingga senyumannya sejenak luntur begitu saja. "Salahnya dia bukan anak kandungku namun aku ingin sekali mengangkatnya sebagai anak ku sendiri sebab anak kandung ku sedang jauh dari ku saat ini," ungkapnya pula serta tampak raut wajah sedih sehingga pemilik toko sempat terheran dengan pengakuan Ratih padanya.


"Tapi saya melihat ibuk sangat menyayanginya terlihat seperti anak kandung sendiri ketika ibuk memperlakukannya dengan baik," balas pemilik toko pula sehingga Ratih tampak tersenyum simpul ketika mendengarnya lalu ia melihat kembali ke arah Khanza yang sedang menatap dirinya sendiri dari cermin berdiam diri entah apa yang ada di pikirannya saat itu.


"Mhh, ya aku memang sudah menyayangi anak itu dan entah kenapa hatiku damai jika melihat wajahnya apalagi rasa nyaman itu muncul setelah aku tahu dia benar-benar anak yang sangat baik, justru aku lah yang sebelumnya sudah berbuat hal buruk padanya maka sekarang ini aku ingin menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan padanya," ucapan yang terdengar lirih itu terus terlontar dari mulut Ratih namun matanya masih menatap lurus ke arah Khanza bahkan saat ini Khanza tersenyum manis ke arahnya.


Tak berapa lama Khanza berjalan ke arah Ratih juga pemilik toko yang masih berdiri bersebelahan dengan Ratih sembari tersenyum lebar ketika melihat Khanza seolah ia juga ingin mempunyai anak secantik dan semanis Khanza begitulah sejenak benak yang di rasakan oleh pemilik toko tersebut.


"Buk, baju ini sepertinya tidak cocok dengan Khanza," katanya pula dengan nada merendah sembari memegang bajunya yang sudah terjuntai itu.


"Siapa bilang tidak cocok? ayo sini ikut ibuk!" sesaat Ratih menarik tangan Khanza dan membawanya ke arah cermin lalu setelah sampai kini mereka berdua sudah berdiri bersama kemudian Ratih memegang dagu Khanza secara lembut. "Lihatlah dirimu, kau sangat cantik bahkan lebih cantik lagi sampai ibuk tak menduga bahwa kau Khanza yang ibuk kenal," lontaran Ratih terus saja riuh sehingga lagi-lagi pipi Khanza terlihat merona.


"Buk, jangan terlalu memuji Khanza..." imbuh Khanza yang terlihat jelas raut wajahnya malu dan hendak menatap ke arah cermin.


"Ini bukan hanya sekedar pujian nak sebab ibuk mengatakan yang sebenarnya bahwa kau memang anak yang cantik dan ibuk akan membelikan beberapa pasang untukmu kau pilih saja dulu, oke?" timpal Ratih lagi terdengar sedikit memaksa sehingga ia memasang wajah yang tak bercanda sembari menepuk pelan sesekali kedua pundak Khanza. "Ohya ibuk mau keluar sebentar kau di sini saja dulu jangan kemana pun," lanjutnya pula serta ia mencubit dagu Khanza perlahan lalu ia bergerak dari tempatnya.


"Ibuk mau pergi ke mana?" tanya Khanza ketika ia menoleh pada Ratih yang sedang berjalan ke arah pintu toko.


"Sebentar saja! tunggu ibuk di sini," teriaknya pula dengan singkat lalu ia berhenti tepat di sebelah pemilik toko yang masih berada di tengah perbincangan mereka. "Berikan baju yang bagus untuknya aku mau keluar sebentar dan aku titip dia tolong di jaga selagi aku tidak ada," ucapnya secara berbisik serta ia memberikan senyuman simpul di depan pemilik toko tadi.


"Baik buk, akan saya jaga amanah yang ibuk berikan," turutnya dengan membungkukkan badan.


Dalam beberapa menit berlalu Ratih kembali lagi ke toko sebelumnya dengan memegang sebuah tas tote bag bahkan ia juga sedang membawa sebuah bungkusan yang tak tahu isinya apa namun di saat ia kembali sempat dirinya menaikkan sebelah alis mata menatap ke arah Khanza yang duduk sendirian.


"Nak, kenapa baju tadi tidak di pakai saja?" tanya Ratih pula di saat ia juga sudah duduk di sebelah Khanza.


Seketika pemilik toko menghampiri mereka.


"Buk, anak ibuk tak ingin memakai pakaian yang tadi jadi dia hanya memilih yang biasa saja padahal saya sudah memaksanya untuk tak melepasnya namun ia tetap tak mau," cakap si pemilik toko sehingga Ratih tersenyum tipis melihat Khanza yang tertunduk.


"Ya sudah, apapun yang kau kenakan semuanya terlihat bagus, yuk kita harus segera kembali kasihan adik mu pasti sudah lama menunggu," ajaknya pula dengan suara yang hangat serta sentuhan dari tangan Ratih mengingatkan Khanza pada seseorang sejenak ia pun menoleh pada Ratih memberikan senyum cerianya itu.


Usai Ratih meyakinkan Khanza ia pun memegang lengan Khanza serta mereka berdua berjalan bersama menuju kasir sebelum pergi keluar dan si pemilik toko sedang tampak memasukkan semua baju ke dalam tas khusus dari tokonya kemudian memberikannya pada Ratih setelahnya.


"Berapa semua?" tanya Ratih dengan ramah.


"Semua totalnya 560.000 ribu dan ini bon semua baju yang sudah tertulis," jawab si kasir pula membalas dengan ramah.


"Bisa pakai debit?" tanya Ratih lagi.


"Bisa buk," turut si kasir anggukkan kepala,


Kemudian Ratih melepas sebentar lengan Khanza lalu ia membuka dompetnya serta memberikan sebuah kartu debit pada kasir itu dan si kasir pun menyambutnya secara sopan.


Harga bajunya mahal sekali apakah aku pantas memakai baju semahal itu? batin Khanza pula berkata demikian sehingga ia tertunduk lesu sekilas mengingat Hayati yang pernah membawanya juga untuk membeli baju bahkan perkataannya saat itu sama persis dengan yang ia ucapkan barusan.


Setelah Ratih selesai membayarkan semuanya kemudian ia meraih kembali lengan Khanza dan memegangnya secara erat. "Yuk sayang kita keluar," ajak Ratih pula seketika membuyarkan lamunan Khanza dan di saat Khanza sadar ia pun menoleh pada Ratih dengan anggukan kepala.


Kini mereka berdua sedang menuju pintu luar toko dengan bergandengan tangan serta senyuman ramah yang di berikan oleh pemilik toko di balas oleh Ratih dengan ramah pula.


^^^To be continued ^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Berbahagialah wahai orang-orang yang penuh dengan kesabaran sebab dari kesabaran yang kau lalui akan kau rasakan sendiri nikmatnya ❤️