Aku, Khanza

Aku, Khanza
Bidan Hayati


🍁🍁🍁


Taman klinik Pratama Caringin.


Setelah bidan bernama Hayati itu membawa Alsha keluar dari ruang persalinan kini mereka duduk di sebuah taman seakan membuat hati tenang saat melihat bunga yang bermekaran dan terlihat mengelilingi seperti lingkaran.


"Hai nak nama kamu siapa?" tanya Hayati sembari memegang sebelah pipi gadis kecil itu.


"Khanza Alesha, itu nama yang di berikan umi dan Abi mereka memanggil dengan sebutan Alsha semua orang juga ikut dengan panggilan yg sama," jawab Alsha terus menatap bunga yang ada di hadapannya.


"Nama yg sungguh cantik sekali apakah Alsha tahu kalau sekarang ibunya Alsha sudah bahagia di langit sana," tunjuk Hayati sambil melengketkan kepalanya dengan kepala Alsha.


Alsha mulai menatap Hayati saat berada di sampingnya.


"Kenapa umi tinggalin Alsha?" pekiknya menahan tangis yang sedari tadi sudah ia keluarkan.


"Umi tidak tinggalin Alsha kok, apa Alsha tahu adik Alsha itu titipan dari umi untuk Alsha?" ungkapnya dengan membelai rambut Alsha.


"Adik Alsha yang baru saja lahir?" tanya Alsha menyambut ucapan Hayati.


"Iya itu benar sebelum uminya Alsha pamit pergi ia memberi pesan pada ibu bidan kalau Alsha jangan terus bersedih karena umi di sana sudah bahagia," ucapnya terus membelai rambut Alsha dengan rasa perhatian yang dia miliki.


"Kenapa umi tidak panggil Alsha sebelum pergi?" tanya Alsha lagi menatap lirih mata Hayati.


"Karena umi Alsha tidak mau kalau sampai melihat Alsha menangis jadi sekarang Alsha harus bahagia bersama Abi juga adiknya Alsha," perjelas Hayati lagi supaya Alsha memahami maksud ucapannya.


"Oh ya, apa Alsha tahu ada kisah nabi yang di tinggal oleh ibunya sewaktu masih bayi pada akhirnya nabi itu di rawat oleh ibu susunya saat masih sangat kecil," sambungnya pula dengan menceritakan sedikit kisah nabi terakhir umat Islam.


"Guru Alsha pernah bercerita tentang kisah itu sungguh sangat sedih sekali mendengarnya," turut Alsha mengingat saat dirinya di sekolah.


"Nah sekarang umur Alsha berapa?" tanya Hayati melontarkan senyum kecil.


"Berarti setelah Alsha lahir uminya Alsha merawat Alsha hingga 10 tahun lamanya bukankah Alsha seharusnya lebih bahagia sedari bayi sudah di rawat ibu kandung sendiri?" tanya Hayati seketika membuat Alsha mengerti dengan pertanyaan itu.


Alsha mengangguk karna sudah bisa menyerap arti dari perkataan Hayati yang membuatnya sedikit mengurangi rasa kesedihan.


"Adik Alsha merupakan pengganti dari uminya Alsha jadi sayangilah adiknya Alsha seperti umi menyayangi Alsha dari kecil," pesan Hayati pula sambil ia mengelus pelan rambut Alsha.


Sekilas Hayati melihat lutut Alsha yang sudah kian di obati bahkan mengering sendirinya.


"Lutut Alsha kenapa?" tanya Hayati sambil memegangi perlahan luka itu.


"Alsha jatuh saat memanggil Abi di rumah pak kades," jawab Alsha terdengar sedikit tenang.


"Apa ibu bidan boleh mengobati kembali?" tanya Hayati dengan rendah hatinya.


Alsha manggut begitu senangnya ada seseorang yang sudah mau memberikan perhatian untuknya sama halnya dengan Hayati turut senang bisa sedikit menenangkan kesedihan Alsha walau tidak banyak yang bisa ia perbuat lebih dari itu.


"Maaf mengganggu waktunya buk semuanya sudah kami siapkan untuk pemakaman atas nama ibu Laila," tegur salah satu perawat menghampiri mereka dari belakang.


Hayati memberi isyarat tangannya karena sudah mengerti begitu juga untuk perawat itu yang memahami maksud dari Hayati tanpa berkata apapun.


Sang perawat menundukkan kepala pelan langsung pergi dari tempatnya.


Sementara itu Alsha dan Hayati bangkit dari duduknya tampak juga Hayati menggenggam tangan Alsha dengan membawa ke ruangannya.


Ayah dari Alsha sedikit membantu untuk mengurus pemakaman istrinya dia dengan sengaja tidak mau bertemu Alsha walau hanya sementara karena ia tak ingin menunjukkan kesedihannya lagi di depan sang anak.


^^^To be continued..^^^


^^^🍂 aiiwa 🍂^^^