Aku, Khanza

Aku, Khanza
Hidup Yang Keras


...β™‘β™‘β™‘...


Pinggiran lalu lintas.


Tidak terasa langit hampir menutup cahaya terangnya namun Khanza dan Zizi belum juga mendapatkan tempat untuk berteduh, apalagi cuaca sudah mulai terasa dingin sampai menusuk hingga ke dalam kulit mereka sedangkan baju hangat saja mereka tidak punya.


Sungguh malang nasib mereka yang tak tahu arah tujuan hingga pontang panting di jalanan yang begitu sangat dingin terasa ke seluruh tubuh.


"Apa kau kedinginan Zi?" tanya Khanza yang sudah merasakan udara dingin masuk ke tubuhnya.


"Ah tidak kak, kenapa? apa kakak merasa dingin?" jawab Zizi pula terdengar gemetar di area bibirnya.


Tentu saja Khanza sudah mengerti kenapa adiknya berbohong pada dirinya padahal begitu jelas terlihat kalau sedari jalan Zizi melipat kedua tangan di dadanya dan mungkin itu untuk menahan rasa dingin yang amat di rasakannya.


Tetapi Khanza hanya melirik Zizi dari samping yang terus berusaha kuat di depannya dengan melontarkan senyum manis walau jelas terlihat getaran bibir yang dia ingin tutupi.


Karena cuaca semakin lama semakin dingin akhirnya Khanza celingukan melihat situasi daerah yang mereka lewati saat ini.


BLEEDAARRR


DDUUAAARRRR


Seketika petir menyambar tiang listrik dan hampir saja mengenai mereka, karena di saat itu mereka sedang berada dekat dengan pohon makanya tiang listrik tadi hanya menghantam pohon besar yang menjadi penghalang untuk mereka.


Alangkah terkejutnya Khanza saat peristiwa itu terjadi dengan begitu dia mengucap puji syukur karena tuhan masih melindungi dirinya juga adiknya.


Jika tidak ada pohon itu mungkin entah apa yang terjadi pada mereka.


Ketika kejadian itu spontan mereka menjerit sekeras mungkin sambil saling memberi perlindungan satu sama lain terlihat Khanza menutup kedua mata adiknya dan Zizi mendekap erat tubuh kakaknya hingga keduanya memejam mata seakan pasrah apapun yang terjadi namun Tuhan berkehendak lain pada mereka yang masih di beri keselamatan dari bahaya tersebut.


Berulang kali Khanza menghembus nafas leganya saat menyadari kalau mereka masih bernyawa namun dia masih mendekap tubuh Zizi yang semakin terasa gemetaran saja.


"Sudah tidak apa-apa Zi, kau jangan takut lagi karena ada kakak di sini," ucap sang kakak dengan berusaha membuat rasa takut adiknya menghilang dengan sentuhan hangatnya walau dingin yang dia rasakan.


Zizi hanya anggukkan kepala mengerti dari perhatian yang di berikan kakaknya itu makanya Zizi tak ingin mengeluh karena sudah pasti sang kakak berusaha kuat demi dirinya, itulah fikir Zizi.


"Sekarang kita harus cari tempat untuk berteduh malam ini karena angin semakin kencang, kelihatannya hujan deras akan turun," lanjut kakaknya yang masih terus mendekap tubuh Zizi dengan kedua tangannya sambil terus berjalan dengan celingukan.


Mereka berjalan dan terus berjalan walau angin kencang selalu menyapa mereka, apalagi perut belum juga terisi nasi sudah pasti tidak akan kuat kalau harus menahannya lebih lama lagi.


Setelah kesabaran mereka berdua pada akhirnya Khanza menemukan sebuah tempat untuk berteduh.


Grosir baju dewasa dan anak-anak.


Terpampang begitu jelas ada sebuah tempat luas yang sudah tampak tertutup terlihat dari jauh dari tempat Khanza berdiri.


"Zi sepertinya itu ada tempat berteduh untuk kita, yuk kita kesana supaya bisa beristirahat terlebih dulu," riuh sang kakak hingga menunjuk dengan rasa senangnya karena dapat tempat untuk malam ini begitulah yang di rasakannya sejenak.


Mereka berlari secepat mungkin karena hujan sudah mulai turun walau masih rintik saja.


Sesampainya mereka di tempat yang di tuju.


ZRAAASSHHH


Begitu derasnya hujan mengguyur kota Babakan Ciparay malam itu.


Krasak Krusuk


Khanza tampak obrak abrik baju yang dia bawa dari gubuk nek Raya dengan cepat ia meraih baju kaus lengan panjang dan memakaikan ke tubuh adiknya pula supaya rasa dingin sedikit mengurangi di tubuh Zizi.


Kruyuk


Sontak perut Zizi berbunyi berulang kali hingga ia tampak tertunduk malu tak berani melihat kakaknya.


Khanza hanya tersenyum simpul saja dan membelai kepala adiknya itu.


"Zi, kau tunggu di sini saja ya? jangan kemanapun, kakak ingin ke warung itu sebentar! ingat Zi pesan kakak jangan pergi walau ada orang yang mengajakmu, apa kau mengerti?" kata kakaknya dengan sedikit tegas supaya Zizi mengerti maksud ucapannya.


"Baik kak, tapi jangan lama-lama karena Zizi takut sendiri di sini," turutnya namun sedikit mengerutkan wajahnya yang tampak lucu sekali serasa tangan ingin mencubit kedua pipi itu.


Khanza anggukkan kepala dan mulai melangkah pergi hingga tak lupa pula ia meraih sepotong baju untuk menutupi kepalanya itu, setelah tertutup barulah dia berlari mengarah ke tempat warung nasi.


Sampailah dia di depan warung setelah melalui hujan deras saat berlari tadi apalagi ia juga tampak basah kuyup walau hanya sebagian saja namun itu tidak penting bagi dirinya karena yang dia pikirkan bagaimana supaya adiknya bisa makan.


Tap Tap


Khanza masuk ke warung tersebut sembari memegang baju basah yang sempat menutupi tubuhnya itu.


"Permisi pak," tegur Khanza dengan sangat ramah.


"Iya nak, ada apa? kamu ingin beli nasi?" sahut dari pemilik warung saat ia hendak membungkus nasi untuk pelanggannya.


"Apa di sini membutuhkan tenaga kerja?" tanya Khanza pula berusaha walau sedikit ada rasa takut saat dirinya bertanya demikian.


"Iya nak benar karena saat ini bapak memang membutuhkan orang untuk malam ini sampai besok saja," turutnya pula sambil melangkah mendekati Khanza setelah ia selesai membungkus nasi.


"Kebetulan sekali pak, saya bersedia membantu bapak dan apapun akan saya kerjakan," riuh Khanza tampak semangat sekali sehingga ia mengatupkan semua jemari tangannya tampak memohon kepada pemilik warung supaya mau menerima dirinya.


Pemilik warung tadi berjalan bergerak dari tempatnya dan mengarah mendekati Khanza seketika.


"Apa kau sendirian nak?" tanya pemilik warung saat melihat kondisi Khanza yang sudah basah kuyup.


Di balik pandangan pemilik warung itu sudah sangat terheran pada kesungguhan Khanza yang bermohon kepadanya seperti itu, karena tidak ada orang yang rela basah kuyup hanya bertanya pekerjaan kalau bukan demi orang yang dia kasihi.


"Saya bersama adik pak, dan sekarang adik saya sedang menunggu di sana," ungkap Khanza pula sembari menunjuk ke arah grosir baju tempatnya berteduh yang berhadapan dengan warung nasi.


"Bawa adik mu ke sini," kata pemilik warung itu seketika melontarkan senyum hangatnya karena dia merasa bangga melihat kesungguhan Khanza sebelumnya.


πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ˜₯πŸ˜₯


^^^To be continued ^^^


^^^πŸ‚ aiiWa πŸ‚^^^


...Kutipan :...


Apa kau masih tidak meyakini dengan keberadaan Tuhan saat ini yang bahkan begitu sangat dekat sekali pada dirimu tanpa kau sadari ❀️