Aku, Khanza

Aku, Khanza
Permohonan Taro?


...♡♡♡...


Malam ini begitu menerawang


Bagaikan gelap tak kunjung terang


Manakala hati sedang gundah gulana


Menuntun suatu isyarat untuk memenuhi


Yang di lalui untuk mengetahui


Mulailah untuk menjadi akhir


Akhirilah untuk memulai yang baru


Dengan tujuan yang pasti


Akan sebuah gapaian yang indah


Naluri yang kita inginkan


Untuk sebuah ilusi


Yang terjadi kelak dalam kelam


Malam berganti pagi


Mulai dengan lembaran baru


Untuk tujuan yang pasti


Namun terjadi hal-hal yang telah menghalang


Dengan tujuan pasti


Halangan tak terhiraukan


Dengan jauh melangkah kutrobosnya


Untuk menuntaskan dunia depan yang jauh.


...****...


Hari sudah berganti malam sehingga rombongan dari Khanza, Zizi juga Taro sedang mengarah pulang untuk menyetor uang hasil penjualan koran pada bang Dani sekaligus tempat mereka tinggal sebab Dani memberikan sebuah gubuk walau tampak lusuh namun masih terlihat kokoh apalagi di dalam gubuk tersebut ada para gelandangan seperti anak-anak tanpa orangtua, seorang wanita memiliki balita, tapi lebih banyak lagi anak-anak seusia Taro serta tiga orang lelaki yang di siram air oleh buk Meli juga ada di gubuk tersebut akan tetapi Khanza tak perduli jika ada mereka karena ia sudah di berikan pesan oleh buk Meli untuk menjadi seorang gadis yang kuat seperti baja tidak boleh takut jika tak melakukan kesalahan serta jangan gampang menangis walau sesakit apapun yang di rasakan karena begitulah jika hidup di jalanan sangat sulit dan keras.


Saat ini Khanza sedang berbaris menunggu giliran karena bergantian untuk menyetor uang pada Dani bahkan untuk pertama kalinya Khanza menghasilkan uang dari hasil keringatnya sendiri walau uang itu dia gabung dari hasil penjualan Zizi serta Taro dan dalam beberapa menit berlalu kini Khanza sudah berada tepat di hadapan Dani sembari menyerahkan uang tersebut padanya.


"Berapa yang sudah terjual?" tanya Dani pula sambil fokus menghitung uang yang di berikan oleh Khanza setelah ia menyambutnya.


"Saya hari ini menjual lima belas koran itu juga saya sudah gabungkan dari uang penjualan adik-adik saya yang di sebelah sana," kata Khanza dengan menunjuk ke arah Zizi dan Taro yang sedang berdiri menunggunya.


"Oh, si Taro anak bisu itu adik mu? bukannya dia hanya sebatang kara?" tanya Dani dengan nada angkuhnya serta terheran namun ia masih menghitung uang recehan yang ada di tangannya.


Sementara itu Khanza hanya anggukan kepala saja dalam arti membenarkan ucapan dari Dani.


"Saya memiliki satu adik kandung saja namun saya sudah menganggap Taro seperti adik kandung saya sendiri sebab dia merupakan anak yang baik," balas Khanza dengan senyuman kecil menoleh pada mereka berdua.


"Ya ya! itu urusan mu, aku tak paham dengan si anak bisu yang penting dia setiap hari menyetor uang padaku hal lainnya aku tak perduli," ucapnya kembali masih bernada angkuh.


Bukan urusan dan tak perduli tapi dari tadi bertanya terus, dasar manusia tak ada yang bisa di pegang ucapannya! batin Khanza berkata demikian sehingga ia merasa sedikit jengkel namun ia masih melontarkan senyum tipisnya ke arah Dani.


"Nah! ini uang kalian," tampak Dani sedang memberikan uang selembar dua puluh ribu pada Khanza akan tetapi uang itu belum di sambut oleh Khanza membuat Dani menaikkan sebelah alis matanya sebab ia terheran kenapa Khanza hanya menatap uang tersebut tanpa menerimanya.


"Ada apa? Apa kau tak mau uang?" tanya Dani kembali.


"Apa bang Dani ingin membodohi saya?" balik bertanya pula dengan beraninya Khanza berkata demikian.


"Apa maksud mu?" kata Dani yang terlihat tak mengerti sehingga ia tampak bertolak pinggang.


"Bukankah dari awal saya bertanya berapa hasil satu koran kami dapatkan? bang Dani bilang dalam satu koran kami mendapat dua ribu lima ratus, lalu kenapa bang Dani cuma berikan dua puluh ribu?" tanya Khanza secara santai walau harus menghitung di luar kepalanya.


Apa anak gembel ini tahu cara berhitung? batin Dani pula sembari ia terus melototkan matanya ke arah Khanza akan tetapi Khanza malah menatap balik tanpa rasa takut.


"Seharusnya bang Dani memberi saya uang tiga puluh tujuh ribu dan kenapa uang saya di potong tujuh belas ribu? apa saya memiliki hutang pada bang Dani?" lanjut Khanza lagi sehingga Dani mulai kesal serta jengah mendengar hitungan dari Khanza.


"Hei bocah!" ia pun menyentil keras jidat Khanza seketika.


"Ssshhh," desis rasa perih terasa oleh Khanza.


"Maaf bang Dani apakah ada yang salah dengan perkataan saya barusan?" masih bertanya lagi serta ia mengelus sesekali jidatnya.


"Kau tak usah banyak komentar jika aku berikan uang mu ini ya kau terima saja sudah untung kau ku beri tempat tinggal!apa lampu itu yang bayar nenek moyang mu?" sarkas Dani pula mengetok kepala Khanza dengan tenaganya.


"Bisakah jangan main dengan kepala? karena kepala saya sudah di fitrah orangtua saya," tangkas Khanza yang tidak ada takut sama sekali dengan tatapan yang di lontarkan oleh Dani.


"Hah! belagu banget ini bocah, woi sadar! kau itu hanya gelandangan tak lebih dari se-ekor tikus got! paham kau?" teriak Dani yang mulai mengeluarkan suara keras sehingga terdengar sampai di tempat Zizi juga Taro makanya mereka berdua langsung berlari ke arah Khanza.


Semua mata tertuju pada Khanza sebab belum ada seorang pun yang berani membantah ucapan Dani makanya mereka semua mendengar keberanian Khanza sampai tertegun.


"Saya tidak belagu karena saya di sini sedang berbicara fakta dan ingin meminta hak saya bukan untuk mengemis," kata Khanza lagi semakin berani saja bahkan tak ada keraguan baginya berkata demikian.


"Dasar bocah sialan?!" berang Dani dengan tampang murkanya pada Khanza sehingga ia menolak kasar Khanza hingga terpental.


"Kakak..."


Zizi pun berteriak sembari berlari ke arah Khanza sudah terjatuh akibat di tolak oleh Dani bahkan ketiga anak lelaki yang sebelumnya menegur kasar Khanza juga menjadi tertawa karena merasa puas melihatnya.


Saat ini Taro sedang mengatupkan ke dua tangannya dengan tampang seperti memohon supaya Dani tak lagi marah pada Khanza makanya dia melakukan hal demikian akan tetapi Khanza memegang baju Taro supaya tak membelanya karena memang Khanza tak salah apapun namun Taro bergeleng kepala sehingga ia terus memohon di depan Dani.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Sekeras apapun kehidupan jika di barengi iman dan taqwa sudah pasti tuhan mudahkan segala urusannya ❤️