
~ Memory 3 Tahun sudah selesai ~
🍁🍁🍁
♡ Kembali lagi ke topik cerita saat Alsha berada di rumah mewah milik Nathan si balok es.
Alsha mondar mandir menggigiti kukunya karena belum berani keluar saat terjadinya peristiwa di dalam ruangan sauna itu, baju yang ia kenakan juga begitu cantik dengan di padukan pashmina yang menutupi kepalanya, namun siapa sangka Nathan bisa mengetahui ukuran baju Alsha padahal bicara saja bisa terhitung berapa kali.
"Duh! bagaimana ini, apa aku keluar saja? ah tidak, tidak! aku harus pulang segera sudah pasti bunda sangat khawatir sekali padaku saat ini," gumam Alsha masih bingung dengan dirinya sendiri karena dirinya ragu untuk keluar.
Selain itu kalau dia menolak untuk makan bersama dengan kakek Panji sudah pasti akan mengecewakannya, karena kakek Panji lah yang pertama kali mengajak Alsha untuk makan bersamanya.
Tok Tok
Suara ketukan pintu kamar terdengar dari luar membuat Alsha menganga seketika.
"Haduh pasti itu Nathan, atau jangan-jangan kakek pula yang datang memanggil ku!" gerutu Alsha masih terlihat mondar mandir saja tanpa menyahut, dirinya begitu panik bukan kepalang sehingga satu tangannya menempel di dahi satu tangan lagi masuk ke mulut memakai jemari kukunya yang ia gigiti.
"Maaf nona, apakah anda sudah siap? tuan muda dan tuan besar sedang menunggu di ruang makan," ucap seorang pelayan wanita berbicara dari luar menghilangkan panik di dalam diri Alsha.
Alsha menarik nafas panjang untuk menjawab panggilan itu. "Iya tunggu sebentar, saya akan keluar 2 menit lagi." Alsha yang melirik ke arah pintu berharap sang pelayan tidak membuka pintu kamar dalam situasi di mana dirinya terlihat tegang seperti itu.
"Baiklah akan saya sampaikan," turut pelayan itu pula.
Saat pelayan itu pergi dari depan kamar, Alsha malah terduduk di sofa empuk yang kian tersedia sambil menggerakkan kedua kakinya berbarengan menggigiti bibir bawahnya, ia begitu di ambang bingung harus berbuat apa.
Sejenak beberapa saat Alsha memberanikan dirinya dan keberanian itu entah dari mana asalnya.
"Apa aku keluar saja? yah aku harus keluar, tidak mungkin aku bersembunyi seperti tikus di sini," gumamnya menganggukkan kepala sendiri menguatkan tekad.
Setelah Alsha berfikir matang akhirnya ia bangkit dari sofa dan bergerak memegang gagang pintu kamarnya sambil memejam mata sekali.
Klekk
Alsha membuka matanya kembali setelah itu ia pun mengintip dari selah pintu kamar dengan sebelah matanya.
Dia melebarkan matanya melihat luasnya rumah Nathan si balok es tak terbilang lagi mewahnya, seketika membuat mulutnya menganga sejenak bahkan ia berfikir Nathan itu memiliki rumah seperti istana, layaknya pangeran yang di kelilingi oleh 5 orang pelayan cantik masing-masing sudah memiliki tugasnya sendiri.
Alsha keluar perlahan melangkahkan kakinya sambil mengintip dengan separuh kepalanya, karena ia melihat suasana yang terbilang sunyi dia pun keluar sambil celingukan.
Tampaklah sebuah ruangan dengan sofa yang tertata rapi dan terasa begitu hangat saat kita melihatnya, mungkin itu bagian dari tempat istirahat keluarga si balok es. Begitulah pikir Alsha yang melihat dari kejauhan.
Alsha melanjutkan langkahnya lagi dengan mengarah jauh dari ruangan tadi kedua kakinya terus berjalan asalan saja tanpa berfikir dulu arahnya, yang penting dia berjalan sesuai naluri hatinya karena ia tak punya pilihan lain lagi, tidak mungkin dia berteriak karena tidak tahu jalan keluar dari daerah tempat ia berjalan.
Yeap itu di namakan eskalator yang kebanyakan adanya di mall ataupun pusat perbelanjaan, hal demikian membuat Alsha sampai terheran sekali karena dalam benaknya ia berpikir ini rumah atau tempat penjualan barang antik? Alsha bergeleng kepala tidak tahu ingin mengatakan apalagi yang bisa ia lakukan hanya terkagum saja.
Bahkan rumah Hayati saja tidak semewah itu.
"Rumah semewah ini ada berapa orang yang mengerjakannya? ckck orang kaya tidak bisa di tebak," gumam Alsha sambil mengintip dari balik eskalator itu barangkali ada pelayan yang lewat di bawahnya.
Alsha memegang badan eskalator yang bisa membuatnya turun ke bawah, namun na'asnya Alsha malah salah memilih di antara eskalator tersebut.
Mungkin Alsha tidak tahu mana yang naik dan bagian mana untuk turun.
Astaga Alsha akhirnya hanya balik lagi dan lagi ke atas tampak begitu bingung, bukannya turun malah kembali lagi ke atas.
Hahahah🤣🤣 Pantasan Alsha di bilang kutu buku oleh Amelia, karena Alsha tidak pernah mau di ajak kemanapun oleh Hayati, dirinya hanya sibuk belajar dan sering sekali membawa tugas sekolahnya ke rumah.
.
.
Kita lanjut lagi kelucuan dari kepolosan Alsha saat berada di eskalator.
Alsha sungguh merasa gelisah dengan kedua eskalator yang bergerak hampir sama saja awalnya ia menjadi begitu frustasi karena memilih eskalator yang masih membuatnya naik kembali, sehingga terlihat wajahnya sangat panik.
"Pfft," kikihan dari seorang pelayan rumah sedari bawah melihat tingkah Alsha.
Mereka benar-benar menahan tawa saat pertama kali melihat ada orang yang bingung dengan ekspresi gelisah tidak sampai ke bawah hanya karena eskalator.
Alsha semakin malu karena dirinya begitu terlihat konyol mungkin di mata para pelayan itu akan tetapi ia tetap melontarkan senyum manis yang begitu sangat membuat orang lain merasa ingin tertawa lepas, selain ekspresi ingin teriak dan menangis dia juga bisa menyatukan keduanya dengan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Meskipun dalam keadaan itu Alsha tetap melambai tangan dari atas memberi isyarat seolah dirinya membutuhkan pertolongan, akhirnya kedua pelayan yang berada di bawah tadi bergerak cepat untuk menghampiri Alsha yang sudah kebingungan.
Hahahahh Author ingin tertawa tapi juga merasa kasihan padanya, Maapkan author yak 🤣
..........
Bagaimana kisah selanjutnya ❤️ ikuti terus cerita yang tentunya akan lebih seru lagi hanya di 'Aku, Khanza' jangan sampai terlewatkan ❤️
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^