
...♡♡♡...
Sejak kepergian Panji di saat itu rumah terasa sepi bagi Nathan karena selama ini dia hanya di temani oleh kakeknya saja maka itu dia sangat syok mendengar kabar kakeknya ketika ia pulang ke rumah dapat pengakuan dari Yani sehingga ia langsung melaporkan pada pihak berwajib masalah kakeknya akan tetapi susah untuk di dapat karena kakeknya memiliki luka bakar di bagian wajah sebab dia memberi foto sang kakek sebelum kejadian terjadi.
Begitupula dengan kedua orang tuanya yang ia hubungi memberi kabar tersebut namun mereka tak dapat pulang lebih cepat karena masih harus menyelesaikan urusan mereka di inggris bahkan mereka juga tidak tahu kapan bisa pulang itulah penyampaian dari orang tua Nathan dan mereka juga ikut sibuk di saat mendengar kabar itu makanya mereka juga coba hubungi kantor polisi sekaligus memberi data orang hilang secara lengkap akan tetapi Nathan tidak bisa tinggal diam cuma hanya menunggu tindakan dari kepolisian maka dari itu hampir setiap harinya ia mencari sang kakek bersama kedua bodyguardnya itu bahkan ia sering bolos sekolah karena masalah yang ia alami saat ini.
Tepat 3 minggu sudah berjalan serasa begitu singkat namun sampai sekarang Panji juga belum di temukan hingga pihak polisi angkat tangan karena mereka tak dapat menemukannya sehingga dari pengakuan itu membuat kedua orang tua Nathan menjadi tambah cemas saat berada di inggris mereka tak dapat melakukan banyak hal oleh karena itu hanya Nathan yang tak pernah lelah mencari kakeknya itu bahkan Yeni dan Yani juga ikut mencari beberapa kali sebab mereka juga merasakan kehilangan serta rasa bersalah akibat meninggalkan Panji seorang diri.
.
.
.
Bunyi alarm yang cukup keras membangunkan Nathan seketika lalu ia tampak terduduk di atas kasurnya serta menarik nafas dalam membuangnya kasar kemudian ia menoleh pada jam bekernya karena hari ini dia akan mencari kakeknya lagi sehingga selama satu bulan itu dia hanya sekolah beberapa kali saja dan selalu ia memberi banyak alasan pada wali kelasnya.
Nathan se-saat teringat ketika terakhir ia berbicara pada kakeknya karena ia sudah sedari awal merasakan hal aneh dari sang kakek dan sekarang semuanya terjawab rasa keanehannya kemarin, akan tetapi ia sangat yakin pasti ada suatu alasan yang membuat kakeknya pergi dari rumah.
Tak berapa lama Nathan beranjak dari kasurnya dan melenggang ke arah kamar mandi untuk bersiap diri karena baginya menjadi seorang anak lelaki haruslah tahan banting tak kenal lelah walaupun posisinya sekarang ia sebagai cucu namun tekad dalam dirinya di turunkan oleh kakeknya itu sebab sangat memotivasi hidupnya hingga saat ini.
.
.
.
Tampak Nathan sudah keluar dari kamarnya dan saat ini dia mengenakan kaus polo shirt serta menutupinya memakai jaket denim sebagai outer, celana cino warna mocha lalu ia menutupi kedua kakinya dengan sneaker canvas.
Yeap begitulah penampilan Nathan karena ia memang lebih suka ke casual sebab kelihatan simpel saja dan tidak ribet menurutnya.
Nathan terlihat sedang melenggang ke arah pintu luar rumah padahal sarapan sudah di sajikan lebih dulu oleh Yeni dan Yani namun ia langsung ingin pergi tanpa mengisi perutnya.
"Tuan tunggu sebentar," tegur Yeni ketika Nathan sudah ingin keluar dari pintu.
Nathan pun menoleh ke arah belakang. "Ya, ada apa?" tanya Nathan singkat bahkan tampilannya selalu membuat Yeni jadi terpesona sehingga sahutan dari Nathan tak ia jawab. "Helo!" petikan jemari Nathan membuyarkan pesona Yeni seketika.
"Ah iya tuan muda maaf, tuan sarapan lebih dulu karena sudah di siapkan oleh koki dapur," imbuh Yeni yang terlihat merona di pipinya bahkan dia tak sanggup melihat penampilan Nathan itu makanya ia berbicara dengan tertunduk.
"Tidak, aku ingin langsung pergi saja karena aku tak ingin membuang waktuku lagi sudah hampir sebulan aku tak dapat menemukan kakek," ucapnya yang terdengar lirih serasa raut wajahnya tampak menahan rasa sedih.
"Sudahlah, aku takkan mati jika tak makan kau tak perlu cemas," sanggahnya pula lalu ia pun membuka pintu rumah serta meninggalkan Yeni dengan menutup pintu kembali dengan rapat.
Yeni yang masih berdiri di tempatnya menjadi terdiam tak dapat berbicara lagi karena dirinya teramat takut serta campur aduk dengan rasa malunya jika ia secara langsung berbincang dengan Nathan.
Sadarlah Yeni kau dengannya bagai langit dan bumi... Ayo sadarlah apa yang kau fikirkan sekarang ini tak akan mungkin jadi nyata! ia membatin dengan menggerutu hingga mengoceh di hatinya serta menepuk sesekali kedua pipinya sambil berjalan.
Sementara itu kedua bodyguard Nathan sudah menunggunya di depan mobil dengan berdiri tegap lalu mereka melontarkan senyum lebar ketika melihat Nathan sudah berjalan ke arah mereka.
"Apa kalian sudah lama menunggu ku?" tanya Nathan ketika ia telah berada di depan mereka.
"Baru beberapa menit yang lalu tuan muda," jawab serentak keduanya.
"Baiklah kita pergi sekarang."
"Siap tuan muda," patuh mereka secara sigap bergerak tampak Hardi membuka pintu belakang untuk Nathan sedangkan Ded sudah masuk ke dalam mobil karena ia yang akan mengemudikan mobilnya kemudian Hardi berlari kecil ke arah bangku depan sebab ia duduk bersebelahan dengan Ded.
Setelah ketiganya sudah masuk mobil namun Ded belum melajukannya sebab belum mendapat perintah dari Nathan lalu Ded menoleh pada Hardi dari samping dengan memberi isyarat menyuruhnya bertanya pada Nathan bahkan mereka terlihat saling memberi isyarat sehingga Nathan menyadarinya.
"Kenapa Ded? kok tidak jalan?" tanya Nathan seketika membuat keduanya terdiam dan pada akhirnya Hardi lah yang menoleh ke belakang sambil tersenyum menatap Nathan.
"Begini tuan muda, kita harus ke arah mana?" tampak Hardi bertanya dengan berusaha memberanikan diri.
"Oh keluar saja dulu dari sini nanti aku tunjukkan arah jalannya," jawab Nathan pula setelah itu ia merebahkan tubuhnya dengan bersandar lalu wajahnya melihat ke arah luar kaca mobil.
"Baik tuan," turut Hardi anggukkan kepala setelah itu Ded pun melajukan mobilnya ke arah gerbang sambil membunyikan klakson beberapa kali dan tak berapa lama Eko berlari ke arah gerbang dengan membukanya lebar.
Mobil sudah keluar dari pekarangan rumah lalu Eko menutupnya kembali hingga menguncinya secara rapat.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Peran anak lelaki itu memang sangat penting untuk keluarganya bahkan wajib kebaktian seorang anak lelaki tak bisa putus oleh orang tuanya berbeda dengan anak perempuan jika ia sudah menikah terlepas lah semuanya sebab kebaktiannya harus pada sang suami bukan berarti tidak boleh berbakti pada orangtuanya lagi, jadi surga anak lelaki masih pada orangtuanya walaupun dia sudah menikah ❤️