Aku, Khanza

Aku, Khanza
Ketemunya Panji Secara Insting?


...โ™กโ™กโ™ก...


Ded dan Hardi mulai bingung karena Nathan masih belum berbicara sejak mobil mereka keluar dari pekarangan rumah lalu Ded menyuruh Hardi kembali untuk bertanya karena Ded memberi isyarat bahwa dirinya sedang fokus menyetir akhirnya Hardi mengalah dan ia bergerak dengan menoleh ke belakang.


"Tuan," tegur perlahan dari Hardi.


"Ya kita lurus saja dulu kalau sudah terlihat persimpangan belok ke kanan," jawab Nathan namun ia masih melihat ke arah luar kaca mobil sebab ia memang sangat memikirkan keadaan kakeknya saat ini.


Hardi sempat terdiam setelah mendengar arahan yang di katakan oleh Nathan lalu ia sempat mengingat sesuatu. "Ohya tuan muda, bukankah jalan yang anda maksud itu mengarah pada kawasan para preman?" tanya Hardi seketika membuat Nathan menoleh padanya.


Tatapan Nathan membuat jantung Hardi berdetak hebat.


Glekk


Bahkan Hardi menelan ludahnya seakan nyangkut di tenggorokan akibat tatapan itu mengarah padanya.


"Lalu kenapa kalau kawasan preman? apa kau takut pada mereka? entah mengapa instingku ingin ke daerah itu," katanya pula yang terdengar penuh tekad lalu Hardi tampak menggaruk kepalanya.


"Bu -bukan begitu maksud saya tuan karena setahu saya daerah itu memang tidak pernah di lewati oleh orang-orang dan sudah pasti tuan besar tidak ada di sana," imbuhnya dengan sedikit meyakini Nathan.


"Kan sudah aku katakan instingku mengarah ke jalan itu, Hardi kau ikuti saja apa yang aku perintahkan jangan banyak protes!" tegasnya berkata demikian membuat Hardi terdiam tak berkutik lagi.


"Ba -baik tuan muda," turutnya dengan anggukkan kepala lalu ia kembali pada posisinya sambil menepuk jidatnya sendiri berulang kali karena ia merasa sudah beraninya menentang bos mudanya itu.


Ded sekilas melirik pada Hardi yang beraninya berbicara demikian sehingga ia hanya bergeleng kepala setelah mendengarnya namun ia masih tetap fokus menyetir dengan sesekali melihat pantulan kaca di dekatnya yang mengarah pada Nathan karena Ded seolah bisa merasakan kegelisahan yang tampak jelas dari balik wajah Nathan walau sebenarnya tidak banyak orang yang bisa menyadari hal itu sebab Nathan sangat pandai menyimpan sesuatu supaya orang lain tak melihat sisi lemahnya.


Lajuan mobil semakin dekat dengan arah persimpangan lalu Ded membelokkan setir mobilnya ke arah kanan secara perlahan.


Perjalanan menuju jalan yang di tuju tinggal beberapa kilometer dari arah simpang sehingga Ded sesekali melihat suasana yang benar-benar terasa sepi bahkan mobil dapat di hitung apalagi motor tidak ada yang berani melewatinya di tambah pejalan kaki juga yang menaiki sepeda mereka rela memotong jalan asal tidak melewati jalan sepi tersebut sebab para preman jika melihat mangsanya sudah pasti di sergap dan berani merampas secara kekerasan namun sekitaran wilayah situ belum melaporkan apapun karena tak ingin berurusan dengan para preman itu.


Tampak pula Nathan sesekali melihat jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya itu seakan ia merasa sudah lama duduk di bangku mobilnya belum juga sampai.


CKIIIITTTT


Bugh


"Aduh!" desis rasa sakit terdengar jelas.


Hardi juga Nathan terhantuk akibat mobil berhenti secara mendadak.


"Ded! kenapa kau selalu mengerem tiba-tiba? kau ingin aku cepat mati di mobil ini?" berang Nathan yang teramat kesal karena Ded suka mengerem mobil secara mendadak bahkan ia mengelus dahinya akibat terhantuk kursi belakang tempat duduk Ded begitupula dengan Hardi yang melirik dari samping ke arah Ded yang terlihat menatap ke depan tanpa berkata apapun.


"Ma -maafkan saya tuan bukan begitu maksud saya," jawab Ded pula yang langsung menoleh ke arah belakang dengan bermohon ke arah Nathan. "Coba tuan lihat ke arah sana," setelah ia berkata demikian lalu Ded menunjuk lurus ke depan.


"Itu tuan lihatlah ada dua orang yang sedang berdiri dan di depannya seorang gadis sepertinya seusia tuan," katanya lagi yang masih terus menunjuk sehingga Nathan melebarkan matanya seketika.


Gadis itu bukannya... Batin Nathan sesaat lalu ia mengingat wajah seseorang karena apa yang dia lihat saat ini terasa familiar.


"Loh, loh! tuan, gadis itu di sekap lihatlah dia sudah di bawa oleh mereka," riuh Ded lagi terdengar heboh.


Hardi terus menatap dari jauh seketika ia melotot. "Tuan yang tergeletak itu seperti tuan besar, ya! itu tuan besar tidak salah lagi," antusias Hardi juga ikut heboh dengan berteriak.


"Ikut aku keluar sekarang!" perintah Nathan yang langsung keluar dari mobil sehingga ia meninggalkan ke duanya di belakang lalu mereka pun menyusul Nathan dengan berlarian serentak.


Sesampainya Nathan di tempat kejadian ia langsung melebarkan matanya karena apa yang ia lihat ternyata itu kakeknya sendiri.


Nathan pun menumpukan tubuhnya di kedua tumitnya lalu ia meletakkan kepala sang kakek di pahanya. "Kek, bangunlah... Kakek ayo sadarlah kek!" tampak ia terus menyadarkan sang kakek dengan menepuk pipi kakeknya perlahan berulang kali namun belum juga tersadar serta ia melihat dahi kakeknya terlihat bekas memar.


"Hei apa yang kalian lihat? ayo cepat bawa kakek ke mobil!" semburan Nathan membuat keduanya tersentak.


"Ba -baik tuan," keduanya langsung sigap meraih tubuh Panji dengan membawanya hingga mengarah ke mobil namun di saat Nathan ingin berlalu pergi terlihat olehnya bercak darah mengarah lurus ke arah jalan lain akan tetapi ia berlari ke arah mobil terlebih dulu sebab ia ingin mengetahui kondisi kakeknya.


Sesampainya di mobil terlihat sang kakek sudah di baringkan lurus oleh Ded juga Hardi ke bangku belakang setelah itu Nathan mencoba menyadarkan sang kakek kembali namun masih belum juga terbangun sehingga ia mengingat sosok gadis ketika di bawa oleh para preman tadi lalu ia keluar lagi dari dalam mobil.


"Ded, Hardi kalian kunci mobilnya jangan lupa hidupkan AC terlebih dulu lalu ikut aku sekarang!" titah Nathan pula dengan cepat ia melangkah balik lagi ke arah darah tadi.


Ded dan Hardi secara bergegas mengikuti perintah Nathan lalu mereka pun menyusul ketertinggalan dengan melangkah lebih cepat.


"Ada apa tuan balik lagi?" tanya serentak pula setelah mereka sudah berdiri di sebelah Nathan.


"Kalian lihat ini bekas darah dan kau tadi bilang gadis itu di bawa pergi oleh mereka jadi ikuti aku karena wajah gadis tadi sangat tidak asing bagiku dan kita harus mengikuti kemana arah darah ini, ayo cepat!" timpal Nathan yang masih melihat ke arah darah tersebut lalu ia pun berjalan perlahan dengan di ikuti ke duanya.


Ternyata darah itu mengarah pada sebuah lorong jalan buntu lalu Nathan terus berjalan ke arah lorong tersebut dan mendapati sebuah pintu serta terdengar olehnya suara orang terkekeh dari dalam.


"Ada apa tuan?" tanya ke duanya yang sedang terheran melihat Nathan melekatkan telinganya pada pintu tersebut.


"Ssssttt jangan berisik," kata Nathan dengan pelan.


Yeap, dari sinilah awal pertemuan Panji Faldo dengan Khanza Alesha karena sudah di bahas pada chapter 17 sebelumnya.


^^^To be continued^^^


^^^๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^


NANTIKAN CERITANYA DI AKU KHANZA