Aku, Khanza

Aku, Khanza
Aksi Di Luar Nalar?


...♡♡♡...


"Ta... "


Mulut Khanza seolah terhenti ketika ia melihat Shopia menekan leher Taro secara kuat bahkan wajah Taro semakin memerah serta urat-urat di wajahnya keluar di saat bersamaan apalagi koran yang sebelumnya di bawa oleh Taro sudah berserakan di aspal jalan.


"Kemarilah, apa kalian tak kasihan dengan teman kalian ini? lihatlah wajahnya yang sudah meminta ampun padaku, baiklah aku akan mengampuninya asal kalian mendekat padaku! hahah, ayo kesini anak-anak pintar," ocehan Shopia serta gelak tawanya terlihat seperti psikopat di mata Khanza.


Taro tak ada hentinya memukul-mukul tangan Shopia yang semakin menjadi menekan lehernya bahkan kedua matanya sesekali ingin terpejam sebab air mata sudah keluar begitu saja karena menahan sakit yang sangat luar biasa di rasakan oleh Taro apalagi arah jalan yang di ambil oleh Khanza sangat sepi sebab banyak yang beraktifitas di luar rumah.


"Aku mohon lepaskan dia, aku mohon."


Langkah Khanza kini mulai maju setapak demi setapak sembari berbicara pada Shopia namun Zizi sudah kian menahan lengan Khanza untuk tidak mendekati Shopia sehingga sang kakak menoleh pada adiknya yang sedang menatap ke arah Taro entah apa yang di lakukan oleh Zizi saat ini wajahnya penuh amarah karena temannya di sakiti tepat di depan matanya.


Kini Zizi maju selangkah dari kakaknya dan sang kakak di biarkan berdiri tepat di belakang badannya sehingga Khanza merasa bingung kenapa Zizi malah maju sedangkan dirinya di belakang. "Apa yang ingin kau lakukan Zizi? kakak mohon kau jangan mengambil tindakan yang ceroboh biar kakak yang menghadapinya," cakap Khanza pula berbalik menahan lengan Zizi serta melirik dari arah samping lalu Zizi tak berapa lama menoleh ke arah kakaknya dengan melontarkan senyuman kecil di wajahnya.


"Kakak di belakangku saja, karena untuk kali ini aku lah yang akan melindungi kalian. Lagipula kak Taro juga sudah banyak membantu kita jadi sekarang aku punya ide saat ini," bijaknya Zizi mengatakan hal demikian seolah Khanza sangat tersentuh di buat oleh anak se-kecil itu betapa tidak kini Khanza malah terdiam di saat adiknya sudah mulai tumbuh sebagaimana mestinya.


"Baiklah kau harus berhati-hati Zi," pesan singkat dari sang kakak kemudian pegangan tangan mereka pun terlepas.


"Kakak tidak perlu cemas, percaya saja padaku."


Ucapan itu terdengar samar di telinga Khanza sebab ketika Zizi berbicara ia telah menatap Shopia yang tersenyum lebar melihat mereka yang sedang berbincang tanpa dia ketahui.


Ya allah, lindungi adik ku dari wanita jahat itu... Batin Khanza begitu lirih berkata di dalam benaknya sehingga ia memejamkan mata tampak pasrah apapun yang terjadi ia sudah menyerahkan semuanya pada sang pencipta.


Zizi tak ada keraguan melangkah sedikit demi sedikit ke arah Shopia bahkan dirinya tak ada rasa takut lagi setelah melihat Taro menahan sakit seperti itu.


Sesampainya Zizi tepat di hadapan Shopia kini ia memberikan senyuman lebarnya benar-benar tanpa rasa takut ia melakukan hal demikian.


Tangan Shopia juga sudah berada di kepala Zizi dengan mengelusnya sesekali bahkan sang kakak merasa bingung pada adiknya sebab siapapun orangnya dia tak akan pernah mau kepalanya di sentuh kecuali Devan seorang. "Ternyata kau anak yang pintar dan anak yang penurut, apa kau ingin pulang dengan nenek?" tanya Shopia pula secara ramah namun Zizi meresponnya dengan biasa saja.


"Aku sudah ada di sini jadi lepaskan lah kak Taro sekarang," lontaran itu terdengar memerintah sehingga Shopia menjadi tertawa kecil mendengarnya sebab baru ini dia di perintah oleh anak se-kecil Zizi.


Pattss


Shopia menangkap rambut Zizi sehingga ia menjambaknya secara kuat namun sebelah tangannya masih berada di leher Taro.


"Aghh... Ssshh," desis rasa sakit kini sangat terasa oleh Zizi karena besarnya telapak tangan Shopia menggenggam seluruh rambutnya.


"Zizi... " Teriakan Khanza pecah di saat ia melihat adiknya terlihat menahan sakit akan tetapi ketika ia ingin melangkah maju Zizi masih sempatnya memberikan isyarat dari belakang dengan telunjuk tangannya bersamaan ia sedang memegangi koran sehingga telunjuknya itu bergerak sesekali untuk mengatakan tidak boleh mendekat, begitulah yang tampak di mata Khanza makanya ia berhenti sembari bungkuk memegang kedua lututnya mengatur nafasnya yang terasa mulai sesak.


"Kau tak perlu khawatir begitu karena aku hanya ingin sedikit memberikan pelajaran pada adik mu saja! dia sudah beraninya memerintahku barusan," kekehan tawanya masih terdengar jelas di saat ia berkata demikian bahkan santainya dia menatap ke arah Khanza tanpa rasa bersalah.


"Aku sudah bilang lepaskan kak Taro sekarang juga!" jeritan Zizi sangat nyaring dengan mengulangnya kembali namun ia berkata demikian sembari menahan sakit yang semakin terasa baginya.


"Apa? hahah, aku tak mendengarnya coba ulangi?" tawa kecil dari mulut Shopia tepat di sebelah telinga Zizi padahal suara itu sungguh melengking namun dia seolah tak mendengarnya.


Syuutt


Greeettt


"Akkkhhhh!"


"Lepaskan aku anak sialan, kurang ajar kau! Aakh akkhh!"


Bugh


Duakkh


Yeap, Shopia merintih kesakitan akibat Zizi menggigit kuat lengan tangannya di saat dirinya lengah dan di situlah kesempatan Zizi melakukan hal demikian bahkan Taro terlepas dari jeratan tangan Shopia sehingga Taro terhempas begitu saja sebab Shopia sedang memukuli kepala Zizi berulang kali akan tetapi Zizi masih menggigitnya lebih kuat lagi.


"Akkhhh, lepaskan aku! lepaskan anak sialan, akhhh!"


Bukkh


Duaakhh


Pukulan dari tangan Shopia semakin keras sebab Zizi msih menggigitnya sekuat tenaganya.


Pattss


Braakk


"Aghh!"


Kini Zizi memukul wajah Shopia menggunakan koran yang masih berada di tangannya itu kemudian Shopia terjatuh namun belum sampai di situ saja.


Bruaak


Debughh


Kaki Zizi melayang tepat ke arah leher Shopia, yeap! di saat ini Shopia malah terpental serta terhempas jauh dari mereka hingga pingsan seketika.


"Ma! mama... "


Suara Kino terdengar dari jarak yang jauh dari mereka bahkan Khanza tak percaya dengan apa yang dia lihat barusan sehingga ia terpelongo melebarkan matanya ketika melihat aksi heroik adiknya itu.


"Ayo kak Taro! jangan melamun kita harus cepat pergi dari sini, ayo!" desakan Zizi membuat Taro tersadar dari lamunannya sebab ia juga tak menduga Zizi bisa berfikir seperti itu untuk menyelamatkan dirinya.


Sementara koran masih berserakan namun Zizi menghentikannya sebab tak ada waktu lagi karena Kino sudah semakin dekat makanya Zizi langsung menarik lengan Taro serta membawanya berlari ke arah Khanza.


Sekarang mereka bertiga berlari secepat mungkin menjauhi Kino yang sudah tertinggal di belakang mereka.


"Dasar anak gembel... Akan ku bunuh kalian?!" amukan Kino terdengar sampai jauh sebab ia melihat ibunya sudah tak sadarkan diri.


"Ma, ayo bangunlah... Ma! bangun sadar lah ma!" panggilan Kino berulang kali tak juga terdengar oleh ibunya bahkan ia sesekali menepuk kedua pipi ibunya secara perlahan apalagi ia juga melihat lengan ibunya yang sudah memar bekas gigitan sehigga mengeluarkan tetesan darah segar sebab gigi Zizi memiliki bentuk yang runcing bagian depannya.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Lemahnya seseorang bukan karena dia takut akan tetapi ia ingin belajar menguatkan diri ketika dirinya sudah bersiap untuk mengangkat senjata ❤️