
...♡♡♡...
Sepulang dari pasar baik bunda Amy juga Khanza langsung ke arah dapur untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan mereka masak sementara pak Fahri dan Zizi masih berada di depan halaman hanya berdua saja karena Puput sudah berada di dalam kamar sedang tertidur pulas di atas kasurnya.
Dapur belakang.
"Uma, untuk apa ya wanita tadi meminta alamat rumah ini?" tanya Khanza membuka suara pula sedangkan bunda Amy juga berfikir hal yang sama namun tangannya sibuk memotong sayuran.
Khanza sedang mengupas bawang serta bahan bumbu lainnya dan setelah semuanya siap bunda Amy pun meraciknya pula untuk ia tumis seusai semua bumbu ia haluskan.
"Uma juga tidak tahu nak karena tidak pernah ada orang yang meminta alamat rumah ini," balas bunda Amy masih terlihat sibuk dengan menumis bumbu di wajan.
"Khanza merasa trauma uma semenjak kejadian yang menimpa Khanza beberapa hari lalu," katanya pula hingga tampak bahwa dirinya benar masih merasa tidak aman setelah kejadian kemarin ketika Juna menjebak dirinya.
"Nak, ada uma dan abah di sini jadi kau jangan merasa takut karena tidak ada seorangpun yang berani berbuat hal buruk pada kalian berdua," lontar bunda Amy sejenak ia menoleh dengan memberi senyuman tipis di bibirnya sembari terus menggerakkan spatula di tangannya.
"Iya uma saat ini memang Khanza merasa lebih sedikit nyaman karena ada uma dan abah di samping kami," turut Khanza membenarkan perkataan dari bunda Amy barusan hingga terlontar lah senyuman bahagia di wajahnya.
"Nah memang harus begitu jadi jangan lagi merasa cemas selagi ada uma dan abah," hikmad bunda Amy lagi sehingga Khanza menjadi lebih sedikit tenang serta membuang perasaan buruk dalam hatinya.
Sepanjang mereka berdua berbincang berjalan pula waktu hingga siang hari pun telah tiba serta adzan berkumandang pertanda fardhu dzuhur sudah masuk namun di karenakan hari jum'at setiap lelaki wajib ke mesjid mendengarkan ceramah dari salah satu ustadz dan termasuk pak Fahri sendiri yang akan mengisi ceramahnya.
"Buk kami pergi ke mesjid dulu sudah waktunya sholat jum'at," tegur suaminya dari pintu dapur sehingga keduanya pun menoleh pada sumber suara.
Untuk pertama kalinya Zizi ikut sholat jum'at dengan pak Fahri makanya mulai dari bunda Amy juga Khanza merasa terkagum karena Zizi sangat tampan menggunakan baju koko serta sebuah kopiah menutupi kepalanya begitu pula dengan pak Fahri terlihat rapi memakai peci menutupi kepalanya pula.
"Masya allah, kalian berdua gagah pisan..."
Riuh bunda Amy yang tampak sedang berjalan menyahut teguran dari suaminya itu setelah mematikan kompor gasnya.
"Ibuk terlalu memuji yang gagah itu anak kita ini buk," kata suaminya dengan memegang kepala Zizi serta melontarkan senyuman kecil.
Zizi menoleh ke arah pak Fahri mendongakkan wajah serta membalas senyuman riang di wajahnya.
Alhamdulillah, aku bisa melihat adikku melepaskan senyuman di wajahnya! batin Khanza yang tampak ikut merasakan suasana hangat di depannya saat ini.
"Yasudah, kami pergi dulu buk! nak, abah pergi." Tak lupa pula pak Fahri pamitan dengan Khanza yang hanya memberikan senyum di wajahnya serta anggukkan kepala.
"Iya pak, hati-hati di jalan... Zizi jangan terlalu jauh duduknya dari abah," pesan bunda Amy setelah ia berbicara pada suaminya kemudian ia menoleh ke arah Zizi pula.
"Baik uma," turut Zizi mengiyakan.
Ketika ucapan terakhir dari Zizi ia pun di pegang erat oleh pak Fahri kemudian mereka pun berlalu pergi dan bunda Amy juga melanjutkan memasak sementara Khanza memasak nasi sesuai petunjuk dari bunda Amy karena Khanza sudah berjanji akan membantu bunda Amy untuk membalas semua jasa dari keluarga pak Fahri.
"Nak, apakah kau ada keinginan untuk masuk sekolah lagi? bukankah umurmu masih belia? kalau memang kau ingin kembali sekolah uma bisa bicarakan pada abah dan berusaha supaya kau dapat pendidikan serta ilmu yang sudah tertinggal," lontaran itu membuat Khanza teringat akan dirinya yang di buang ketika itu juga sekolahnya sedang melangsungkan ujian akhir namun karena ia tak mampu melawan takdir hidupnya ia pun hanya bisa menjalani tanpa harus mengeluh.
Sejenak ia membuang nafas panjang. "Uma dan abah sudah sangat baik pada Khanza jadi untuk bersekolah lagi Khanza belum ada terfikirkan karena Khanza tak ingin terus merepotkan apalagi uma juga abah ada biaya yang selalu di keluarkan untuk kak Puput, dari itu cukup begini saja uma jangan menambah beban uma nantinya," jawab Khanza sehingga bunda Amy memasang wajah sedihnya ketika lontaran itu keluar dari mulut Khanza lalu usai ia meletakkan masakannya di atas meja ia pun bergerak ke arah Khanza sekaligus mendekap tubuh Khanza dalam pelukannya.
"Kau memang benar anak yang baik, semoga kebahagiaan terus menyertai mu nak! masalah sekolah mu uma akan berjanji ketika semua keuangan uma membaik maka uma akan memasukkan mu dalam pendidikan kembali, sabar ya nak..."
Bunda Amy memejam matanya berkata demikian sembari terus mendekap tubuh Khanza yang terasa kecil baginya mungkin karena di luaran sana Khanza kurang mendapatkan makanan bahkan ia merasa sedih karena belum bisa mewujudkan keinginan Khanza walaupun Khanza tak mengatakan kejujuran dalam hatinya tetapi bunda Amy sangat memahami dari balik sorotan kedua mata Khanza.
.
.
.
Tok
Tokk
Tok
Beberapa kali terdengar suara ketukan pintu dari luar sehingga pelukan dari bunda Amy sejenak terlepas pula.
"Tidak tahu nak, yuk kita lihat!" ajak bunda Amy sehingga ia berjalan lebih dulu sementara Khanza tampak bergerak ke arah meja makan dan menutupnya dengan tudung saji setelah beres Khanza menyusul bunda Amy dari belakang.
Klakk
Kreekk
"Assalamu'alaikum ibu," salam dari seorang wanita tepat di depan rumah bunda Amy saat ini.
"Wa'alaikumsalam, loh nona ini..."
"Siapa uma?"
Sejenak Khanza terdiam ketika wanita itu tersenyum kecil ke arahnya.
"Maaf ibu kalau saya sudah mengganggu waktunya, saya hampir salah mencari alamat rumah ibu! heheh, alhamdulilah ketemu juga." Ucapnya dengan sedikit tertawa kecil secara ramah pula ia berkata demikian.
"Iya nona, silahkan masuk!" tutur bunda Amy berbalik membalas secara ramah. "Maaf rumahnya sedikit berantakan mari silahkan duduk dulu nona," lanjut bunda Amy lagi terlihat merendah pula.
"Terimakasih ibu," balas wanita tadi lalu ia pun berjalan masuk ke dalam rumah bunda Amy.
"Uma duduk saja biar Khanza siapkan minuman," sambung Khanza ikut berbicara.
Sebelum bunda Amy bergerak ia melihat Khanza sudah berlalu pergi ke arah dapur.
Mereka berdua pun duduk di atas kursi yang telah tersedia walau tampak sederhana namun kenyamanan sudah di rasakan oleh wanita itu.
"Perkenalkan ibu sebelumnya nama saya Farah Galina saya asli orang turki tapi sudah lama membuka butik di daerah wilayah ini," ungkapnya pula serta ia berikan jabatan tangan ke arah bunda Amy.
"Ah iya, saya Amy." Menyambut jabatan tangan itu serta lontaran senyuman tipis di bibir bunda Amy.
"Maaf ibu apa sudah lama menjahit?" tanya Farah ketika ia melihat sekelilingnya ada beberapa mesin jahit serta baju-baju yang tergantung memakai hanger.
"Hampir belasan tahun saya menjahit tapi hanya kecilan saja jika ada pelanggan yang ingin bajunya di permak itulah yang saya kerjakan," jawab bunda Amy pula sedikit merendah kembali.
"Oh begitu, jadi baju yang di pakai anak gadis ibu itu juga hasil jahitan ibu?" bertanya lagi.
"Iya benar itu saya sendiri yang buatkan," turut bunda Amy mengiyakan pula.
Tap
Tapp
"Silahkan di minum tehnya uma, dan..."
Karena Khanza tak tahu harus memanggil bagaimana ia pun terdiam pula.
"Panggil saja kak Farah," sambutnya pula sebab ia melihat reaksi Khanza sedikit bingung.
"Iya kak, saya Khanza Alesha kakak boleh panggil Khanza saja," tuturnya secara sopan.
"Nama yang cantik, secantik parasnya!" lontar Farah memberi senyuman manis di wajahnya dan ketika ucapan itu terdengar oleh Khanza ia pun membalasnya.
Baik bunda Amy dan Farah kini sedang membalas senyuman ke arah Khanza pula lalu ia pun di tarik perlahan oleh bunda Amy untuk duduk di sebelahnya.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Ikatan yang kuat itu merupakan sebuah keluarga tiada yang erat kecuali tali persaudaraan ❤️