Aku, Khanza

Aku, Khanza
Keberanian Nathan...


...♡♡♡...


⚜ Pesan moral dari Khanza untuk reader setia pembacanya ⚜


Aku akan terus melangkah


Berjuang menggapai harapan


Tak perduli anggapan maupun cercaan


Terus bergerak tidak ada keraguan


Terpeleset jatuh


Tergores luka


Bangkit tuk melangkah


Tak pernah sudi untuk menyerah


Hidup itu sulit


Bagi mereka yang tidak mau mencoba


Hidup itu menyebalkan


Bagi mereka yang lemah dan berputus asa


Tetapkan tujuan untuk sebuah pergerakan


Perbanyak pikiran untuk perluas wawasan


Jangan lemah ketika terjatuh


Bangkit lagi teruskan langkah kehidupan


Agar kelak kita sampai di tempat tujuan


...❁❁❁...



Babakan ciparay jalan kartini komplek citayam raya no 43 kota kembang.


"Sepertinya ini benar nomor rumahnya tuan muda dan itulah rumah yang ingin kita masuki," imbuh Wandi pula sembari menunjuk ke arah yang dia maksud.


"Ya benar itu memang nomor rumah yang tertera di sini," balas Nathan mengiyakan dengan mengamati kembali ponsel miliknya sambil membaca alamat yang sudah ia salin dari laptop sebelumnya. "Kalian sudah mengerti yang aku katakan tadi? biar pak Wandi menyelesaikan tugasnya pada wanita itu sementara kita selesaikan tugas yang lain, apa kalian sudah paham?" tanya Nathan setelah ia menoleh ke belakang melihat secara bersamaan pada mereka berdua.


"Baiklah kami paham," jawab serentak oleh Devan maupun Amelia namun mereka berdua belum juga bertegur sapa setelah beranjak dari stan makanan sebelumnya.


"Oke, ayo kita keluar!" ajak Nathan terdengar tak sabaran. "Ohya pak sudah ingat apa yang harus di lakukan?" tanya Nathan saat ia masih memegang pintu mobil sebelum membukanya.


"Saya sudah mengerti tuan muda," turutnya pula anggukan kepala sembari meraih handsfree bluetooth pemberian Nathan dari saku jas yang ia kenakan tersebut kemudian ia memasang di telinganya begitu pula pada Nathan supaya obrolan mereka tersambung secara otomatis.


"Rileks saja pak jangan terlalu tegang," tutur Nathan memberi kepercayaan penuh pada Wandi supaya rasa gugup itupun menjadi berkurang dan di saat Wandi menatap ke arah Nathan ia merasa lebih sedikit tenang karena sikap Nathan yang sangat santai makanya Wandi lebih percaya dengan dirinya kalau ia bisa menjalankan tugas yang sudah di berikan Nathan padanya.


"Baik tuan muda," angguknya dengan tegas berkata demikian kemudian Wandi secara sigap keluar dari dalam mobil sembari merapikan pakaiannya.


Nathan pun tersenyum lebar ketika melihat Wandi sudah merasa lebih rileks tidak seperti sebelumnya selalu menyeka keringat di dahi sebab itu menandakan rasa gugup seseorang lebih besar namun untuk saat ini Nathan melihat Wandi sudah merasa santai, begitulah pandangan Nathan sekarang.


Prok


Prok


Terdengar tepukan tangan dari Amel yang sedang melihat Wandi melenggang ke arah rumah Shopia saat mereka semua sudah keluar dari mobil. "Wow! kau hebat Nathan, bahkan kau bisa merubah penampilan seorang supir menjadi seperti itu! sangat emezing sampai aku hampir tak mengenalinya tadi."


Keriuhan Amel pula sehingga ia tercengang serta tak hentinya bertepuk tangan.


"Itu sudah pasti, kalau sampai sedikit saja terlihat curiga habis lah kita," balas Nathan sembari melangkah ke arah bagasi belakang mobil lalu ia pun membukanya perlahan. "Kalian berdua kemarilah," panggilnya pula setelah bagasi tersebut terbuka lebar.


Tak berapa lama Devan juga Amel berjalan mendekati Nathan secara bersamaan serta mereka berdua melihat Nathan sudah membawa semua perlengkapan yang akan mereka gunakan nantinya.


Terdapat Single Braid Rope sebuah tali besar yang berbentuk kepangan bahkan sebagian sisi-sisinya sengaja di berikan celah, adapula sarung tangan, juga pengait besi untuk di lekatkan pada ujung tali tadi.


Tampak Nathan meraih sepasang sarung tangan untuk ia kenakan kemudian ia mengambil tali tersebut dan membawanya ke arah lain supaya memudahkan dirinya memasang pengait tersebut.


Seusai beberapa menit Nathan memasang pengait di ujung tali lalu ia menoleh pada keduanya yang asyik memperhatikan cara kerja Nathan yang begitu sigap. "Kenapa kalian berdua malah bengong? ayo cepat pakai sarung tangan kalian!" tegas Nathan sehingga keduanya kaget saat Nathan menegur barusan.


"Ah iya."


Secara kompak keduanya meraih sarung tangan tersebut dan memakainya dengan cepat.


Nathan hanya bergeleng kepala saja dan membuang nafas kasar serta ia berjalan perlahan hingga berhenti di balik belakang mobil sambil mengintip situasi sekeliling mereka sembari menatap ke arah Wandi yang sudah masuk ke pekarangan rumah Shopia.


Awalnya mereka bisa masuk ke komplek tersebut dengan menggunakan tanda pengenal milik Wandi hingga meninggalkan kartu STNK serta SIM mobil milik Panji makanya mereka bisa memasuki wilayah tersebut sebab penjagaannya sangatlah ketat.


"Apa kita sudah bisa bergerak sekarang?" tanya Devan tepat berada di sebelah Nathan.


"Ssstt, kita biarkan dulu pak Wandi melakukan tugasnya, jika dia sudah masuk ke dalam rumah wanita itu lalu kita bisa langsung bergerak," imbuh Nathan secara berbisik sebab ia tak ingin rencana ini sampai gagal makanya ia yang menjadi pemandu untuk mereka.


Keduanya anggukan kepala serentak dan menatap lurus ke arah Wandi.


Ting


Tong


Ting


Tong


Wandi kini sudah tepat berada di depan rumah Shopia dengan membunyikan bel berulang kali namun masih belum ada sahutan dari dalam makanya Wandi mengulang kembali menekan bel tersebut.


Klak


Kreek


Beberapa saat pintu pun terbuka dengan lebar dan yang membukanya benar seorang wanita begitu di kenal oleh Nathan.


Itu dia, wanita yang bernama Shopia! batin Nathan berkata demikian sembari menatap dengan sorotan mata tajamnya seolah aura dingin terasa di pundak Devan juga Amel.


^^^To believe continued^^^


^^^🍂 aiiWa 🍂^^^


...Kutipan :...


Rasa tekad yang kuat di dasari dengan keyakinan hati ❤️