
~ Masih seputar memory 3 tahun ~
Gluk Gluk
Bugh
"Hahh lega banget rasanya, ini semua karena kamu Devan! kalau kamu bantuin aku jawab itu soal resek kita tidak mungkin akan kena hukuman, dasar Devan! ngeselin banget sih Lo!" repetan Amelia sampai terdengar seluruh orang yang ada di dalam kantin saat itu.
"Mel udah dong, apa kamu tidak malu di dengar oleh teman yang lain?" tanya Alsha secara berbisik.
Devan malah menutup kedua telinganya saat Amelia berteriak tepat duduk di sebelahnya.
"Makanya kamu itu kalau guru sedang berbicara jangan asyik liat tuh si Kino jadi lelet begini, kan? haduh amsyong lihat kamu Melia!" gerutu Devan berbalik merepeti Amelia dengan menoyor jidat si Amel.
"Apa -an sih Lo! enak saja karena si Kino, aku memang tidak bisa merespon cepat apa yang di jelaskan oleh guru resek itu!" teriaknya lagi hingga seluruh orang menoleh pada Amelia.
"Ssst bisa diam tidak Amelia? haduh, kita ini sedang berada di kantin sudah ah! kalau kalian masih ribut begini aku bisa cari tempat lain," celetuk Alsha pula mulai jengkel melihat kedua temannya itu.
"Tapi Al," panggilan serentak keduanya.
Alsha bangkit dengan membawa mangkuk berisi soto ayam yang masih begitu panas.
Tiba-tiba
Bruk
Prang
"Haaahh..." Devan dan Amelia terpelongo sesaat melihat tabrakan itu.
Semua mata tertuju pada mangkuk yang jatuh dari tangan Alsha.
"Aah, Ssshh." Rasa perih mulai terasa setelah tabrakan itu.
Alsha mengibaskan jemari tangannya yang terkena soto panas tadi.
Devan bangkit dengan sigap.
"Apa kamu tidak memiliki mata? tidak bisa melihat orang sebesar ini sedang lewat?" senggak Nathan yang sudah saling bertabrakan dengan Alsha barusan.
"Ma -maaf aku tidak sengaja maafkan aku," dengan sigap Alsha meraih tisu di atas meja yang sudah tersedia ia juga tidak memperdulikan rasa panas yang ada di tangan kirinya itu.
"Alsha, lihat tanganmu sudah seperti ini! biar aku saja yang membersihkan bajunya," kini Devan mulai ambil tindakan dengan menangkap tangan kanan Alsha yang mencoba membersihkan baju Nathan.
Seketika Nathan juga menangkap tangan kiri Alsha hingga melihat dengan alis mata yang bertautan.
"Cukup parah, ikut denganku!" tariknya pula tanpa mementingkan pendapat yang lain.
Devan terdiam seribu bahasa karena Alsha di tarik tanpa basa basi.
Begitu juga dengan Amelia yang hanya menganga tidak ada respon sama sekali bahkan matanya berulang kali berkedip seolah melihat pangeran yang jatuh dari atas langit.
"I -itu," seketika Amelia menunjuk ke arah dua orang yang sudah pergi dari hadapannya.
"Mel..." Panggilan Devan sekali tidak di dengar oleh Amelia.
"Woi.... Amelia Sari!" teriaknya tepat di telinga Amel.
"Aaah, apa sih? pekak telinga gue ini, parah banget Lo ya! kalau gue tidak punya telinga bagaimana mau belajar? mau Lo gantikan tuh telinga Lo buat gue!" sangking gerutunya ia menghembus kedua telinganya karena teriakan dari Devan.
"Noh! ganti sama telinga kancil biar pinter dikit," kekehnya pula langsung meninggalkan Amelia di tempat untuk menyusul Alsha.
"Eh kok aku di tinggal sih! tunggu dong," berteriak sambil mengambil batagor yang belum sempat ia makan karena asyik merepet saja.
Dengan berlari mengejar Devan ia sambil berteriak. "Buk! hitung saja semuanya nanti saya akan bayar pulang sekolah," lambaian tangannya sambil mencomoti batagor dan memasuki ke dalam mulutnya.
Dan si Ibuk tadi hanya bergeleng kepala melihat tingkah konyol Amelia, apalagi authornya yang buat 😂 lebih konyol lagi🙈
Kita lanjutkan.
.
.
.
Ruang UKS
Puk
Alsha duduk di sebuah tempat tidur yang sudah tersedia dalam ruangan tersebut.
"Kau tunggu saja di sini, jangan kemana-mana!" pesan Nathan dengan tegas dan bergerak untuk mengambil kotak p3k.
...........
Apakah kisah cinta akan tumbuh dari sini❤️ ikuti terus ya jalan cerita mereka tetap stay di 'Aku, Khanza' jangan sampai ketinggalan keseruan lainnya.❤️
Yang penasaran dengan visual masing-masing karakter harus sabar ya🤭 karena othor masih memilih visual paling bagus untuk mereka🥰🤩😍
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^